LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Gugatan cerai politikus Golkar,
Atalia Praratya terhadap suaminya, eks Gubernur Jawa Barat
Ridwan Kamil mengejutkan publik.
Pasalnya Atalia dan RK dinilai sebagai pasangan harmonis dengan usia pernikahan hampir tiga dekade.
Bercerai di usia yang tak lagi muda, Atalia berusia 52 tahun dan Ridwan Kamil 54 tahun, kini menjadi fenomena umum yang sering dijumpai.
Baca juga: Pihak Atalia Praratya Ungkap Alasan Gugatan Cerai, Bukan karena Lisa MarianaFenomena ini dikenal juga dengan istilah
"grey divorce" yang merujuk pada rambut putih di kalangan orang lanjut usia.
Selain Atalia-Ridwan Kamil, beberapa publik figur yang memutuskan bercerai di usia tak lagi muda seperti Andre Taulany dengan Rien Wartia Trigina yang telah berumahtangga selama 20 tahun.
Lalu apa yang menjadi penyebab fenomena grey divorce?
Psikolog sekaligus founder DEPTH, Yuli Suliswidiawati, pemicu terjadinya perceraian usia lanjut adalah komunikasi.
"Biasanya dalam keluarga yang dari asalnya tidak membiasakan komunikasi terbuka," kata Yuli dalam unggahan di akun Instagram @yulidepthofficial, dilihat LANGIT7.ID pada Kamis (18/12/2025).
Yuli mengatakan, saat usia menua sejumlah faktor dapat mempengaruhi kemampuan komunikasi, mulai dari pelupa, kurang fokus dan banyak beban pikiran.
"Dengan kondisi penurunan fisik dan mental ini, mayoritas dimulai dari keluhan fisik yang meningkat. Dari mental ke fisik, atau dari fisik ke mental," tambahnya.
Ironisnya, hal yang sama juga terjadi pada pasangannya. Pada kondisi ini kemudian muncul banyak tuntutan untuk dimengerti.
Baca juga: Atalia Praratya dan Ridwan Kamil Kompak Absen di Sidang Cerai Perdana"Makin lama makin memuncak. Merasa sama-sama tidak mendapat support. Kalau begitu mungkin berpisah sajalah, karena buat apa kita tidak sudah saling mensupport," terang Yuli.
Karena itu, dibutuhkan pihak lain seperti anak-anak untuk menenangkan orang tuanya.
Dilansir BBC, psikoterapi asal California Carol Hughes mengetakan, perceraian dalam beberapa kasus dapat mengguncang pemahaman anak yang sudah dewasa tentang kisah hidup keluarganya, termasuk mempertanyakan identitas dan harga diri mereka, hingga mempengaruhi keputusan mereka dalam mengakhiri hubungan berpasangan.
Di samping itu, anak-anak yang sudah dewasa memihak kepada salah satu orang tua yang dinilainya "dirugikan" dari perceraian tersebut. Anak-anak merasa wajib untuk memberikan dukungan emosional dan sosial hingga saran hukum.
Profesor sosiologi di Kutztown University of Pennsyvania, Joleen Greenwood mengatakan bahwa perceraian di usia lanjut juga berpotensi memengaruhi hubungan orang tua dengan saudara kandung dan anggota keluarga besar, hari libur atau ritual yang menjadi kebiasaan keluarga, hingga merembet ke hubungan asmara anak-anak mereka yang sudah dewasa.
Baca juga: Atalia Gugat Cerai Ridwan Kamil, Netizen: Ibu Cinta Berhak BahagiaDampak besar lain dari grey divorce yaitu kemungkinan menghadapi persoalan terkait hak warisan, juga pengambilan keputusan medis saat kondisi kedaruratan terjadi.
(est)