LANGIT7.ID-Jakarta; Banyak orang bertanya, “Kenapa doa saya belum dikabulkan?” Pertanyaan ini terdengar sederhana, namun ternyata menyimpan kedalaman makna spiritual yang luar biasa. Dalam sebuah kajian religi yang ditayangkan salah satu media televisi, dua pendakwah ternama, Ustadz Syamsuddin Nur Makka dan Ustadz Maulana, mengupas tuntas persoalan ini dengan pendekatan yang menyejukkan dan menggugah hati.
Menurut Ustadz Syamsuddin, pertanyaan soal belum dikabulkannya doa bukanlah hal yang salah. Bahkan, itu bisa menjadi tanda keimanan jika dibarengi dengan usaha mencari jawaban dan memperbaiki diri. “Kalau ada orang yang mempertanyakan, lalu kemudian berusaha mencari jawaban, berarti pertanyaannya bagus,” ujar Ustadz Syam, Jumat (18/7/2025).
Ustadz Syam mencontohkan, ketika seseorang bertanya kenapa doanya belum dikabulkan, lalu ia menyadari bahwa salatnya masih sering terlambat atau baru dua minggu rutin salat duha, padahal orang lain sudah istiqamah bertahun-tahun, maka itu adalah bentuk introspeksi yang baik. Atau ketika melihat orang lain rajin membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam sementara dirinya belum pernah melakukannya, maka wajar jika ia merasa perlu memperbaiki diri terlebih dahulu. Sikap seperti inilah yang menunjukkan kesadaran diri dan niat untuk terus memperbaiki kualitas ibadah.
Namun, ia mengingatkan bahwa akan berbeda halnya jika seseorang bertanya soal doa yang belum terkabul tapi justru berujung pada keluhan atau bahkan menyalahkan Allah. “Kalau bertanya-tanya lalu tidak berusaha introspeksi diri, hanya berusaha untuk bersu’udzon kepada Allah, maka ini tidak ada artinya,” tegasnya. Menurutnya, sikap seperti itu hanya akan menjauhkan diri dari rahmat Allah dan menutup pintu pengabulan doa.
Ia mengutip hadis Qudsi, “Saya sesuai dengan prasangka hamba-Ku.” Maka, sikap husnuzan atau berprasangka baik terhadap Allah menjadi kunci utama dalam menerima jawaban doa, entah langsung, ditunda, atau diganti dalam bentuk lain.
“Tidak ada doa yang tidak dikabulkan. Semua doa dikabulkan oleh Allah, kalaupun tidak sesuai materi yang kita minta, Allah kabulkan dengan cara menggantinya dengan pahala,” ungkap Ustadz Syam. Baginya, doa adalah bentuk ibadah, dan setiap ibadah pasti mendapat ganjaran.
Melengkapi penjelasan tersebut, Ustadz Maulana menambahkan bahwa sebelum menyalahkan Allah, manusia perlu lebih dulu mengoreksi diri. “Mungkin kita berdoa tapi pakaian kita ada yang haram. Ada benda masuk dalam tubuh kita sesuatu yang haram. Itu koreksi dulu. Jangan koreksi Allah,” ujarnya tegas.
Ia juga menyoroti cara berdoa yang kurang tepat. Misalnya, seseorang meminta lulus ujian tanpa menyebutkan tahun atau detailnya, sehingga doanya menjadi ambigu. “Doa itu bentuk penghambaan kita kepada Allah. Dan ingat, doa itu menarik dengan takdir,” jelasnya.
Menurutnya, Allah bisa saja mengabulkan doa seseorang dengan cara yang berbeda dari harapan si peminta. “Bisa jadi dikabulkan lewat digantikan yang lebih baik. Ya Allah kasih aku mobil, tapi Allah kasih kamu rumah. Allah memberikan kita apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita minta,” kata Ustadz Maulana.
Pesan dari kedua ustadz ini sangat jelas: jangan buru-buru kecewa jika doa belum terkabul. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik atau tengah menolak takdir buruk yang hendak menimpa kita. Kuncinya adalah bersabar, memperbaiki diri, dan terus husnuzan kepada Sang Maha Kuasa.
(lam)