Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 16 Februari 2026
home wisata halal detail berita

Labuan Bajo, Ta'aktana Resort Dan Keindahannya Yang Bikin Imaginasi Melayang Tinggi

tim langit 7 Sabtu, 26 Juli 2025 - 17:16 WIB
Labuan Bajo, Ta'aktana Resort Dan Keindahannya Yang Bikin Imaginasi Melayang Tinggi
LANGIT7.ID-Flores; Langit di atas Labuan Bajo tampak seperti tinta yang dituang ke air – guratan ungu kebiruan dan jingga menyala membentang di atas Laut Flores. Di lepas pantai, siluet pulau-pulau terlihat bergerigi namun tenang, seperti punggung naga yang tertidur. Di balkon Ta’aktana Resort & Spa, kami berhenti sejenak. Tanpa musik, tanpa ponsel, hanya angin dan gemerisik dedaunan.
Ini adalah awal dari sesuatu yang sunyi dan perlahan.

Labuan Bajo, yang terselip di ujung barat Flores, Nusa Tenggara Timur, dulu hanyalah kota nelayan dengan satu jalan utama, beberapa homestay, dan tak ada yang menjual sarung sambil berbicara bahasa Inggris. Kini, ia perlahan muncul sebagai salah satu pelarian paling sureal di Asia Tenggara – gerbang menuju Taman Nasional Komodo, titik lompat ke pulau-pulau cantik Rinca dan Padar, serta bagian dari proyek "Lima Destinasi Super Prioritas Pariwisata Indonesia".

Tapi meski bandaranya diperbarui dan resort-resort baru bermunculan, Labuan Bajo tak terburu-buru menjadi metropolitan. Jalanan masih berkelok santai, ayam-ayam bebas berkeliaran, dan kota ini baru saja merasakan mal modern pertamanya. Di sini, Anda bisa lupa hari apa ini – dan Ta’aktana mendorong Anda untuk melakukannya.

Sebagai bagian baru dari The Luxury Collection by Marriott, Ta’aktana membentang di lahan seluas 16 hektar yang oleh warga setempat disebut "ta’aktana" – "tanah hijau" dalam bahasa Manggarai. "Bagi saya, Ta’aktana adalah filosofi yang membumi," kata Peter-Paul Kleiss, General Manager resort. "Ia berbicara tentang pertumbuhan, kelimpahan, dan hubungan kita dengan tanah."

Anda tak akan disambut dengan kemewahan yang berlebihan. Area check-in menghadap teluk sunyi, di mana perahu nelayan bergoyang perlahan. Staf menyambut dengan teh dingin dari tumbuhan lokal. Seorang lagi menyodorkan handuk hangat beraroma herbal samar. Tak ada yang terburu-buru.Labuan Bajo, Ta'aktana Resort Dan Keindahannya Yang Bikin Imaginasi Melayang Tinggi

Vila-vila termewah menghadap laut – biru cerah berkilau di pagi hari, biru tua misterius di malam hari. Di dalam, ruangannya terasa hangat dan alami, dengan sentuhan kayu ukir, rotan, dan batu bertekstur. Elemen arsitektur seperti teras berundak dan atap alang-alang mengingatkan pada rumah adat Mbaru Niang suku Manggarai.

"Banyak yang bisa dilakukan di sini," kata Kleiss, "atau bisa juga jadi tempat sempurna untuk tidak melakukan apa-apa."

Malam-malam Sunyi nan Mewah

Malam pertama, kami makan di Taba, restan grill ala robatayaki yang menggantung di atas air, di mana angin membawa aroma laut. Hidangan demi hidangan datang: terong bakar berasap, cumi panggang, nigiri ikan segar – masing-masing lebih mengejutkan dari yang sebelumnya. Restoran itu terasa sepi, meskipun resort hampir penuh.

"Ini sengaja dirancang agar terasa sepi," jelas Kleiss. "Kami ingin tamu merasa memiliki tempat ini untuk diri mereka sendiri." Wajar, mengingat hanya ada 70 kamar (25 vila dan 45 suite) yang tersebar di 16 hektar.

Keesokan paginya, kami melewati kebun pisang dan gubuk kayu menuju Batu Cermin, gua kapur tersembunyi di perbukitan Labuan Bajo. Di dalam, lorong-lorong sempit memaksa kami merangkak. Kelelawar tidur di atas kepala, sementara fosil karang menempel di dinding – pengingat bahwa Flores pernah berada di bawah laut.

Kemudian, kami menuju Desa Melo, di mana pemandangan pantai membentang indah. Kami disambut pria bersarung tenun dan wanita yang memainkan drum serta suling. Mereka mementaskan Tari Caci, seni bela diri tradisional Manggarai yang dimainkan dengan cambuk dan perisai. Rasanya seperti diundang ke dalam kenangan yang terus dihidupkan desa itu.

