Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 10 Februari 2026
home masjid detail berita

Amuk si Lembut Hati: Ketika Abu Bakar Kehilangan Kesabaran

miftah yusufpati Senin, 29 Desember 2025 - 16:00 WIB
Amuk si Lembut Hati: Ketika Abu Bakar Kehilangan Kesabaran
Abu Bakar yang dikenal lembut mendadak menampar Finhas, seorang pemuka Yahudi, karena menghina Allah. Ilustrasi: Ist

LANGIT7.ID- Madinah bukan sekadar kota oase yang damai bagi para pelarian dari Mekah. Di balik kesepakatan tertulis yang dikenal sebagai Piagam Madinah, tersimpan bara ketegangan yang sewaktu-waktu bisa meledak. Abu Bakar As Siddiq, lelaki yang oleh sejarah dilukiskan sebagai pribadi paling santun dan pemaaf, mendadak menjadi pusat perhatian ketika tangannya mendarat keras di wajah seorang pendeta Yahudi bernama Finhas. Peristiwa ini menjadi anomali menarik dalam studi psikologi karakter yang dilakukan oleh Muhammad Husain Haekal dalam biografinya.

Sejak awal kedatangan di Madinah, kaum Muslimin sebenarnya telah mengikat janji dengan komunitas Yahudi untuk saling menjamin kebebasan beragama. Namun, keretakan mulai muncul saat upaya pecah belah antara kaum Muhajirin dan Ansar gagal total. Kegagalan politik ini beralih menjadi serangan teologis dan olok-olok yang menusuk jantung keyakinan. Di sinilah letak batas kesabaran Abu Bakar yang selama ini tampak tanpa batas.

Dalam narasi yang disusun Haekal berdasarkan sumber klasik, dikisahkan Abu Bakar mendatangi kerumunan orang Yahudi yang sedang mengitari Finhas, seorang pemuka agama mereka. Dengan penuh ketulusan, Abu Bakar mengajak Finhas untuk takut kepada Allah dan mengakui kenabian Muhammad yang jejaknya tercantum dalam Taurat dan Injil. Alih-alih berdialog secara intelektual, Finhas justru melemparkan ejekan yang sangat tajam terhadap konsep ketuhanan.

Finhas dengan senyum mengejek berujar bahwa Tuhanlah yang memerlukan manusia, bukan sebaliknya. Ia memelintir ayat Al Quran tentang pinjaman yang baik kepada Allah sebagai tanda bahwa Tuhan sedang meminta-minta harta karena kemiskinan-Nya. Logika yang sengaja disimpangkan ini bertujuan untuk merendahkan kemuliaan wahyu. Bagi Abu Bakar, hinaan terhadap pribadinya mungkin bisa dimaafkan, namun hinaan terhadap zat Allah adalah titik di mana kelembutan hatinya bertransformasi menjadi kemarahan yang meluap.

Tanpa banyak bicara, Abu Bakar memukul muka Finhas dengan sangat keras. Sebuah reaksi fisik yang jarang terjadi dari seorang pria yang usianya sudah melampaui lima puluh tahun. Kalimatnya saat itu sangat tegas: jika bukan karena adanya perjanjian perdamaian, kepala Finhas sudah menjadi sasarannya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa predikat Yang Lembut Hati pada Abu Bakar tidak berarti ia adalah sosok yang pasif atau lemah. Kelembutannya bersumber pada iman, dan iman yang sama pula yang memerintahkannya untuk membela kehormatan tuhannya saat dinista.

Fenomena kemarahan Abu Bakar ini sebenarnya memiliki pola historis. Haekal mengingatkan kita pada peristiwa sepuluh tahun sebelumnya di Mekah, ketika Abu Bakar naik pitam menghadapi kaum musyrik yang mengejek kekalahan Romawi atas Persia. Saat itu, ia bahkan berani bertaruh sepuluh ekor unta demi membela harga diri sesama Ahli Kitab. Ada garis merah yang konsisten: Abu Bakar hanya akan meledak jika akidahnya disinggung. Ia adalah api yang menghangatkan bagi kawan, namun bisa menjadi api yang membakar bagi mereka yang sengaja memancing kemurkaan Tuhan.

Pakar psikologi sejarah melihat tindakan Abu Bakar sebagai bentuk integritas karakter. Ia tidak sedang menjalankan politik praktis atau mencari keributan. Tamparannya kepada Finhas adalah pernyataan sikap bahwa perdamaian dan toleransi di Madinah memiliki batas, yakni saling menghormati kesucian ajaran masing-masing. Ketika batas itu diterjang dengan cara yang menjijikkan, Abu Bakar berdiri paling depan untuk menunjukkan bahwa kaum Muslimin bukanlah entitas yang bisa dipermainkan akidahnya.

Hingga saat ia menjadi Khalifah nantinya, watak ini tetap melekat. Di balik suaranya yang halus dan tangisnya yang mudah pecah saat shalat, terdapat keberanian yang sangat keras jika menyangkut prinsip kebenaran. Kasus Finhas di Madinah menjadi pengingat bagi siapa saja bahwa di balik samudra ketenangan seorang Abu Bakar, terdapat gelombang besar yang siap menerjang siapa pun yang berani mengolok-olok wahyu Ilahi.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 10 Februari 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
12:10
Ashar
15:26
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan