LANGIT7.ID-, Kairo, - Sebuah gelang emas berusia 3.000 tahun milik
Firaun hilang dari museum di Kairo, Mesir. Kementerian Pariwisata dan Purbakala
Mesir mengatakan, gelang tersebut sedang direstorasi di laboratorium
museum.
Gelang yang dihiasi dengan manik-manik lapis lazuli bulat, berasal dari masa pemerintahan Amenemope, seorang
firaun dari Dinasti ke-21
Mesir.
Baca juga: Kisah Siti Asiyah, Istri Firaun yang Dijamin Masuk SurgaKementerian, dalam pernyataannya yang dikeluarkan Selasa malam, tidak menyebutkan kapan benda itu terakhir terlihat.
Media Mesir mencatat kehilangan itu terdeteksi dalam beberapa hari terakhir, saat pemeriksaan inventaris menjelang pameran "Treasures of the Pharaohs" di sebuah museum di Roma pada akhir Oktober.
Menurut pernyataan kementerian, penyelidikan internal tengah dilakukan. Unit barang antik di semua
bandara,
pelabuhan, dan
penyeberangan perbatasan darat Mesir telah disiagakan.
"Kasus itu tidak segera diumumkan agar tidak mengganggu penyelidikan dan inventarisasi lengkap isi laboratorium sedang dilakukan," tambahnya.
Dilansir dari Arab News, Jumat (19/9/2025), Jean Guillaume Olette-Pelletier, seorang Egyptologist, mengatakan gelang itu ditemukan di Tanis, di delta Nil timur, saat penggalian arkeologi di makam Raja Psusennes I, tempat Amenemope dimakamkan kembali setelah penjarahan makam aslinya.
Baca juga: Kisah Qarun Sang Crazy Rich Era Firaun yang Disinggung Cak Nun"Ini bukan yang terindah, tetapi secara ilmiah itu adalah salah satu objek yang paling menarik," jelasnya pada AFP.
Dia mengatakan gelang itu memiliki desain yang cukup sederhana tetapi terbuat dari paduan emas yang dirancang untuk menahan deformasi.
Untuk diketahui, Amenemope adalah seorang
firaun dari dinasti ke-21 yang memerintah Mesir dari tahun 993 hingga 984 SM. Pemakamannya terkenal karena menjadi salah satu dari tiga pemakaman kerajaan yang utuh yang diketahui dari Mesir kuno.
Makamnya ditemukan oleh ahli Mesir kuno asal Prancis, Pierre Montet dan Georges Goyon, pada April 1940. Hanya saja penggaliannya tertunda karena Perang Dunia II. (Arab Nes/AFP/es)
(est)