Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 20 April 2026
home masjid detail berita

Menemukan Ampunan: Tobat Dapat Mengatasi Masa Lalu yang Paling Kelam

miftah yusufpati Kamis, 04 Desember 2025 - 04:15 WIB
Menemukan Ampunan: Tobat Dapat Mengatasi Masa Lalu yang Paling Kelam
Kisah perempuan Juhainah menantang stigma: ia datang menyerahkan diri, bukan untuk dihukum, tetapi untuk pulang kepada Tuhan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Perempuan itu datang sendirian. Dari kabilah Juhainah, membawa rahasia yang tak lagi bisa ia sembunyikan: ia hamil karena zina. Di hadapan Nabi, ia mengucapkan kalimat yang jarang terdengar dari siapa pun, apalagi dalam budaya yang malu adalah pakaian kehormatan: Wahai Rasulullah, aku telah melanggar had, maka jatuhkanlah hukumannya kepadaku.

Riwayat yang dicatat dalam Sahih Muslim ini bukan hanya tentang hukuman. Ia tentang sebuah lompatan moral: keberanian seorang perempuan menghadap Tuhan lewat jalur yang paling jujur, meski jalur itu mengantarnya ke hukuman terberat.

Respons Nabi bukan teriakan, bukan penghakiman. Beliau memanggil keluarganya dan berkata: Perlakukanlah dia dengan baik, dan jika ia telah melahirkan, bawalah dia kembali. Para ulama seperti An-Nawawi dalam Syarh Muslim menjelaskan bahwa jeda ini bukan sekadar prosedur, tetapi pengakuan bahwa kehidupan baru dalam kandungannya harus dilindungi. Etika hukum, dalam Islam, tidak pernah meniadakan nilai kemanusiaan.

Setelah ia melahirkan dan kembali, hukuman rajam ditegakkan. Badannya diikat, jiwanya diserahkan pada Tuhan. Lalu sesuatu yang mengejutkan terjadi: Nabi menshalatkannya. Umar bin Khattab yang melihat itu bertanya, penuh keheranan: apakah engkau menshalatkannya padahal ia telah berzina? Nabi menjawab: Ia telah melakukan taubat yang jika dibagikan kepada tujuh puluh penduduk Madinah, niscaya mencukupi mereka.

Itu bukan pujian ringan. Dalam literatur hadis, ucapan sebesar ini jarang disematkan kepada individu tertentu.

Cendekiawan klasik seperti al-Qadhi Iyadh memandang kasus ini sebagai bukti bahwa taubat bukan sekadar permintaan maaf, melainkan transformasi batin yang membuat pelakunya layak mendapat doa Nabi. Dalam literatur fikih, kisah perempuan Juhainah sering dibahas bersama kisah Maiz bin Malik, lelaki yang juga datang sendiri mengakui zina. Dua tokoh ini mewakili satu fenomena: kejujuran moral yang berangkat dari kesadaran, bukan paksaan.

Sosiolog Muslim kontemporer seperti Khaled Abou El Fadl membaca hadis ini sebagai pengingat bahwa sistem hukum Islam lahir dalam ekosistem moral yang lembut, bukan kejam. Tindakan Nabi yang menyuruh keluarga memperlakukan perempuan itu dengan baik, lalu menshalatkannya, adalah sinyal bahwa hukuman tidak menghapus martabat.

Dalam studi-studi hadis modern, termasuk karya Jonathan Brown dan Muhammad Mustafa al-A‘zami, peristiwa seperti ini dipahami sebagai narasi yang menyeimbangkan antara hukum dan belas kasih. Hukum ditegakkan, tetapi pintu taubat tetap lebih lebar.

Tetapi yang paling menggugah adalah kalimat penutup Nabi: adakah engkau temukan yang lebih baik daripada orang yang datang menyerahkan dirinya kepada Allah? Dalam masyarakat kontemporer yang gemar mengadili, hadis ini seolah menjadi teguran halus. Bahwa manusia yang membawa beban masa lalu tidak perlu diburu vonis sosial, sebab tanggung jawab moralnya mungkin sudah lebih berat dari apa pun yang bisa dilayangkan komunitas.

Kisah perempuan Juhainah adalah berita lama, tetapi maknanya selalu baru: taubat tidak menunggu manusia menjadi suci, justru sebaliknya—ia ditemukan oleh mereka yang berani mengakui dirinya paling rapuh. Dan dari keretakan itu, ampunan membuka jalan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 20 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)