LANGIT7.ID-Jakarta; Upaya menjadikan perguruan tinggi Islam sebagai motor penggerak riset yang diakui dunia internasional menjadi sorotan utama dalam Studium General di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Rabu (23/7/2025). Dalam acara tersebut, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menggarisbawahi pentingnya strategi branding riset yang kuat dan terarah untuk meningkatkan daya saing global.
Direktur Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Bappenas, Endang Sulastri, menyebutkan bahwa UIN Ar-Raniry memiliki kekuatan riset menjanjikan, khususnya di bidang sosial-humaniora. “UIN Ar-Raniry memiliki kekuatan riset yang menjanjikan, terutama dalam bidang studi karakter, pendidikan, komunikasi, hingga keuangan Islam,” ujarnya dia dalam keterangannya, Kamis (24/7/2025).
Endang menekankan bahwa transformasi pendidikan tinggi Islam harus dimulai dari riset yang mampu memengaruhi perubahan sosial. Menurutnya, agar hasil riset mendapat pengakuan di tingkat internasional, dibutuhkan strategi branding yang menyeluruh dan konsisten. “Potensi ini perlu diperkuat melalui strategi branding riset yang terarah agar mendapat pengakuan di tingkat global,” katanya.
Ia juga mendorong agar riset kampus memiliki orientasi masa depan, khususnya di sektor-sektor unggulan seperti industri halal, pertanian cerdas, dan pariwisata. Sektor ini dinilai mampu mengangkat posisi Indonesia di peta global jika ditopang oleh ekosistem riset yang kuat dan modern.
Sementara itu, Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Bappenas, Amich Alhumami, mengingatkan bahwa keterbatasan investasi riset menjadi kendala utama bagi negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Ia menyoroti minimnya porsi pendanaan riset dibandingkan negara-negara maju.
“Rata-rata investasi riset hanya 0,42 persen dari PDB. Jauh di bawah Amerika Serikat yang mencapai 3,46 persen, apalagi Israel 5,56 persen,” jelas Amich. Ia juga menyebut Indonesia baru memiliki 1.600 peneliti per satu juta penduduk, sementara Singapura mencapai 4.000, dan Korea Selatan melampaui 8.000 peneliti.
Tak hanya dari sisi anggaran, jumlah peneliti juga menjadi perhatian. “Hanya sekitar 556 peneliti per satu juta penduduk di negara-negara Islam. Bandingkan dengan Korea Selatan yang mencapai lebih dari 9.000 peneliti,” tambahnya.
Meski demikian, Amich melihat potensi besar yang dimiliki Indonesia untuk menjadi pusat riset dunia, terutama karena kekayaan biodiversitas dan keragaman sosial yang unik. Namun, potensi ini tak akan berkembang tanpa dukungan investasi yang memadai dan keseriusan dalam membangun riset sebagai tulang punggung kemajuan bangsa.
“Perguruan tinggi Islam seperti UIN Ar-Raniry harus menjadi garda depan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tetap berakar pada nilai-nilai keislaman. Modern, kompetitif, dan bernilai,” tegas Amich.
Pesan Bappenas ini menjadi pengingat bahwa riset bukan hanya sekadar kegiatan akademik, tetapi merupakan investasi strategis yang menentukan arah pembangunan bangsa. Branding yang kuat, investasi serius, dan penguatan SDM riset adalah kunci menuju pengakuan global.
(lam)