LANGIT7.ID-Jakarta; Transformasi pesantren menjadi kebutuhan mendesak agar institusi pendidikan Islam ini tetap relevan di tengah pesatnya perkembangan zaman dan teknologi. Hal ini menjadi bahasan utama dalam Rapat Kerja (Raker) Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Krapyak, Bantul, Yogyakarta, pada 10-11 Januari 2026.
Tantangan dunia pendidikan saat ini, termasuk bagi puluhan ribu pesantren di bawah naungan NU, kian kompleks dengan munculnya kecerdasan buatan (AI). Anggota RMI PBNU, Ulun Nuha, menekankan bahwa kemampuan adaptasi merupakan kunci utama keberlangsungan sebuah lembaga.
“Kita pahami bersama, yang akan bertahan bukan yang paling kuat atau paling pintar, melainkan yang paling adaptif terhadap perkembangan zaman. Karena itu, pesantren juga harus lulus tantangan relevansi dan mampu beradaptasi. Inilah ide dasar perlunya transformasi pesantren,” ujar Ulun dilansir dari situ NU, Selasa (13/1/2026).
Menurut Ulun, pesantren tidak boleh terjebak pada kejayaan masa lalu meskipun telah teruji oleh sejarah sejak abad ke-13. Dengan jumlah mencapai lebih dari 42 ribu pesantren di Indonesia, di mana 28 ribu di antaranya adalah pesantren NU, diperlukan pembaruan sistem pendidikan dan cara pandang.
“Pesantren memang telah teruji oleh zaman, tetapi apakah kita akan diam seperti masa lalu? Tidak. Zaman terus berubah, terutama dalam dunia pendidikan. Output lembaga pendidikan, termasuk pesantren, harus siap menghadapi perubahan yang luar biasa,” katanya.
Raker bertajuk Konsolidasi dan Transformasi Organisasi untuk Khidmah Prima ini merupakan momentum penyegaran organisasi menyusul adanya pergantian antarwaktu (PAW) kepengurusan. Program ini dirancang untuk mendukung visi Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Ketua RMI PBNU KH Hodri Arief dalam merespons situasi terkini.
Selama setahun terakhir, RMI PBNU telah menjalankan berbagai program strategis, seperti pendampingan SPPG NU, perumusan standar pesantren, program Smart Pesantren, hingga kerja sama dengan berbagai instansi seperti BPOM, Universitas Terbuka, dan Polri untuk kampanye anti kekerasan.
Ke depan, RMI PBNU menyiapkan tiga fokus utama. Pertama, penguatan literasi finansial bagi santri. Kedua, aspek infrastruktur melalui pendampingan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) dan restrukturisasi bangunan pesantren tua. Ketiga, pembentukan Asosiasi Pesantren Anak-anak serta penguatan Satgas Anti Kekerasan (SAKA) Pesantren melalui penyusunan SOP dan modul yang akan disosialisasikan secara masif di daerah melalui program training of trainers (ToT).
(lam)