Malam itu di Umasa, restoran signature Ta’aktana, makan malam terasa seperti percakapan sunyi dengan alam. Hidangan disajikan dalam rantang (kotak makan bertingkat): daging asap lembut, tuna panggang dengan sayuran tumis, cumi dan terong berendam sambal, serta bebek renyah berwarna emas. Hidangan penutupnya tak terduga: singkong fermentasi karamel dengan es krim tapai.

Bahan-bahannya berasal dari laut atau kebun edible resort, di mana kecombrang, serai, dan sayuran hijau dipanen setiap hari. "Ini bukan hanya soal kesegaran," jelas Kleiss. "Tapi juga hidup dengan kesadaran penuh. Dari koktail zero-waste di bar hingga biji kopi Flores yang dipetik langsung, kami menerapkan filosofi keberlanjutan dan kepedulian."

Malam itu, kami tidur nyenyak, seakan-akan tanah sendiri telah menyambut kami.

Naga dan Pantai Impian

Pagi berikutnya, kapal membawa kami ke Pulau Komodo. Kami melihat komodo – besar, berotot, lebih mirip makhluk prasejarah daripada hewan perkasa. Satu ekor berbaring di pasir dengan mata setengah terpejam. Yang lain mengendap di semak, mencari mangsa.

"Mereka bisa memakan manusia," bisik pemandu kami. "Beberapa tahun lalu, seorang turis Singapura berjalan sendirian untuk foto. Dia diserang. Butuh 43 jahitan."

Kami mengeluarkan ponsel untuk mencari ceritanya – lalu mundur selangkah.

Kami kira Pulau Komodo akan jadi highlight perjalanan. Kami salah.

Tak lama setelahnya, kami menuju Taka Makassar, gosong pasir kecil di mana Pantai Pink berkilauan – campuran pecahan karang merah dan pasir putih halus. Airnya jernih tak tertandingi. Di bawah permukaan, ada ikan badut, anemon, bintang laut kobalt. Kami mengenakan snorkel dan berenang di tengahnya, seperti berada dalam mimpi.

Kembali ke resort, kami mampir ke Di’a Spa. Terinspirasi gua kapur Flores, ruangannya sejuk dan hening: dinding batu, lengkungan lembut, pencahayaan redup, dan gemericik air. "Di’a berarti ‘kamu’ dan ‘keindahan’," kata Kleiss. "Di sinilah kami mengajak tamu untuk menyatu kembali – dengan diri sendiri, alam, dan keheningan."

Perawatannya mengakar pada budaya lokal: body wrap dengan tumbuhan Flores, scrub kopi dari biji lokal, teknik pijat tradisional. Kami larut dalam irama alam.

Makan malam terakhir kami adalah kejutan: buffet seafood di tepi pantai. Warung-warung kayu berjejer ala warung kaki lima Indonesia, masing-masing menyajikan hidangan berbeda – dari seafood bakar hingga dessert tradisional dan modern.

Kami berkeliling dengan piring di tangan. Di atas, lentera bambu menerangi kepiting bakar, gurita bumbu asam, kerang sambal. Ombak berbisik pelan, sementara speaker memutar lagu pop Indonesia – seperti di warung sungguhan.
Hidup terasa sempurna. Satu-satunya masalah: perut kami tak cukup besar.

Keberangkatan yang Sepi dan Sedikit Sedih

Di pagi terakhir, sebagian dari kami kembali ke spa, sebagian lain mencoba paddleboard, sepeda air, atau snorkeling gratis di dermaga. Laut tenang. Langit diam. Di kejauhan, nelayan melintasi cakrawala.

Ta’aktana tak memaksa. Ia hanya menawarkan. Anda bisa berkayak atau tidur sampai siang. Melihat komodo atau bermalas-malasan di bawah pohon. Resort ini tak menjual kesunyian – tapi memberinya ruang.

Saat check-out, kami sadar betapa tempat ini telah meresap ke dalam diri. Di kota, beberapa kafe Eropa baru telah buka beberapa bulan terakhir. Kami bertanya-tanya berapa lama Labuan Bajo bisa tetap alami.

Tapi Kleiss lebih optimis. "Tempat ini mulai menarik traveler yang mencari pengalaman hidup – bukan sekadar komodo. Saya yakin ekosistem pariwisata akan berkembang, dengan kolaborasi antara komunitas lokal, bisnis, dan pemerintah."

Saat kami menuju bandara, sebuah papan besar bertuliskan: "I Love Labuan Bajo".

Setelah beberapa hari di Ta’aktana, itu bukan sekadar slogan. Itu terasa benar.(*/saf/thebusinesstimes.com/foto foto;ta'aktana)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 16 Februari 2026
Imsak
04:31
Shubuh
04:41
Dhuhur
12:10
Ashar
15:22
Maghrib
18:19
Isya
19:29
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan