Oleh: Alfin KurniawanLANGIT7.ID–Dalam dunia Muslim kontemporer, nama H.E. Syaikh Dr. Muhammad Abdul Karim Al-Issa menempati posisi penting sebagai salah satu figur paling vokal dalam mengampanyekan Islam wasathiyah, ajaran moderasi yang menolak ekstremisme, merawat akhlak, dan menegaskan kembali Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Komitmen itu ia suarakan saat hadir sebagai pembicara utama dalam kuliah umum di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu, 3 Desember 2025 di Auditorium Harun Nasution.
Kunjungan Syaikh Al-Issa kali ini menarik perhatian besar komunitas akademik. Sejak sebelum acara dimulai pukul 12.00 WIB, auditorium sudah dipadati mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan tamu undangan. Antusiasme itu bukan tanpa alasan. Bagi banyak peserta, inilah kesempatan langka untuk mendengarkan langsung pandangan seorang Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia, organisasi internasional yang berperan besar dalam diplomasi keagamaan dan hubungan antarperadaban.
Di hadapan para peserta, Syaikh Al-Issa kembali menegaskan prinsip yang menjadi dasar dakwahnya: wasathiyah bukan slogan, melainkan pondasi Islam yang mengajarkan keseimbangan, toleransi, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Islam hadir sebagai agama rahmat, bukan sumber konflik. Bagi Syaikh Al-Issa, perbedaan adalah ketetapan Allah SWT agar manusia saling mengenal, bukan saling meniadakan—sebuah penegasan yang menjadi kunci dalam membaca ulang relasi umat beragama dalam konteks global hari ini.
Syaikh Al-Issa menempatkan dialog lintas agama dan budaya sebagai salah satu jalan paling penting untuk membangun dunia yang lebih damai. Ia mengkritik keras ekstremisme karena tidak pernah mencerminkan ajaran Islam yang sesungguhnya. Menurutnya, seluruh ajaran dakwah Rasulullah SAW selalu dilandasi moderasi, hikmah, dan akhlak mulia—nilai-nilai yang justru sering hilang dalam narasi keagamaan kontemporer. Pesannya sederhana namun tegas: dunia tidak membutuhkan lebih banyak polarisasi; ia membutuhkan ruang dialog, komunikasi, dan kerja sama di antara peradaban.
Sepanjang pemaparan itu, hadirin terlihat larut dan menyimak dengan saksama. Banyak mahasiswa mengaku mendapatkan perspektif baru tentang bagaimana seorang tokoh dunia membaca tantangan zaman modern dan apa arti menjadi Muslim yang membawa manfaat bagi perdamaian sosial. Bagi kalangan dosen, ceramah Syaikh Al-Issa memperluas horizon pemikiran tentang posisi pendidikan tinggi Islam dalam penguatan nilai-nilai keberagamaan yang inklusif.
Menariknya, suasana serius itu berubah semakin meriah menjelang penutupan acara. Pimpinan UIN Jakarta—Prof. Ali Munhanif, M.A., Ph.D. (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan), Din Wahid, M.A., Ph.D. (Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kelembagaan), serta Dr. Nanang Fatchurochman, S.H., S.Pd., M.Pd. (Kepala Biro Administrasi Umum dan Kepegawaian)—melakukan pengundian hadiah umrah gratis untuk lima peserta. Tiga mahasiswa dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Dirasat Islamiyah, serta Komunikasi Penyiaran Islam terpilih sebagai penerima. Seorang dosen dan seorang tenaga kependidikan juga mendapat kesempatan serupa. Riuh tepuk tangan dan sorak gembira menutup acara dengan nuansa emosional yang hangat.
Bagi UIN Jakarta, kunjungan Syaikh Al-Issa bukan sekadar kuliah umum. Ini adalah langkah penting untuk memperkuat kerja sama dengan Liga Muslim Dunia dalam pengembangan pendidikan Islam, wawasan kebangsaan, dan kontribusi Indonesia bagi perdamaian dunia. Nilai-nilai wasathiyah yang terus ia kampanyekan diharapkan semakin mengakar, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat luas.
Dengan rekam jejaknya yang panjang dalam diplomasi keagamaan, Syaikh Al-Issa terus muncul sebagai wajah moderasi Islam yang berusaha menjembatani perbedaan global. Dari Jakarta, ia kembali mengingatkan bahwa Islam bukan hanya identitas, tetapi juga tanggung jawab untuk menjaga harmoni, merawat perdamaian, dan mengangkat martabat manusia. Pesan itu kini menggema lebih jauh—dari auditorium Harun Nasution, menuju ruang-ruang pemikiran umat yang terus mencari arah baru dalam arus perubahan zaman. (Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta)
(lam)