LANGIT7.ID - Sejumlah wilayah di Indonesia terus membangun dan meningkatkan destinasi pariwisata termasuk sektor penunjangnya dalam upaya menaikkan nilai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Salah satu objek yang belakangan dikembangkan serius, yakni destinasi wisata yang ramah muslim.
Pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), bersama pemerintah daerah (pemda) gencar menghidupkan spot-spot wisata yang kelak menunjang daya tarik wisatawan muslim. Alhasil, kebijakan dikeluarkan kebijakan agar tempat pariwisata dibuat seramah mungkin untuk umat Islam, atau akrab disapa dengan istilah wisata halal.
Sejauh ini, beberapa daerah di Indonesia berlomba sebanyak mungkin menciptakan objek wisata halal. Salah satunya, mendirikan masjid apung di bibir-bibir pantai. Harapannya, wisatawan terpuaskan menikmati keindahan alam tanpa kesulitan menunaikan kewajiban sebagai muslim. Kebijakan penerapan wisata halal di Tanah Air tersebut harus disyukuri umat Islam sebagai mayoritas.
Salah satu objek wisata yang patut dikunjungi, yakni beberapa masjid apung yang tersebar di Tanah Air. Selain sebagai rumah ibadah, masjid yang unik akan menjadi daya tarik untuk dikunjungi. Hal tersebut senafas dengan
Kalamullah yang termaktub dalam Surat At Taubah ayat 18:
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk"Berikut deretan masjid apung di Indonesia yang dirangkum Langit7.id:1. Masjid Oesman Al-Khair Kalimantan Barat
"(Masjid Oesman Al-Khair Kalimantan Barat. Foto/Langit7)"Masjid Oesman Al Khair berada di atas permukaan laut, di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat (Kalbar). Masjid tersebut dibangun pada 2012 dan diresmikan langsung Presiden Joko Widodo empat tahun kemudian. Masjid tersebut terbilang megah dengan mengadopsi arsitektur ala Timur Tengah. Bangunan Masjid Oesman Al Khair didominasi warna serba putih. Kombinasi ukiran kaligrafi pada dinding luar kian mengesankan kemegahan. Sementara, interior masjid ala Maroko menambahkan kenyamanan dan kekhusyukan.
Masjid berkapasitas 3.000 jemaah tersebut berada di atas permukaan laut. Tidak hanya itu, masjid yang selidik punya selidik dicetuskan mantan Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang dikelilingi kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Kalbar. Kemegahan masjid kian terpancar saat malam tiba. Pasalnya, pancaran cahaya lampu yang menyinari seluruh sudut gedung memantul di atas permukaan air. Kebanggaan dapat menunaikan shalat rawatib di Masjid Oesman Al Khair.
Di tengah pandemi Covid-19 yang mulai melandai, Masjid Oesman Al-Khair di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, mulai dibuka. Namun, dibarengi dengan penerapan prokes ekstra ketat.
Itu disampaikan Gubernur Provinsi Kalbar, Sutarmidji. Dia menghimbau setiap pengurus masjid untuk menyiapkan tempat cuci tangan dan sabun, serta memastikan ketersediaan air. Tujuannya agar jamaah dapat membersihkan tangan sebelum masuk ke masjid.
Setiap pengunjung Masjid Terapung Oesman Al-Khair diwajibkan menaati prokes Covid-19, seperti mengenakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, serta menghindari kerumunan jika berada di area masjid. Itu diberlakukan kepada jamaah maupun wisatawan. Selain itu, pengurus Masjid Oesman Al-Khair turut menyiapkan
hand sanitizer di sejumlah sudut dinding, mulai pintu masuk, di tempat wudhu hingga dalam ruangan masjid.
2. Masjid Raya Al Munawwar Ternate![5 Masjid Apung di Indonesia, Semuanya Keren dan Instagramable]()
Masjid Raya Al Munawwar berada di Ternate, Maluku Utara. Masjid dengan warna hijau putih tersebut dibangun Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate pada 2003. Selain memberikan pemandangan yang indah, masjid tersebut dibangun di lahan seluas enam hektare dengan luas bangunan 9.512 meter persegi. Lebih kurang 15.000 jemaah dapat ditampung Masjid Raya Al Munawwar.
Asitektur Masjid Raya Al Munawwar dilengkapi dengan empat menara setinggi 44 meter yang dua di antara dibangun di laut. Pembangunan masjid berlangsung selama tujuh tahun. Diketahui, Masjid terapung ini mulai dibuka dan ramai dikunjungi sejak pemerintah mengumumkan penerapan
new normal atau memulai hidup baru di tengah pandemi Covid-19.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan hal serupa. Pada tahun 2020, tingginya kasus Covid-19 di Indonesia, BPS mencatat tingkat hunian kamar hotel berbintang di Ternate mengalami penurunan. Mei 2020, persentase hunian hanya 9,77 persen, mengalami penurunan drastis jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Persentase tahun sebelumnya, di bulan yang sama mencapai 41,53 persen. Namun setelah
new normal, penerbangan serta pelayaran mulai perbolehkan beroperasi, kunjungan wisatawan ke Ternate kembali mulai meningkat.
3. Masjid Al Alam Kendari![5 Masjid Apung di Indonesia, Semuanya Keren dan Instagramable]()
Masjid apung selanjutnya berada kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Setiap akhir pekan Masjid Al Alam Kendari ramai dikunjungi baik warga lokal maupun wisatawan dari luar daerah. Masjid Al Alam dibangun pada 2010 di masa kepemimpinan Gubernur Sultra Nur Alam dan diresmikan pada 2018.
