Bergabungnya Umar bin Khattab ke barisan muslim memicu efek domino psikologis bagi suku Quraisy. Guna membendung gelombang konversi massal, oligarki Mekah terpaksa meluncurkan piagam pemboikotan ekonomi.
Sebelum memeluk Islam, Umar bin Khattab memandang perpindahan agama sebagai ancaman disintegrasi nasional Quraisy. Baginya, stabilitas organisasi sosial di atas segala-galanya, bahkan di atas kebebasan berpikir.
Makkah pra-Islam bukanlah ruang hampa tanpa hukum, melainkan sebuah wilayah oligarki yang lahir dari rantai kudeta berdarah. Di sela-sela jepitan imperium dunia, Quraisy merajut otoritas politik lewat diplomasi dinasti.
Makkah pra-Islam bukanlah oase yang terisolasi, melainkan episentrum finansial Jazirah. Melalui kecerdikan diplomasi dagang Al-Ilaf, kaum Quraisy mengubah lembah gersang menjadi pelabuhan darat internasional.
Di masa Utsman bin Affan, pintu kelonggaran dibuka. Quraisy bergerak bebas, hidup menjadi lebih nyaman. Tapi kelapangan itu kelak berubah menjadi bahan bakar kritik, bahkan pemberontakan.
Kebijakan politik Utsman bin Affan memicu kegelisahan suku-suku Arab non-Quraisy. Dominasi elite Quraisy, terutama Bani Umayyah, menumbuhkan rasa terpinggirkan yang kelak menyulut gelombang oposisi di pusat-pusat garnisun Irak dan Mesir.
Dominasi politik Quraisy pada masa awal kekhalifahan memicu gelombang ketidakpuasan baru di Irak dan Syam. Para pejuang muda menuntut ruang kuasa yang lebih setara dari elite Mekah dan Madinah.
Sejarah tak pernah mencatat tepuk tangan pertama bagi seorang pendiri kota. Barangkali karena ketika Qushayy bin Kilab mulai menapaki gurun sunyi Makkah, belum ada tapal batas untuk disebut kota.