LANGIT7.ID - , Jakarta - Di masa pandemi COVID-19 yang belum juga usai ini memakai masker dalam aktivitas harian menjadi hal yang lumrah. Masker menjadi salah satu protokol kesehatan di masa pandemi yang harus dipatuhi pemakaiannya.
Hanya saja, ada efek pemakaian masker yang ternyata bisa merusak lapisan kulit terluar. Hal tersebut disampaikan dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin dari Universitas Indonesia, dr. Arini Astasari Widodo, Sp.KK dalam konferensi pers merek kosmetik dari Perancis.
Dokter Astari mengingatkan untuk tidak mengenakan masker yang renggang karena bisa merusak lapisan skin barrier.
"Kalau pakai fabric mask jangan yang renggang seperti linen kan renggang karena kalau yang renggang lebih bertekstur, lebih tergesek-gesek kulitnya, barrier-nya akan rusak," kata dia di sela acara daring yang digelar merek kecantikan asal Prancis, ditulis Jumat.
Selain itu, dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) ini juga menyarankan untuk memakai masker dengan ukuran pas artinya tidak terlalu ketat atau longgar.
Arini menyarankan untuk membersihkan wajah terlebih dulu dan mengaplikasikan serum wajah untuk meningkatkan barrier kulit. Ditambahkan Arini, jangan lupa untuk mengganti masker minimal empat jam sekali.
Menurut Arini, pemakaian masker bisa menyebabkan microbiome kulit berubah. Microbiome berperan penting dalam barrier kulit sehingga membuatnya tampak sehat dan bercahaya, mengurangi kemungkinan Anda terkena eksim, jerawat dan semua peradangan kulit.
"Biasanya dapat ventilasi udara, microbiome bercampur tentu kalau ngomong ada ludahnya, napas dan lain sehingga microbiome berubah. Kita harus kembalikan lagi," kata dia.
Baca juga : Tetap Tampil Cantik dengan Eye Makeup Meski BermaskerSaat microbiome tak seimbang, efek baru akan muncul bila terjadi kerusakan pada skin barrier yang ditandai kulit terasa seperti ketarik, dan perlahan muncul iritasi, kulit menjadi merah-merah dan gatal. Maskne atau jerawat dan iritasi akibat pemakaian masker merupakan salah satu kondisi akibat ketidakseimbangan ini.
"Orang dengan bakat seperti eksim atopik, penyakit psoriasis kalau microbiome enggak seimbang akan semakin parah atau kambuh. Penting banget sehari-hari harus merawat microbiome," kata Arini.
Demi mengembalikan keseimbangan sekaligus menjaga kesehatan microbiome yang merupakan mikroorganisme ini, ada sejumlah cara yang bisa Anda lakukan antara lain tidak menggosok-gosok kulit dengan kasar, hati-hati mengenakan bahan mengandung alkohol dan pH tinggi, mengenakan tabir surya karena sinar ultraviolet diketahui bisa merusak microbiome serta menjaga kebersihan kulit.
Baca juga : Jadikan Akhir Pekan Ini Momen Ajari Si Buah Hati Memilih Masker"Hati-hati suka over exfoliating, terlalu banyak pakai scrub, kalau skincare yang perlu itu yang lembut, tidak merusak mikrobiota, harus pakai moisturizer karena kalau kulit lembap lebih awet mikrobiome-nya, tetap pakai sunscreen karena UV bisa merusak mikrobiota," demikian pesan Arini.
(est)