Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 09 Mei 2026
home masjid detail berita

Sejarah Islam Nusantara: Dari Al-Quran ke Injil

miftah yusufpati Sabtu, 01 November 2025 - 04:15 WIB
Sejarah Islam Nusantara: Dari Al-Quran ke Injil
Di Indramayu akhir abad ke-19, seorang santri bernama Kartawidjaja menukar Al-Quran dengan Injil. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID – Indramayu, 1899. Di sebuah rumah kayu di tepi kali, seorang pria paruh baya duduk di depan meja, menyalin ayat-ayat Alkitab dengan tulisan Jawa halus. Namanya Kartawidjaja, seorang bekas santri yang kini disebut “pengkhianat” oleh kaumnya sendiri. Beberapa bulan sebelumnya, ia masih dikenal sebagai Demang Luwung Malang, seorang pejabat pribumi yang tekun beribadah dan fasih membaca tafsir klasik. Kini, ia baru saja dibaptis pada hari Natal—meninggalkan Al-Quran, dan memeluk Injil.

Dalam catatan autobiografinya yang diterbitkan oleh Misi Djoentikebon, berjudul Van Koran tot Bijbel (“Dari Quran ke Injil”), kisah Kartawidjaja melampaui perjalanan spiritual pribadi. Ia adalah potret pertemuan dua dunia: Islam tradisional pesantren dan modernitas kolonial yang datang bersama para misionaris Belanda di akhir abad ke-19.

Laffan mencatat bahwa Kartawidjaja lahir sekitar 1850, cucu seorang ulama dan pejabat Landraad di Indramayu, Haji Patih Mas Muhammad Salih. Ia belajar di Pesantren Babakan, Cirebon, dan sempat mendalami tarekat Naqsyabandiyyah di bawah bimbingan para sayyid Arab. Namun, jalan hidupnya berbelok ketika ia masuk birokrasi kolonial. “Tulisan Arab tak berguna di kantor Belanda,” tulisnya. Ia pun belajar huruf Latin dan bahasa Belanda—simbol dari dunia baru yang menantang tatanan lama.

Selama dua dekade bekerja di berbagai jabatan administratif, Kartawidjaja mulai merasa hampa. Ia kembali ke kampung halamannya, menenggelamkan diri dalam tafsir dan zikir, sampai satu hari seorang sahabat lama datang dengan berita aneh: “Muhammad bukan nabi,” kata si tamu, Raden Wira Adibrata, seorang bangsawan yang telah dikristenkan oleh misionaris Belanda, J.L. Zegers. Kartawidjaja mengusirnya, tapi benih keraguan telah tertanam.

Atas izin gurunya, ia mulai membaca kutipan Injil dari dua pedagang Tionghoa. Tak lama, ia berhenti salat dan menghadiri misa Pastor O. van der Brug. “Dalam pikirannya,” tulis Laffan, “Kartawidjaja tetap seorang Muslim, karena belum dibaptis.” Tapi bagi masyarakatnya, ia telah murtad. Istrinya melarikan diri, rumahnya dilempari batu, dan para sayyid Arab mengutuknya di mimbar-mimbar masjid.

Injil dan Modernitas

Bagi para misionaris, kisah Kartawidjaja adalah trofi. Di tengah kegagalan misi Kristenisasi terhadap orang Jawa, satu “santri murtad” terasa seperti kemenangan kecil. Namun yang lebih menarik dari kisah ini bukan perpindahan imannya, melainkan argumen yang ia gunakan untuk membenarkannya.

Dalam catatan yang disunting oleh misionaris A. Vermeer, Kartawidjaja menulis bahwa Islam di Jawa telah kehilangan ruhnya karena tak mampu menyesuaikan diri dengan zaman. Ia menertawakan larangan ulama terhadap pakaian Barat: “Dalam kitab al-Mufid, orang Mohammedan dilarang memakai topi, dasi, atau menggunakan garpu dan sendok. Namun kini semua guru dan santri melakukannya. Bukankah itu tanda bahwa ajaran lama sudah usang?”

Ia melihat kemajuan teknologi, sekolah, dan infrastruktur kolonial sebagai bukti “berkat Tuhan melalui orang-orang Kristen.”

“Semua mesin, kapal uap, rel kereta, uang kertas—semua adalah bantuan dari orang-orang Kristen,” tulisnya. “Jika Tuhan berkenan, kaum Mohammedan akan memahami bahwa tak ada anugerah selain melalui mereka.”

Laffan membaca kutipan itu bukan sebagai pengakuan iman, melainkan sebagai cermin pergeseran wacana. “Kristen di sini bukan sekadar agama,” tulisnya, “melainkan tanda dari modernitas kolonial—suatu bahasa baru untuk memahami kemajuan.”

Misi dan Perlawanan

Tapi kisah ini juga menunjukkan batas dari proyek Kristenisasi Belanda. Setelah dibaptis, Kartawidjaja menjadi sasaran teror di kampungnya. Pastor Hoekendijk, misionaris muda yang datang ke Indramayu pada 1900, menulis dalam laporannya: “Orang-orang menjauh dari jalan agar tidak tertular. Mereka meludah di tanah ketika saya lewat. Istri Kartawidjaja dipaksa meninggalkannya. Ia diancam mati, dan menjawab: ‘Mati untuk Yesus adalah kebahagiaan tertinggi.’”

Namun, konversi semacam itu jarang berulang. “Meskipun pengkristenan orang Tionghoa terus berlanjut,” tulis Laffan, “para misionaris semakin sering mengeluh tentang mustahilnya mengkristenkan orang Jawa.”

Di lapangan, batas antara Islam dan Kristen justru makin tegas: kubur orang murtad tak dishalatkan, dan pakaian Muslim menjadi simbol perlawanan terhadap misi kolonial.

Bagi Laffan, kisah Kartawidjaja menandai peralihan penting dalam sejarah keagamaan Hindia Belanda. Islam, yang selama berabad-abad berkembang melalui jaringan pesantren dan tarekat, kini berhadapan dengan tantangan ideologis baru: modernitas Kristen dan ilmu pengetahuan kolonial.

Dari Aceh yang penuh zikir hingga Cirebon yang penuh misi, kolonialisme bekerja bukan hanya dengan senjata, tapi juga dengan kitab suci.

Kartawidjaja, dalam semua paradoksnya, adalah representasi manusia perbatasan: separuh santri, separuh modernis; separuh percaya, separuh ragu. Ia menulis dengan pena Barat tapi masih menyebut nama Allah di awal kalimatnya.

Akhir yang Sunyi

Kartawidjaja meninggal di Djoentikebon pada 1914. Namanya nyaris hilang dari ingatan publik, hanya tersisa dalam arsip misi Belanda dan buku Laffan. Tapi kisahnya menyisakan gema yang panjang: bagaimana agama bisa menjadi medan tarik menarik antara iman dan kekuasaan, antara kitab dan kemajuan.

Laffan menutup bab ini dengan nada getir: “Para misionaris, orang-orang Arab, dan kaum pesantren akhirnya sepakat dalam satu hal—mereka semua tahu siapa yang bisa menjadi Kristen, dan siapa yang bisa menjadi Muslim.”

Dalam kesepakatan yang pahit itu, kita melihat cermin sejarah: bahwa dari Al-Quran hingga Injil, dari pesantren hingga gereja, pergulatan terbesar Nusantara bukanlah soal Tuhan, melainkan soal siapa yang berhak menafsirkan-Nya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 09 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)