Masjid Al Alam memiliki empat buah menara masjid yang dirancang arsitek asal Sulawesi Selatan (Sulsel), Mursyid Mustafa. Kabarnya, masjid tersebut dibuat menyerupai Burj Al Arab di Dubai.
Desain tersebut sangat memungkin karena tata letak Masjid Al Alam berada di Teluk Kendari dengan luas 12.692 meter persegi. Adapun kapasitas Masjid Al-Alam mampu menampung hingga 10.000 jemaah. Untuk menuju ke masjid ini, para pengunjung terlebih dahulu diberi pemandangan hutan bakau. Akses jalan ke masjid merupakan daratan hasil reklamasi.
Ramainya pengunjung di destinasi religi ini seiring pemberlakuan new normal. Namun setiap pengunjung tetap diwajibkan mematuhi protokol kesehatan. Penerapan prokes juga diberlakukan kepada jamaah yang ingin melaksanakan salat wajib maupun sunnah. Di dalam masjid, setiap jamaah diatur berjarak ketika melaksanakan salat berjamaah.
Tak hanya itu, jamaah yang masuk ke dalam Masjid dilakukan tes suhu badan dan disemprot disinfektan. Serta pengurus masjid menyiapkan sejumlah
hand sanitizer yang disimpan di beberapa titik.
4. Masjid Amirul Mukminin Makassar![5 Masjid Apung di Indonesia, Semuanya Keren dan Instagramable]()
Masjid Amirul Mukminin adalah masjid apung selanjutnya yang berdiri kokoh di kawasan Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sebagai informasi, Masjid Amirul Mukminin merupakan masjid apung pertama di Indonesia. Masjid Amirul Mukminin dibangun pada 2009, kemudian diresmikan Ketua Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla, 21 Desember 2012.
Masjid Amirul Mukminin memiliki tiga lantai dan mampu menampung sekitar 500 jemaah. Masjid tersebut memiliki dua jembatan penghubung lengkap dengan pemandangan yang indah. Bahasa kekiniannya, instagramable. Cocok bagi jemaah untuk mengabadikan momen. Masjid terapung ini, ramai dikunjungi setiap akhir pekan. Selain beribadah, banyak masyarakat sekitar menghabiskan waktu untuk menghilangkan penat.
Selanjutnya adalah Masjid terapung Amirul Mukminin. Destinasi religi yang ada di kota Makassar, Sulawesi Selatan. Sejak pemberlakuan new normal, Masjid ini menerapkan prokes ekstra ketat terhadap jamaah maupun pengunjung.
Ketatnya penerapan prokes di destinasi religi yang merupakan salah satu ikon kota Makassar ini, terbukti dari aktifnya petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) melakukan penjagaan. Tak sedikit pengunjung yang kedapatan tidak mematuhi prokes diberi sanksi hukuman badan, seperti pushup sebagai efek jera. Tak hanya itu, Masjid Terapung Amirul Mukminin yang berada di kawasan Pantai Losari itu, setiap saat dilakukan pengumuman melalui pengeras suara agar pengunjung konsisten mematuhi prokes Covid-19.
Untuk masuk ke Masjid terapung ini, pengunjung atau jamaah, terlebih dahulu dilakukan tes suhu badan dan disemprot disinfektan. Lalu di dalam Masjid, jamaah yang melaksanakan Salat diatur berjarak. Dengan pemberlakuan Phisycal Distancing di Masjid terapung Amirul Mukminin, kapasitasnya hanya dapat menampung 50 persen. Di mana Masjid ini memiliki kapasitas 400 orang, karena penerapan Phisycal Distancing hanya dapat menampung bagi duanya.
5. Masjid Amahami Bima![5 Masjid Apung di Indonesia, Semuanya Keren dan Instagramable]()
Masjid terapung yang tak kalah indah lainnya adalah, Masjid Amahami Bima, Nusa Tenggara Barat. Masjid ini terbilang unik, karena setiap arsitekturnya berbentuk bintang, lima sudut lancip. Itu terlihat dari atapnya. Tak sekedar unik, rancangan Masjid Amahami yang didesain oleh tim Universitas Petra Surabaya ternyata juga mengandung makna khusus. Pasalnya masyarakat Bima memiliki filosofi tentang Nggusu Waru (kepemimpinan modern) dan Uma Lengge (nama bangunan tradisional suku di Bima).
Dua unsur tersebut dituangkan pemerintah setempat dalam rancangan dasar masjid terapung dan dikombinasikan dengan desain bintang Al-Quds, simbol terkenal dalam ajaran Islam. Selain itu, di bagian kisi-kisi masjid juga diberi detail ornamen khas Bima, bunga satako. Satako sendiri artinya adalah bunga setangkai. Filosofinya, seseorang harus bisa menebar kebaikan di keluarga maupun masyarakat sekitar, layaknya bunga yang menebarkan aroma harum di sekitarnya.
Sejalan dengan Masjid terapung lainnya yang ada di Indonesia. Selama pandemi Masjid Amahami Bima, Nusa Tenggara Barat, sempat ditutup sementara waktu. Kemudian dibuka kembali setelah pemberlakuan new normal.
Masjid terapung ini turut mengedepankan prokes ekstra ketat. Di pintu gerbang masjid tersebut disediakan tempat untuk cuci tangan. Kemudian ketika salat berjamaah, diatur berjarak.
Meski demikian, tempat ini ramai dikunjungi untuk spot foto. Obyek wisata religi ini ramai pengunjung ketika menjelang petang. Banyak masyarakat yang mengabadikan momen ketika terbenamnya matahari.
(jak)