LANGIT7.ID–Jakarta; Arab Saudi melontarkan kecaman keras terhadap Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir, yang kembali memicu kontroversi dengan mendatangi kompleks Masjid Al-Aqsa pada Senin (27/5). Aksi ini dinilai sebagai bentuk provokasi yang memperkeruh konflik Israel-Palestina dan melanggar hukum internasional.
Melalui laporan resmi Saudi Press Agency (SPA), Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyebut kunjungan tersebut sebagai "penyerbuan" yang dilakukan oleh pejabat Israel bersama para pemukim ekstremis, dengan perlindungan penuh dari pasukan pendudukan.
Baca juga: Menteri Israel Terobos Masjid Al-Aqsa Saat Hari Yerusalem, Dunia Arab Murka"Kerajaan Arab Saudi mengecam keras tindakan penyerbuan kompleks Masjid Al-Aqsa oleh pejabat dan pemukim Israel yang dikawal militer penjajah," bunyi pernyataan resmi tersebut.
Saudi juga mengutuk keras pelanggaran berulang terhadap kesucian tempat ibadah umat Islam itu dan menyebutnya sebagai tindakan brutal yang mencoreng nilai-nilai kemanusiaan. Mereka menyerukan komunitas internasional agar segera menindak tegas otoritas Israel atas semua pelanggaran yang terus terjadi di wilayah pendudukan, termasuk Yerusalem Timur.
"Kerajaan menegaskan penolakan total terhadap segala tindakan yang bisa merusak status historis dan hukum Kota Yerusalem dan tempat suci di dalamnya," lanjut pernyataan itu. Saudi juga menegaskan pentingnya menjaga Masjid Al-Aqsa sebagai simbol identitas Palestina dan situs sakral umat Islam.
Sikap senada disampaikan Yordania, yang turut mengecam kunjungan Ben-Gvir. Aksi kontroversial itu dilakukan bertepatan dengan peringatan “Hari Yerusalem” di Israel, yang memperingati dikuasainya Yerusalem Timur pada perang Arab-Israel 1967.
Kunjungan ini bukan yang pertama. Sejak kabinet sayap kanan pimpinan Benjamin Netanyahu terbentuk akhir 2022, Ben-Gvir diketahui telah beberapa kali memasuki kompleks Al-Aqsa, dan setiap kunjungannya selalu memancing reaksi keras dunia internasional.
Masjid Al-Aqsa merupakan situs tersuci ketiga dalam Islam, namun juga diklaim oleh pemeluk Yahudi sebagai Temple Mount—lokasi Bait Suci Kedua yang dihancurkan Romawi tahun 70 Masehi.
Secara resmi, Israel menerapkan aturan status quo, di mana warga Yahudi dan non-Muslim boleh berkunjung ke kompleks tersebut pada waktu tertentu, namun dilarang melakukan ibadah di sana. Meski begitu, dalam beberapa tahun terakhir makin banyak kelompok ultranasionalis yang melanggar aturan tersebut, termasuk Ben-Gvir yang secara terbuka berdoa di lokasi itu pada 2023 dan 2024.
Ketegangan ini pun kembali menguatkan isu penjajahan Israel atas Yerusalem dan memperburuk kondisi warga Palestina yang masih terus berjuang mempertahankan hak atas tanah air dan tempat suci mereka.
(lam)