LANGIT7.ID-Jakarta; Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Airlangga kembali menginisiasi diskusi publik dengan menghadirkan tema kewirausahaan pesantren. Kegiatan bertajuk Pesantrenpreneur: Menggali Potensi Ekonomi Pesantren ini berlangsung secara daring pada Jumat (26/9) dan menghadirkan Yason Taufik Akbar, SEI, MSEI, perwakilan dari Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI).
Pesantren sebagai Motor EkonomiDalam penjelasannya, Yason menekankan pentingnya peran pesantren yang tidak sebatas tempat pendidikan agama. Ia menilai, lembaga ini mampu bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan masyarakat yang berdampak pada ekonomi nasional.
“Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi juga memiliki peluang nyata memberi kontribusi bagi perekonomian nasional,” ucap dia dalam keterangannya, dikutip Senin (29/9/2025).
Untuk itu, BI merancang langkah strategis yang melibatkan integrasi fungsi pendidikan, dakwah, sekaligus penguatan sektor usaha. Menurut Yason, program yang digerakkan mencakup peningkatan akses pesantren ke pembiayaan syariah, pengembangan kurikulum kewirausahaan, hingga kolaborasi dengan pelaku usaha menengah maupun besar.
“Pesantren dapat menjadi penggerak ekonomi melalui penguatan infrastruktur bisnis dan jaringan kelembagaan. Dengan begitu, santri tidak hanya belajar agama, tetapi juga memiliki bekal keterampilan ekonomi,” tambahnya.
Dukungan Ekosistem HalalYason juga memaparkan bahwa BI mendorong pesantren terlibat aktif dalam pengembangan ekosistem halal. Dukungan ini diwujudkan lewat sertifikasi produk halal, penguatan keuangan sosial syariah, serta penyelenggaraan festival literasi ekonomi syariah.
“Konsep yang kami dorong adalah end to end process, dari hulu ke hilir. Mulai dari sektor pertanian, pengolahan, distribusi, hingga perdagangan, semuanya bisa dilakukan oleh unit usaha pesantren dengan berbasis rantai nilai halal,” jelasnya.
Tujuan utama dari rangkaian program tersebut adalah mendorong kemandirian pesantren. Menurut Yason, kemandirian itu dapat terlihat dari kontribusi terhadap perekonomian lokal, dukungan ekspor, dan keterlibatan dalam menjaga kestabilan harga pangan.
“Pesantren yang mandiri tidak hanya mampu menghidupi dirinya sendiri, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar,” pungkasnya.
Kolaborasi untuk Masa DepanAcara yang dipandu oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR, Nasua Okta Kusuma, mendapat perhatian dari puluhan peserta dengan latar belakang beragam. Harapannya, diskusi ini bisa menjadi langkah awal membangun kerja sama lebih luas antara akademisi, regulator, dan masyarakat, sehingga pesantren dapat terus mengambil peran penting dalam pembangunan ekonomi umat.
(lam)