LANGIT7.ID- Basrah dan Kufah tidak pernah sepenuhnya jinak. Dua kota garnisun itu dibangun untuk mengontrol wilayah Persia yang sedang runtuh, tetapi perlahan berubah menjadi laboratorium besar bagi benturan kepentingan kabilah Arab.
Muhammad Husain Haekal dalam
Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan menggambarkan bahwa penduduk Basrah dan Kufah berbeda dari komunitas yang lebih stabil di Syam dan Mesir. Di sana, para Muhajirin dan Ansar, banyak di antaranya sahabat Nabi, mematuhi ajaran-ajaran Islam secara disiplin, sehingga gejolak jarang muncul. Di Iraq, ceritanya lain.
Mayoritas penghuni Basrah dan Kufah adalah kabilah-kabilah Arab yang jauh dari Makkah dan Madinah. Mereka tidak memiliki kedekatan emosional dengan pusat agama Islam, apalagi pengalaman langsung bersama Nabi. Fanatisme kabilah menjadi nadi politik. Ketika satu pemimpin dianggap condong ke kelompok tertentu, api tersulut. Umar bin Khattab sampai berkata bahwa persoalan Iraq mesti disampaikan kepadanya terus-menerus supaya ia dapat segera mengganti pejabat yang memicu kegaduhan.
Ketegangan ini menetes ke politik dinasti Persia yang sedang kehilangan pusat gravitasi. Kabilah-kabilah Arab sering menyatakan bahwa kemenangan di Persia adalah hasil darah dan keringat mereka, bukan hasil strategi Quraisy. Sikap ini diam-diam menyemangati kelompok Persia yang masih memimpikan kembalinya Yazdigird III. Di beberapa daerah, menurut al-Balazuri, pemberontakan berlangsung berulang-ulang: Hamazan, Ray, Dailam, hingga Azerbaijan. Suasana psikologis itu menciptakan kondisi mudah terbakar, di mana rumor kecil dapat berubah menjadi gelombang besar.
Sistem pemerintahan di Kufah pun seperti pintu berputar. Mughirah bin Syu'bah dipertahankan sebentar demi menghormati pesan Umar, lalu digantikan Sa'd bin Abi Waqqas, sang penakluk Mada'in. Sa'd dihormati luas, tetapi ketegasan militernya yang pernah mengguncang Persia justru tidak membuat rakyat setempat gentar ataupun tunduk secara emosional. Setelah itu, perselisihan dengan Abdullah bin Mas'ud mengenai dana baitulmal membuat Sa'd tersingkir.
Walid bin Uqbah, kerabat Utsman, diangkat sebagai pejabat berikutnya. Ia disukai rakyat kebanyakan namun dibenci elite. Politik bertumpu pada patronase: pemberian kepada kelompok tertentu, pembelaan dalam konflik personal, dan lobi antar-kabilah. Walid keras, sekaligus dermawan. Tabari mencatat rumahnya tidak berpintu selama lima tahun, tanda ia merasa aman oleh cinta rakyat. Tetapi elite Kufah tidak lunak. Mereka mengumpulkan bukti tentang kebiasaan minumnya dan mengajukannya kepada Utsman. Walid dijatuhi hukuman. Kursi itu kemudian diberikan kepada Sa'id bin As, aristokrat Quraisy yang tumbuh dalam lingkaran keluarga Utsman.
Sa'id datang dengan nada yang tidak bersahabat. Ia tahu semangat kekabilahan di Iraq sedang menggelegak. Dari mimbar ia menegaskan bahwa fitnah telah menunjukkan gigi, dan ia tidak berniat mengampuni. Pidato itu menjadi cermin jarak psikologis antara pemimpin pusat dan masyarakat pinggiran. Basrah dan Kufah adalah dua ruang yang terus bergerak, dan kekuasaan pusat berjuang keras mengendalikan ritme yang tidak pernah stabil.
Dalam atmosfer penuh gesekan ini, menarik melihat bagaimana literatur Islam tentang akhlak terhadap lingkungan menawarkan kontras yang hampir ironis. Sementara manusia bertikai karena kabilah, tanah dan alam menuntut perlakuan sebaliknya: keseimbangan, kelestarian, dan kesabaran.
Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran menuliskan bahwa manusia adalah khalifah yang diberi amanat menjaga bumi. Konsep ini mencakup larangan merusak, menebang tanpa keperluan, menyiksa hewan, atau menghalangi alam mencapai tujuan penciptaannya. Teks klasik seperti Ihya Ulumuddin karya al-Ghazali menjelaskan bahwa penggunaan alam harus tunduk pada niat baik, bukan kerakusan. Penelitian Richard Bulliet dan karya-karya Lynn White Jr. menunjukkan bahwa masyarakat awal Islam memiliki pola interaksi ekologis yang lebih seimbang dibandingkan bangsa-bangsa agraris sezaman.
Jika gagasan lingkungan ini ditempatkan di tengah suasana kabilah Basrah dan Kufah, kita melihat paradoks: etika Islam justru mendorong manusia menekan ego kesukuan mereka. Di tengah perebutan prestise penaklukan Persia, akhlak lingkungan mengajarkan pengelolaan sumber daya yang tidak merusak; di tengah perebutan pengaruh antara Quraisy dan kabilah-kabilah lain, ia mengajarkan kerendahan hati; di tengah pergantian pejabat yang tak henti, ia mengingatkan bahwa bumi tidak tunduk kepada kekuasaan manusia, melainkan manusia yang harus tunduk pada batas-batas alam.
Kisah Basrah dan Kufah pada masa Utsman pada akhirnya bukan hanya kisah politik yang berliku, tetapi juga refleksi tentang bagaimana manusia memperlakukan ruang hidupnya. Ketika kekuasaan bertumpu pada fanatisme, kota-kota mudah bergolak. Ketika etika lingkungan ditinggalkan, keseimbangan sosial pun terguncang. Sejarah ini memberi pesan bahwa stabilitas tidak hanya dibangun oleh pedang dan administrasi, tetapi oleh akhlak yang melihat bumi, sesama, dan kekuasaan sebagai amanah, bukan arena perebutan.
(mif)