LANGIT7.ID, Jakarta - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berupaya untuk terus menggairahkan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Saat ini, Kemenparekraf berfokus pada desa wisata seiring dengan upaya peningkatan kompetensi SDM pariwisata dan ekonomi kreatif.
Deputi Bidang Sumber Daya Kelembagaan Kemenparekraf, Wisnu Bawa Tarunajaya mengatakan, pihaknya berencana menghadirkan
revenge tourism, akibat hampir dua tahun ini, gairah sektor wisata kian lesu. Untuk itu, ia menekankan selain destinasi, SDM juga perlu dipersiapkan guna menyambut kunjungan wisatawan kembali.
Terlebih sektor pariwisata dan ekonomi kreatif diproyeksikan akan menjadi tulang punggu penghasil devisa bagi tanah air.
“Pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan akan menjadi tumpuan ke depan. Khususnya di era adaptasi kebiasaan baru pasca-pandemi COVID-19. Sehingga dibutuhkan kebijakan tepat manfaat, tepat sasaran, dan tepat waktu. Pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu kuncinya,” ujarnya, dalam keterangan tertulis, Kamis (30/09).
Baca juga: Sandiaga Ingatkan Pentingnya Protokol Kesehatan Demi Kebangkitan PariwisataSaat ini, pihaknya mengaku telah menyiapkan uji kompetensi untuk SDM pariwisata di tanah air. Kesempatan ini diberikan kepada industri pariwisata, yang akan menentukan subsektor tertentu yang akan didahulukan untuk kebutuhan sertifikasi.
Diketahui, program sertifikasi SDM pariwisata akan dilakukan Kemenparekraf untuk 2000 orang. Di dalamnya akan terbagi tiga lokasi, yakni Danau Toba, Sumatera Utara; Borobudur, Prambanan, dan Yogyakarta; serta Lombok.
“Kemenparekraf memastikan daerah penyangga lain akan mendapat program serupa. Jadi wisatawan yang datang kan bukan diam di Mandalika saja misalkan. Mereka pasti akan ke destinasi lain juga, yang saat ini paling mendesak untuk disertifikasi terkait dengan
hospitality," katanya.
Sementara untuk SDM di hotel dan restoran, kata dia, sudah memikiki cukup kesiapan. Namun, pemandu wisata masih perlu meningkatkan kapasitasnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf, Vinsensius Jemadu mengatakan, desa wisata dapat menopang perekonomian Indonesia. Namun, itu bisa dilakukan jika desa wisata menjadi destinasi wisata yang berkembang dan berkelanjutan.
Salah satu upayanya, lanjut Vinsensius, dengan mewujudkan destinasi wisata berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan. Sehingga mampu mendorong pembangunan daerah, kesejahteraan masyarakat, dan ajang promosi potensi desa wisata ke wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
"Komitmen Kemenparekraf untuk mengembangkan desa wisata, yakni dengan program sertifikasi desa wisata. Pada 2020, sebanyak 16 desa wisata telah diberikan sertifikasi. Tahun ini, jumlahnya naik menjadi empat kali lipat," kata dia.
Baca juga: Napak Tilas Perjuangan Pangeran Diponegoro di Desa Wisata TinalaSetidaknya, pada tahun ini terdapat 60 desa wisata yang akan disertifikasi oleh Kemenparekraf. Potensi desa wisata juga tercatat dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021, di mana sebanyak 1.831 peserta yang mendaftar dari 34 provinsi di Indonesia, melebihi ekspektasi awal yang hanya sekitar 700 peserta.
Vinsensius menjelaskan, produk wisata juga memiliki andil dalam membuat desa wisata semakin berkembang. Pengemasan produk wisata menurutnya perlu didukung oleh sejumlah fasilitas.
Di antaranya ketersediaan homestay, rumah makan, kafe, dan pusat informasi. Kemudian sarana komunikasi yang baik, jaringan sinyal yang stabil, serta tersedianya air bersih dan listrik.
“Pengembangan desa wisata secara fisik tentunya harus diselenggarakan dengan pengembangan produk wisata non-fisik seperti budaya dan kearifan lokal masyarakatnya,” tambah Vinsensius.
(zul)