LANGIT7.ID-Bandung; Masjid Salman ITB menjadi tuan rumah penyelenggaraan Seminar Internasional Improving the Quality of Masjid Management: Best Practices and Lesson Learned from Indonesia and United Kingdom pada Selasa, 5 Agustus 2025. Acara ini bertujuan untuk memperkuat tata kelola masjid secara modern dan mandiri.
Salah satu pembicara utama, Chairman of Imam Foundation for Training and Development, UK Prof. Dr. Mohammed Ali Belaoo, menyampaikan paparan bertajuk Methodology of Masjids Management yang menyoroti pentingnya peran imam dan strategi pengelolaan masjid yang berorientasi pada profesionalisme serta kemandirian.
Prof. Mohammed menekankan bahwa masjid bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat aktivitas sosial dan pendidikan yang harus dikelola dengan pendekatan manajerial yang baik. Ia juga menyampaikan perlunya pelatihan bagi imam dan manajer masjid agar mampu menjawab tantangan zaman.
Baca juga:
Masjid di Indonesia Bukan Sekadar Tempat Ibadah, tapi Pusat Peradaban Dunia IslamMenurutnya, kemandirian masjid dapat dicapai melalui peningkatan kesadaran publik, pengelolaan wakaf, serta sistem manajemen yang melibatkan unsur imam, dewan masjid, dan relawan lokal secara sinergis.
“Gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan,” tegas Prof. Mohammed, seraya menekankan pentingnya perencanaan dalam setiap aspek dakwah dan pengelolaan masjid, Selasa (5/8/2025).
Ia juga menyampaikan kritik terhadap institusi pendidikan Islam yang belum secara optimal membekali para calon imam dengan ilmu manajemen dan perencanaan. Padahal, kata dia, kompetensi ini penting agar imam tak hanya berfungsi sebagai pemuka agama, tetapi juga pemimpin yang mampu menggerakkan umat.
“Metodologi pembangunan keilmuan dan kognitif di sebagian besar lembaga pendidikan syariah belum menempatkan ilmu manajemen dan perencanaan dalam peta pengembangan keilmuan bagi para imam.”
Selain itu, Prof. Mohammed juga memaparkan struktur perencanaan proyek dakwah secara teknis—mulai dari penamaan program, penyusunan visi dan misi, hingga strategi pelaksanaan yang transparan dan terukur.
Diskusi lintas negara ini memberikan wawasan baru terkait praktik terbaik dari Indonesia dan Inggris, termasuk dalam pengelolaan dana wakaf, keterlibatan pemuda, dan kolaborasi antar komunitas. Seminar ini diharapkan menjadi titik awal untuk memperkuat fungsi masjid sebagai pusat pemberdayaan umat yang mandiri, inklusif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
(lam)