LANGIT7.ID- Pada permukaan, masa Ustman bin Affan tampak sebagai fase stabil dalam sejarah awal Islam. Ekspansi masih melaju, wilayah baru terus masuk ke bawah payung kedaulatan. Tapi di balik keberhasilan militer dan ketertiban administratif itu, riak-riak kecil mulai mengguncang fondasi politik Madinah. Gerakan-gerakan senyap yang tak kasat mata ini, seperti disebut Muhammad Husain Haekal, tidak hanya mengantarkan pada tragedi politik terbesar abad pertama Hijriah, tetapi juga mengubah arah sejarah Islam selamanya.
Banyak sejarawan klasik—seperti al-Tabari dan Ibn Sa’d—menyebut bahwa konflik pada masa Utsman bukan semata pertikaian politik, tetapi pertemuan berbagai lapisan ketidakpuasan. Yang pertama berasal dari ketegangan lama antara Banu Hasyim dan Banu Umayyah. Rivalitas dua keluarga besar Quraisy itu, yang pada masa Nabi disamarkan oleh misi kenabian, kembali muncul dalam bentuk yang lebih politis. Kebijakan Usman mengangkat kerabatnya sebagai gubernur di beberapa wilayah dianggap sebagian orang sebagai kembalinya dominasi Umayyah.
Namun sejarawan modern seperti Wilferd Madelung dan Hugh Kennedy mencatat bahwa penjelasan ini terlalu sederhana. Di bawah permukaan, ada sirkulasi gagasan baru: tuntutan kesetaraan suku, kecemburuan antar-kelompok pendatang di wilayah baru, hingga munculnya kelas baru dalam masyarakat Islam—mereka yang merasa ikut mendirikan kejayaan tetapi tidak merasa mendapatkan porsi kuasa.
Gerakan-gerakan pikiran ini tidak berbentuk partai atau kelompok terorganisasi. Ia hidup dalam bisik-bisik di rumah pendatang Mesir, surat tanpa nama, dan diskusi di pasar Basrah. Media politik masih berupa cerita lisan dan hubungan patronase. Namun justru karena tidak terkodifikasi, ia menyebar cepat, menembus batas kota dan kabilah.
Salah satu sumber ketegangan terbesar datang dari struktur administrasi baru di wilayah-wilayah taklukan. Saat ekspansi Islam mencapai puncaknya, kota-kota garnisun seperti Kufa, Basrah, dan Fustat menjadi tempat bertemunya puluhan suku Arab dari berbagai latar. Riset Patricia Crone dan Martin Hinds menunjukkan bahwa kota-kota ini bukan sekadar pusat militer, tetapi juga ruang sosial baru yang tak tertata secara budaya.
Ketidakseragaman itu memicu lahirnya gerakan-gerakan lokal yang menuntut pengaruh politik lebih besar. Masalahnya, pusat kekuasaan di Madinah belum siap menghadapi dinamika baru ini. Tuntutan penduduk Mesir agar gubernurnya diganti, misalnya, bukan hanya soal korupsi atau kerasnya kebijakan administratif, tetapi juga tuntutan representasi politik yang lebih inklusif.
Di tengah keresahan itu, figur-figur karismatik yang kecewa mulai tampil: sebagian dari kalangan sahabat muda, sebagian dari bekas pengikut gerakan anti-Quraisy pra-Islam, sebagian lainnya dari para pendatang yang merasa terpinggirkan. Mereka tidak satu ideologi, tetapi dipersatukan oleh satu perasaan: Madinah terlalu jauh, dan terlalu kuat.
Haekal menilai gerakan-gerakan tersembunyi ini bukan semata sumbu pemberontakan, tetapi juga indikasi bahwa masyarakat Muslim memasuki babak baru: dari komunitas iman menjadi komunitas politik. Sistem lama berbasis kesukuan belum sepenuhnya mati, sementara sistem baru berbasis musyawarah dan norma-norma Islam belum sepenuhnya mengakar. Ruang kosong inilah yang melahirkan perpecahan.
Dari perspektif ilmu politik modern, fenomena ini dikenal sebagai transisi institusional: masa ketika struktur lama runtuh, tetapi struktur baru belum stabil. Dalam konteks Usman, proses itu berbarengan dengan ekspansi besar-besaran, sehingga tekanan sosialnya berlipat.
Bahwa dakwah dan semangat agama tetap kuat—seperti ditekankan Haekal—adalah ironi sejarah. Pada saat para prajurit Muslim mengibarkan panji di perbatasan Kaukasus dan Afrika Utara, bara konflik di pusat kekuasaan justru terus menyala. Kemenangan tidak berhenti, tetapi legitimasi memudar.
Gerakan-gerakan tersembunyi ini akhirnya meletup menjadi pemberontakan yang mengakhiri hidup Usman. Namun jejaknya jauh melampaui peristiwa itu. Ia membuka jalan bagi lahirnya sektarianisme politik, perpecahan umat, dan pembentukan dinasti yang kemudian mewarnai sejarah Islam berabad-abad.
Dengan kata lain, riak kecil yang pernah dianggap tidak penting itu ternyata adalah awal dari rekonstruksi besar dalam politik Muslim. Sejarah Islam berubah bukan hanya di padang perang, tetapi juga di ruang-ruang sunyi tempat gagasan disebar dari satu telinga ke telinga lain.
(mif)