LANGIT7.ID- Di tahun-tahun awal kekhalifahan Utsman bin Affan, udara Madinah berubah. Dari kota yang keras disiplin, ia perlahan menjadi kota yang lebih lapang. Suasana pemerintahan yang kering dengan aturan ketat pada masa Umar bergeser menjadi rezim yang memberi ruang bernapas.
Muhammad Husain Haekal, dalam karya klasiknya
Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan, membaca pergeseran ini bukan semata perubahan gaya pemimpin, melainkan perubahan mental sebuah generasi.
Pada masa Umar, kaum Muhajirin—khususnya para tokoh Quraisy—dibatasi ketat. Umar takut para perintis Islam itu terpedaya kemewahan di negeri-negeri baru yang kaya harta rampasan. Ia mencegah mereka keluar Madinah kecuali dengan izin ketat. Ada sahabat yang memohon ikut perang, namun Umar menolaknya: di masa lalu ia telah cukup berjuang. Dalam perang-perang baru itu, kata Umar, lebih baik dunia tidak melihat mereka, dan mereka tidak melihat dunia.
Maka Quraisy, di masa Umar, hidup mirip asketis: menahan diri dari kemewahan yang sebenarnya mudah mereka raih. Model kepemimpinan itu bekerja karena Umar sendiri menjadi teladan. Ia hidup paling keras, paling sederhana, paling siap menanggung beban rakyat. Dalam historiografi Barat, Montgomery Watt menyebut Umar sebagai pemimpin yang mengerem ekspansi mental kaum penakluk: bukan ekspansi politik, melainkan ekspansi nafsu terhadap dunia. Ia menahan generasi awal Islam dari korupsi moral dalam fase pertumbuhan.
Ketika Usman naik memimpin, situasi berubah. Ia memandang mental Quraisy yang telah terlalu lama hidup dalam batasan itu, dan angin politik kini menuntut kelenturan. Usman membuka pintu yang dulu dikunci. Ia biarkan Muhajirin bergerak ke seluruh wilayah imperium. Mereka melihat dunia dan dunia melihat mereka. Mereka bepergian, berdagang, menikmati kelapangan hidup. Dalam catatan Haekal, mereka benar-benar “senang sekali dengan pemerintahan Usman”.
Usman sendiri berasal dari latar yang berbeda dengan Umar. Sejak muda ia terbiasa hidup nyaman, berlimpah harta, pakaian terbaik, makanan lunak, perdagangan sukses. Ia adalah konglomerat Quraisy yang terkenal. Ketika menjadi khalifah di usia sekitar tujuh puluh tahun, ia tidak mungkin memaksa orang meniru asketisme Umar yang lahir dari tubuh kuat dan jiwa keras. Usman, seperti catat Haekal, tidak makan dari harta negara; kekayaannya sendiri sudah cukup besar. Tetapi gaya hidupnya yang lebih lembut tak mungkin tidak menular ke para pemuka Quraisy. Ia membuka ruang kelonggaran, dan ruang itu segera diisi.
Dalam riwayat yang dikutip Haekal, Amr bin Umayyah menceritakan bagaimana ia menikmati hidangan khazirah bersama Usman—makanan lezat penuh lauk dan samin. Usman membandingkannya dengan Umar yang makannya tumpah antara tangan dan mulut, tanpa daging, hanya samin. Cerita lain dari Ubaidillah bin Amir menggambarkan hidangan Ramadan Usman: tepung putih terbaik, daging domba muda. Kontras dengan Umar yang hanya makan daging yang dilumatkan, tanpa kemewahan.
Perubahan gaya hidup ini bukan sekadar soal makanan. Ia mencerminkan transformasi sosial. Usman mengizinkan orang menikmati karunia Allah—sesuatu yang tidak diharamkan agama. Tetapi kelonggaran itu memberi efek berlapis. Dalam politik, kata Haekal, pemberontak lebih mudah mencari alasan dari kebijakan yang tidak sesuai keinginan mereka, ketimbang dari prinsip yang ditolak. Kelonggaran Usman—yang memanjakan sebuah kelas sosial yang lama tertekan—pada awalnya disambut gembira. Tetapi ketika kesenjangan dan kecemburuan muncul, kebijakan yang sama berubah menjadi tudingan favorit: dasar kemerosotan moral, pintu nepotisme, bahkan bibit kerajaan.
Sejumlah sejarawan modern, seperti Wilferd Madelung dalam The Succession to Muhammad, melihat masa Usman sebagai fase ketika struktur khilafah mulai beririsan dengan pola kerajaan: kekerabatan menjadi penting, elite Quraisy kembali mendominasi, dan kekayaan mulai memainkan peran politik. Bagi Haekal, Usman tidak pernah bermaksud membangun kerajaan. Ia hanya mengikuti fitrah dan usia manusia: pada masa senja, seseorang cenderung memilih jalan yang lebih mudah—dan memberi kelonggaran kepada orang lain sebagaimana ia memberi kelonggaran pada dirinya.
Tetapi sejarah tidak pernah steril dari konsekuensi. Apa yang awalnya terasa sebagai ruang kebebasan, pada ujungnya memicu kritik—bahkan sampai pada revolusi yang mengguncang Madinah. Kelonggaran Usman memberi kenyamanan, tetapi juga membuka ruang bagi lahirnya pertentangan. Dalam kisah para khalifah, terkadang kelegaan menjadi pintu awal kegelisahan.
(mif)