LANGIT7.ID-Jakarta; Majelis Ulama Indonesia (MUI) mempersembahkan karya besar berupa Ensiklopedia Budaya Islam Indonesia yang resmi diperkenalkan di ajang Indonesia International Book Fair (IIBF) 2025. Penerbitan buku ini menjadi tonggak baru bagi literasi keislaman di tanah air karena mengangkat kekayaan budaya Islam dari berbagai pelosok negeri.
Dilansir dari situs MUI, Senin (29/9/2025), penyusunan ensiklopedia dilakukan oleh Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI. Ketua lembaga tersebut, Habiburrahman El-Shirazy, menekankan pentingnya buku ini. “Ensiklopedia ini menjadi salah satu sumber literasi bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam buku setebal ribuan data ini, lebih dari 400 kabupaten tercakup. Beragam wujud budaya Islam, mulai dari kuliner, tarian, hingga situs sejarah bernilai Islami, dirangkum dengan detail. “Yang kita masukkan mulai dari tari, makanan, hingga situs bersejarah yang bernilai Islami,” kata Habiburrahman yang akrab disapa Kang Abik.
Salah satu tradisi yang tercantum adalah Dukderan dari Semarang, perayaan tahunan yang selalu digelar menyongsong Ramadan. “Dukderan adalah festival penuh kegembiraan, bahkan anak-anak pun menyambut Ramadan dengan bahagia melalui acara ini,” jelasnya.
Lebih jauh, Kang Abik menegaskan bahwa warisan budaya tidak bisa langsung dianggap bertentangan dengan syariat. “Selama budaya tidak bertentangan dengan tauhid dan mengandung nilai Islami, maka ia selaras dengan ajaran Islam,” tegasnya.
Proses panjang penyusunan ensiklopedia ini memakan waktu hingga lima tahun. Mulai dari menyusun kerangka, mengumpulkan data lapangan, sampai meminta pandangan para pakar, semua dijalankan secara bertahap. “Total lima tahun kami siapkan, mulai dari kerangka, pengumpulan data, hingga melibatkan para ahli,” ungkap Habiburrahman.
Tidak hanya tim internal, sejumlah profesor juga dilibatkan sebagai pembaca ahli untuk menguji validitas isi buku. “Kami berusaha agar hasilnya otoritatif dan bisa dipertanggungjawabkan,” tambahnya.
Peluncuran ensiklopedia ini diharapkan membuka cakrawala baru mengenai kekayaan budaya Islam Nusantara. Kang Abik menyampaikan, “Kami ingin masyarakat muslim semakin mengenal warisan budaya Islam yang ada di negeri ini.”
Meski digarap serius, karya ini tetap dianggap terbuka untuk penyempurnaan. “Kami sangat terbuka menerima masukan dari masyarakat, karena tidak ada gading yang tak retak,” ucapnya.
Melalui ensiklopedia ini, MUI berharap literasi Islam dan budaya dapat berkembang lebih luas, sekaligus memperkuat identitas Islam Nusantara yang telah berakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
(lam)