LANGIT7.ID – Di halaman Masjid Nabawi abad ketujuh, bunyi palu besi menimpa batu memecah kesunyian Madinah. Para pekerja mengangkat pilar-pilar batu pahatan, menggantikan batang kurma yang sejak masa Nabi menjadi penyangga sederhana rumah ibadah itu. Di bawah titah Khalifah Usman bin Affan, masjid yang menjadi pusat politik, spiritual, dan administrasi umat dibangun kembali dengan bentuk baru: lebih besar, lebih kukuh, dan lebih berwibawa.
Transformasi itu menandai babak penting dalam sejarah negara Islam awal. Sebagaimana dicatat Muhammad Husain Haekal dalam kajiannya mengenai Utsman, masjid sejak masa Rasul bukan hanya ruang salat, tetapi juga balai musyawarah dan kantor pemerintahan. Kesederhanaan bangunan—bata jemur, tiang kayu, atap pelepah kurma—menjadi simbol etos egaliter masyarakat Madinah. Tapi ketika wilayah Islam meluas hingga Syam dan Mesir, bangunan itu tak lagi memadai sebagai pusat administrasi imperium baru.
Utsman memilih pendekatan baru: membongkar masjid hingga fondasinya dan mendirikannya lagi dengan struktur batu yang diukir, tiang besar berinti besi, serta atap kayu berkualitas tinggi. Referensi arsitektur awal Islam, seperti dipaparkan Blair dan Bloom dalam
The Art and Architecture of Islam, menunjukkan bahwa inovasi semacam ini merupakan awal terbentuknya kesadaran estetika negara yang melekat pada bangunan suci.
Namun langkah itu memantik gelombang kritik. Sejumlah sahabat menilai perubahan ini terlalu jauh dari tradisi kesederhanaan Nabi. Mereka khawatir masjid berubah dari ruang ibadah menjadi simbol kekuasaan duniawi. Perdebatan semacam ini, menurut Fred Donner dalam kajiannya tentang ekspansi awal Islam, merupakan bagian dari ketegangan ideologis antara warisan spiritual Hijaz dan kebutuhan birokrasi imperium baru.
Riset sejarah menunjukkan bahwa pilihan Utsman bukan didorong ambisi pribadi. Sumber-sumber klasik menyebut ia seorang pemalu yang tekun membaca Qur’an. Dalam catatan Haekal dan para perawi awal, Utsman wafat dalam keadaan membaca mushaf, memperlihatkan bahwa perubahan yang ia lakukan lebih merupakan kebutuhan struktur pemerintahan daripada ketertarikan pada kemewahan.
Pembangunan ulang Masjid Nabawi akhirnya menjadi monumen dari pergeseran besar: ketika masyarakat Islam bergerak dari kota kecil yang sederhana menuju struktur negara global yang menuntut wibawa administratif. Tempo, bila menuliskannya, barangkali akan memotret ketegangan itu sebagai tarik-ulur antara dua suara: suara tradisi yang menjaga kesucian, dan suara zaman yang menuntut kelayakan serta simbol kekuasaan.
Di bawah lengkung batu baru Masjid Nabawi, terbaca jejak sejarah: bahwa setiap bangunan suci tak hanya menyimpan doa dan ibadah, tetapi juga pergulatan panjang umat dalam menentukan wajah masa depannya.
(mif)