LANGIT7.ID-Louis Vuitton merayakan seabad kanvas bermotif cokelat dan emasnya pada 1996 silam, dengan mendapuk para desainer ternama seperti Helut Lang, Romeo Gigli, Vivienne Westwood, Azzedine Alaïa, dan Sybilla untuk mendesain tas atau barang perjalanan.
Mereka mengulangi keberhasilan itu pada 2014, saat raksasa barang mewah Prancis ini memberikan kebebasan penuh kepada beberapa pembaharu—diantaranya Karl Lagerfeld, Frank Gehry, dan Cindy Sherman—untuk mencoba membuat tas dan koper dari material yang lentur namun sangat tahan lama tersebut.
Kini, seiring Monogram menandai ulang tahunnya yang ke-130, Vuitton merancang serangkaian perayaan besar sepanjang 2026 yang berfokus pada asal-usul motif tersebut, yaitu ketika putra sang pendiri, Georges, mendepositokan sebuah sampel persegi di The Paris Archives pada 1896.
"Justru tindakan pada 1896 itulah yang menciptakan merek seperti yang kita kenal sekarang," ungkap Pietro Beccari, Chairman dan CEO Louis Vuitton, takjub. "Namun selalu ada lebih banyak hal untuk ditemukan dan dilakukan seputar kanvas ini. Ia bagai cawan suci Louis Vuitton."
Mulai 1 Januari, semua etalase toko Vuitton di seluruh dunia akan memajang replika paten Monogram asli, lengkap dengan segel laknya, serta replika stempel kayu Monogram bersejarah. Di dalam toko, butik-butik Vuitton akan memamerkan koleksi edisi spesial peringatan ulang tahun, didukung oleh kampanye khusus, pop-up store, dan berbagai animasi serta kejutan lainnya.
"Saya rasa orang-orang mencari makna, dan alasan untuk tetap setia pada sebuah merek," kata Beccari kepada WWD. "Mereka ingin tahu lebih banyak tentang produknya, apa yang ada di baliknya, apa keahlian yang membuatnya."
![Louis Vuitton Kembali Memacu Demam Motif Monogramnya]()
Peringatan ulang tahun ini "memberi kami kesempatan untuk menjelaskan salah satu simbol Louis Vuitton kepada generasi baru, dan memberikan alasan untuk membeli produk ini," lanjutnya dalam sebuah wawancara. "Mereka harus tahu bahwa mereka dapat mewariskannya ke generasi berikutnya, dan bahwa ia akan selalu mewakili salah satu merek paling mewah di dunia."
Tak bisa dipungkiri, Monogram identik dengan banyak tas ikonis Vuitton yang tetap populer sepanjang masa, seperti model Speedy dan Keepall yang dibuat pada 1930; Noé, yang didesain tahun 1932 untuk membawa lima botol sampanye; Alma pada 1992, yang dianggap sebagai penghormatan pada arsitektur Parisian; serta tote Neverfull yang lapang pada 2007, yang telah mengembangkan pengikut setianya sendiri dan dirancang untuk membawa barang hingga 90 kilogram (sekitar 200 pon).
"Saya rasa nama-nama ini sudah seperti mitos dan mereka semua lahir dengan dibalut kanvas yang kita bicarakan ini," ujar Beccari.
Vuitton telah menyiapkan tiga rangkaian produk perayaan, yang semuanya akan tiba di toko pada awal 2026:
1. Lini Monogram Origine untuk tas tangan dan trunk menafsirkan pola asli 1896 dalam tenunan jacquard campuran linen dan katun. Kanvas berlapis baru ini hadir dalam warna cokelat tua historis dan empat warna pastel. Menurut Vuitton, koleksi ini juga terinspirasi dari sampul buku daftar klien tahun 1908.
2. Koleksi VVN mengambil kulit sapi alami berwarna pucat yang selalu menjadi pinggiran tas Monogram dan menjadikannya bahan utama, yang akan berkembang patina unik seiring waktu dan penggunaan. Motif Monogram muncul pada gantungan nama yang dapat dilepas dan lapisan dalam jacquard tas. (VVN adalah akronim dari istilah Prancis vache végétal naturel).
3. Koleksi Time Trunk menggunakan teknik cetak trompe-l'œil untuk mereproduksi tekstur dan detail logam dari trunk Vuitton bersejarah pada tas Speedy 30 Soft, Noé, dan Alma GM. Tas-tas ini pertama kali diperkenalkan pada pertunjukan musim gugur 2018 karya Nicolas Ghesquière, direktur artistik koleksi wanita Vuitton, dan dihadirkan kembali untuk musim gugur 2024 saat desainer Prancis itu merayakan satu dekade bekerja di rumah mode tersebut.
Sebagai lambang merek yang sakral—hingga para pengrajin berusaha keras untuk tidak memotong inisial LV dan menempatkannya dengan presisi pada setiap produk—Vuitton mulai melonggarkan aturan terkait perlakuan permukaan Monogram ketika direktur kreatif pertamanya, Marc Jacobs, mengundang Stephen Sprouse untuk menandai tas kanvas dengan seni grafiti neonnya.
