LANGIT7.ID-Dibunuh berkali-kali, disiksa dengan api, pasak, dan belanga mendidih, tapi selalu kembali hidup hingga akhirnya syahid. Oleh sebagian ulama, dia dikenal sebagai nabi dengan mukjizat luar biasa: dibunuh hingga 70 kali, namun Allah selalu menghidupkannya kembali. Sosok ini disebut
Jirjis bin Qulthin, yang oleh sebagian lagi diidentifikasi sebagai Saint George dalam tradisi
Kristen, seorang saleh legendaris yang menantang raja zalim.
Kisah Jirjis bersumber dari riwayat-riwayat
Israiliyat — cerita Bani Israil yang banyak diabadikan dalam literatur tafsir klasik. Namun demikian, ulama seperti Prof Umar Sulaiman Al-Asyqar mengingatkan bahwa tidak ada dalil yang sahih dalam Al-Qur’an maupun hadits tentang kenabiannya. Dalam banyak versi, ia lebih tepat disebut hamba Allah yang saleh dan pemberani.
Baca juga: Kisah Samson atau Syam’un: Nabi Tanpa Pengikut Dalam salah satu riwayat yang dikutip
As-Sabi’yat fi Mawa’izh al-Bariyat, Jirjis hidup pada zaman
Bani Israil di bawah kekuasaan Raja Darriyan. Sang raja memaksa rakyatnya menyembah berhala di kuil besar yang dibangunnya. Siapa yang menolak akan dilempar ke kobaran api.
Jirjis datang menentang: “Mengapa kau menyembah batu yang tak mendengar, tak melihat, dan tak memberi manfaat?”
Sang raja, Darriyan, tersinggung dan memerintahkan Jirjis disiksa: disiram air mendidih, dagingnya dikupas hingga tulang tampak, dipaku dengan pasak besi, direbus dalam belanga, namun setiap kali ia mati, Allah mengembalikannya dengan rupa yang lebih segar.
“Wahai yang zalim, katakanlah: Tiada Tuhan selain Allah!” teriak Jirjis berkali-kali.
Darriyan justru menantangnya: “Sekali saja sembah berhalaku, maka aku pun akan menyembah Tuhanmu.”
Jirjis menolak tegas. Dalam satu malam ia sempat tinggal di rumah Darriyan, bukan untuk menerima tawaran, tetapi untuk mendakwahkan tauhid. Bacaan Zaburnya justru meluluhkan hati permaisuri yang diam-diam memeluk Islam.
Baca juga: Nabi Daniel: Meramal Kehadiran Isa al-Masih hingga Nabi Muhammad SAW Keesokan harinya, Jirjis tetap menolak sujud pada berhala. Ia dipenjara di rumah seorang nenek tua dengan anak buta, tuli, dan bisu. Dengan doa Jirjis, anak itu sembuh dan masuk Islam. Di situ pula Jirjis menunjukkan mukjizat lain: sebuah tiang kayu tumbuh hijau dan berbuah untuk memberi makan.
Ketika diundang Jirjis, 70 berhala Darriyan berjalan sendiri menuju halaman rumah lalu ditelan bumi. Permaisuri Darriyan bersaksi di depan rakyat bahwa Jirjis adalah nabi Allah. Raja marah, membunuh istrinya dengan kejam.
Terakhir, Jirjis berdoa: *“Ya Allah, 70 tahun hamba menanggung siksaan mereka, maka anugerahkanlah syahid padaku.”* Ia pun dibunuh dengan pedang, sementara api dari langit melumat Darriyan beserta pengikutnya.
Ada pula riwayat berbeda yang lebih ringan. Dalam buku
Janabal Ma’rifat, disebutkan raja kafir itu meminta hujan lewat Jirjis. Setelah Allah mengabulkan, raja tersadar dan masuk Islam, lalu bertasbih dan bersujud. Riwayat lain menyebut Jirjis hanya seorang pedagang saleh dari Palestina, atau hamba Allah yang hidup di Mosul — kota yang kemudian membangun kuil untuk menghormatinya, sebelum dihancurkan ISIS pada 2014.
Riwayat-riwayat tentang Jirjis memang kaya detail, tetapi juga penuh perbedaan: ada yang menyebut dia nabi, ada yang hanya orang saleh. Ada yang meyakini ia hidup di zaman Bani Israil, ada yang menempatkannya setelah Nabi Isa, bahkan disebut sebagai salah satu Rasul Yesus dalam tradisi Kristen.
Baca juga: Nabi Khidir: Guru Nabi Musa di Persimpangan Dua Lautan Di kalangan Islam sendiri, banyak ulama memandang kisah-kisah tentang Jirjis tidak bisa dikonfirmasi secara sahih. Hadis sahih menyebut tidak ada nabi di antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Syaikh Umar Sulaiman Al-Asyqar menegaskan, informasi dari Israiliyyat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah wajib ditolak, sedangkan yang tidak bertentangan cukup didiamkan — tidak dibenarkan, tidak pula didustakan.
Meski begitu, kisah Jirjis tetap hidup sebagai simbol keberanian menghadapi kezaliman. Sosok yang berkali-kali jatuh dan bangkit lagi, yang mengajarkan bahwa kebenaran layak diperjuangkan bahkan di hadapan penguasa bengis — dengan tubuh yang terbakar, terpasak, dan direbus, tetapi jiwa tetap tegak dalam tauhid.
(mif)