LANGIT7.ID-, Jakarta - - Kabupaten
Aceh Utara menjadi daerah yang terluas dan terparah terkena bencana banjir. Sebanyak 852 desa terendam dan dari hari pertama hingga kini belum tersentuh bantuan.
Banjir yang melanda Aceh telah menghilangkan banyak nyawa maupun rumah masyarakat. Menurut laporan sementara Posko Utama Banjir Aceh Utara per Selasa (2/11) pukul 23.30 WIB, hingga hari ke-12 tercatat 121 orang meninggal dunia, dan 118 lainnya masih dinyatakan hilang akibat banjir dan longsor tersebut.
Pemkab Aceh Utara saat ini masih fokus pada upaya pencarian serta penyelamatan korban, termasuk mengurusi para pengungsi yang jumlahnya telah mencapai 115.015 jiwa.
Dari total 34.506 keluarga yang mengungsi, terdapat sejumlah kelompok rentan yang memerlukan perhatian khusus, antara lain 198 ibu hamil, 1.251 balita, 1.687 lansia, serta 54 penyandang disabilitas.
Baca juga: Update Banjir Sumatera, Korban Bertambah: 604 Orang Meninggal dan 464 Orang HilangBupati Aceh Utara, Provinsi Aceh Ismail A. Jalil, mengaku tidak sanggup untuk menangani dampak banjir tersebut. Oleh sebabnya, Ia secara resmi menandatangani surat ketidaksanggupan daerah menangani dampak banjir di kabupaten tersebut pada Rabu (3/12) kemarin.
"Kami menyatakan ketidakmampuan dalam upaya penanganan darurat bencana dan mohon Bapak Presiden membantu penanganan banjir di Kabupaten Aceh Utara," kata Ismail A Jalil di posko pengungsian usai Bupati Aceh Utara, dikutip Kamis (4/12/2025).
Sejak hari pertama banjir, Ismail mengatakan telah meminta bantuan berupa helikopter untuk distribusi beras ke pedalaman, tetapi hingga hari ini tidak ada.
Kondisi di Aceh Utara sangat memprihantinkan. Ismail mengungkapkan bahwa jalan maupun akses keluar dan masuk ke Kabupaten terputus, banyak rumah hilang di Kecamatan Langkahan.
"Saya tidak tahu ini bagaimana. Banyak mayat belum kita temukan. Jalan-jalan putus, irigasi putus, tebing-tebing sungai putus, rumah hilang seperti di Kecamatan Langkahan, satu desa tinggal 18 rumah. Kita harap presiden benar-benar serius melihat kondisi Aceh Utara," ujarnya menahan pilu.
Ismail menyayangkan sikap Pemerintah Pusat yang hingga kini hanya menganggap ahwa ini adalah bencana biasa.
"Saya tidak sanggup, korban luar biasa, rumah masyarakat hilang, pusat tidak ada perhatian, menganggap bencana biasa. Buka mata hati kita, coba lihat masyarakat. Saya masuk ke dalam air supaya masyarakat mencaci saya. Kenapa? supaya pusat tahu bahwa di Aceh Utara ini ada banjir. Masyarakat kita kasihan, anak-anak kita kelaparan tapi apa boleh buat kekuatan kita tidak ada. Kita hanya beras yang ada," ungkapnya.
Pemkab Aceh Utara saat ini masih fokus pada upaya pencarian serta penyelamatan korban, termasuk mengurusi para pengungsi yang jumlahnya telah mencapai 115.015 jiwa.
Kabupaten Aceh Utara merupakan kabupaten keempat di Provinsi Aceh yang menyatakan secara resmi ketidaksanggupannya mengatasi bencana.
Baca juga: Selain Aceh Tengah, Empat Kabupaten di Aceh Ini Juga Nyatakan Ketidaksanggupan Tangani BencanaKeempat Kabupaten/Kota yang telah mengirimkan surat ketidaksanggupan dalam rangka penanganan bencana darurat bencana yaitu, Kabupaten Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Kota Lhokseumawe.
"Untuk empat kabupaten tersebut sudah menyatakan ketidaksanggupan dalam rangka penanganan bencana darurat bencana. Mengingat besarnya dampak yang ditimbulkan sehingga terbatasnya kemampuan daerah dalam ketersedian logistik, peralatan, sumber daya dan anggaran," sebut Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) Fadmi Ridwan.
Sementara itu, dari surat yang diterima (BPBA), ada 14 Kabupaten/Kota yang telah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi yaitu Pidie, Lhokseumawe, Aceh Tamiang, Subulussalam, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Singkil, Aceh Selatan, Gayo Lues, Aceh Barat, Aceh Tenggara, Aceh Tengah, Aceh Utara dan Aceh Barat Daya," jelas Fadmi Ridwan.
(lsi)