Beccari menyebut kolaborasi perintis tahun 2001 itu "seperti tindakan jenius karena membuka dunia kemungkinan."
Memang, semua desainer berikutnya di Vuitton telah memberikan sentuhan mereka sendiri pada Monogram. Ghesquière, misalnya, memperkenalkan versi "Dune" yang terinspirasi warna-warna pasir, dan Kim Jones menghadirkan versi merah terang sebagai bagian dari kolaborasi 2017 dengan Supreme.
Virgil Abloh bereksperimen dengan perlakuan kaleidoskopik ditambah versi transparan dan eco-felt, sementara Pharrell Williams memperkenalkan Speedy kulit dengan warna primer yang dijual sekitar Rp 160 juta (9.250 euro) dan telah menghasilkan daftar tunggu lebih dari 5.000 nama.
"Semua orang jatuh cinta pada simbol Vuitton ini dan panggung peragaan busana selalu menjadi gunung berapi inspirasi yang membuatnya hidup, serta tetap muda dan modern," antusias Beccari.
Pada 2017, merek ini memperkenalkan kanvas Monogram Eclipse, yang digambarkan sebagai "interpretasi maskulin" dalam nada grafit dan hitam pekat.
Kolaborasi Vuitton yang sangat dikenal publik dengan seniman seperti Takashi Murakami, Yayoi Kusama, dan Richard Prince semuanya menyentuh Monogram, namun perayaan 2026 kali ini memberikan panggung pada elemen warisan, daya tahan, dan fungsionalitas.
Dalam pameran besar-besaran "Visionary Journeys" Vuitton di Osaka selama World Expo musim panas lalu, Beccari mengatakan ruang Monogram—yang memamerkan sampel persegi asli di samping trunk bersejarah dan iterasi modernnya—adalah salah satu yang paling populer. "Itu memberi kami ide untuk memperkuat hubungan ini," katanya.
Asal-usul Monogram dan simbol-simbolnya yang seperti bunga tetap "misterius," menurut Beccari. "Apakah ini bergaya Gothic? Dari Venesia? Dari Jepang? Atau dari ubin dapur di Asnières (bekas rumah keluarga Vuitton)?"
Yang pasti, Georges Vuitton menciptakan kanvas Monogram untuk trunk sebagai "sesuatu yang tidak bisa disalin siapa pun," karena motif garis dan kotak-kotak Damier sebelumnya telah banyak ditiru, cerita Beccari.
"Bagaimanapun, itu dibuat hanya untuk membedakan dirinya dari yang lain, dan akhirnya menjadi salah satu hal yang paling banyak disalin di dunia," ujarnya, terkekeh pada paradoks tersebut.
(Kendati demikian, Vuitton menanggapi pemalsuan dengan serius dan sekitar 50 orang bekerja untuk memerangi barang tiruan, yang produksinya sering dikaitkan dengan pencucian uang dan pekerja anak, catat Beccari.)
Pendekatan kembali ke akar tahun perayaan ini juga tumpah ke salah satu kampanye Vuitton yang akan datang, yang akan menyoroti tas Monogram vintage, memuji karakter dan patina yang mereka peroleh setelah penggunaan yang sering. Kampanye ini akan dimulai pada 1 Januari.
"Tas-tas yang telah hidup, yang punya cerita untuk diceritakan," kata Beccari. "Itulah kekhasan Louis Vuitton: Vuitton bukan tas yang Anda simpan di lemari, atau tambahkan ke koleksi, atau sesuatu yang Anda kenakan sesekali. Ini adalah tas yang Anda kenakan setiap hari dan yang Anda senangi untuk dirawat dan diwariskan ke generasi berikutnya."
Tas-tas bekas pakai dalam iklan baru ini diambil dari arsip Vuitton, serta pusat perawatan dan perbaikan mereka, yang populer. "Kita berbicara tentang ratusan ribu barang yang kami perbaiki setiap tahun," kata Beccari.
Kampanye kedua, yang rencananya akan dirilis pada Februari, akan fokus pada selebriti yang merupakan penggemar berat tas Monogram, namun nama-nama mereka masih dirahasiakan.
Vuitton berharap produk-produk Monogram edisi spesialnya akan menjadi koleksi yang dicari, dan setiap tas dilengkapi gantungan nama yang juga berfungsi sebagai tempat kartu, serta label di dalam yang menandainya sebagai bagian dari koleksi peringatan ulang tahun.
Merek ini juga telah menerapkan pola Monogram Origine-nya pada tiga varian parfumnya, bersama dengan dua kotak perjalanan berwarna merah muda dan biru.
Tiga pop-up store khusus Monogram akan dibuka pada 8 Januari di distrik Xuhui Shanghai, di toko Vuitton SoHo New York City, dan di lokasi Dosan, Seoul. Lebih banyak pop-up akan dibuka mulai Maret, bersama "kejutan" lainnya, Beccari menggoda.(*/saf/wwd)
(lam)