LANGT7.ID- Di bawah langit Madinah yang dirundung duka, saat jenazah Rasulullah masih terbaring dalam keheningan persiapan pemakaman, sebuah badai politik mulai bertiup dari sudut kota. Di Saqifah Banu Sa'idah, kaum Ansar berkumpul, bersitegang menakar masa depan kekuasaan di semenanjung Arab. Namun, di luar kerumunan itu, sebuah dialog pendek namun menentukan terjadi antara dua tokoh besar, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarrah. Dialog ini menjadi pembuka tabir bagi salah satu transisi kekuasaan paling krusial dalam sejarah Islam.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya,
Abu Bakr As-Siddiq: Yang Lembut Hati, melukiskan ketegangan itu dengan sangat jernih. Umar, yang baru saja tersadar dari guncangan wafatnya Nabi, segera berpikir tentang stabilitas umat. Menariknya, orang pertama yang ia tuju bukanlah Abu Bakr, melainkan Abu Ubaidah. Umar mendatangi sosok yang dijuluki kepercayaan umat ini dengan sebuah tawaran yang mengejutkan: bentangkan tanganmu, akan kubaiat engkau. Dasar Umar sederhana, ia memegang teguh ucapan Rasulullah yang memuji integritas Abu Ubaidah.
Namun, di sinilah letak kematangan politik dan ketulusan para sahabat diuji. Abu Ubaidah tidak lantas menyambar tawaran kekuasaan itu. Sebaliknya, sebagaimana dicatat dalam Al-Tabaqat Ibn Sa'd yang dikutip Haekal, Abu Ubaidah justru melontarkan kalimat yang menohok nurani Umar. Ia mengingatkan bahwa selama Umar memeluk Islam, Umar tidak pernah tergelincir dalam penilaiannya, kecuali saat itu. Bagaimana mungkin Umar hendak membaiatnya sementara di antara mereka masih ada sosok Abu Bakr As-Siddiq? Sebuah penolakan halus yang sekaligus menegaskan hierarki moral di kalangan Muhajirin.
Percakapan personal itu terputus oleh kabar mendesak dari Saqifah. Kaum Ansar mulai memunculkan nama Sa'd bin Ubadah dan melontarkan gagasan dualisme kepemimpinan: satu pemimpin dari Ansar dan satu dari Quraisy. Kabar ini seperti petir di siang bolong bagi Umar. Tanpa membuang waktu, ia memanggil Abu Bakr yang saat itu sedang berada di rumah Aisyah, sibuk menyiapkan urusan jenazah. Pesan Umar singkat namun penuh tekanan: ada kejadian penting yang memerlukan kedatanganmu segera.
Keputusan Abu Bakr untuk meninggalkan sejenak persiapan pemakaman Rasulullah bukanlah tanpa beban emosional. Namun, Haekal menjelaskan bahwa Abu Bakr menyadari sebuah tanggung jawab yang tak kalah besar: masa depan agama dan umat. Ia, Umar, dan Abu Ubaidah akhirnya melangkah cepat menuju Saqifah. Di tengah jalan, mereka sempat dicegah oleh Asim bin Adi dan Uwaim bin Sa'idah yang menyarankan agar mereka kembali saja karena situasi di Saqifah dianggap sudah tidak terkendali.
Jawaban Umar saat itu sangat merepresentasikan karakternya yang teguh: tidak! Akan kami datangi mereka. Ketiganya sadar bahwa sehari saja Islam dibiarkan tanpa kepemimpinan yang jelas, maka seluruh bangunan dakwah yang diperjuangkan Muhammad selama dua puluh tiga tahun terancam runtuh. Kepergian mereka ke Saqifah bukan karena ambisi jabatan, melainkan sebuah misi penyelamatan atas potensi perpecahan yang sudah di depan mata.
Interpretasi sejarah ini menunjukkan bahwa transisi kepemimpinan dalam Islam tidak dimulai dari perebutan tahta, melainkan dari rasa saling sungkan dan penghormatan atas kelebihan masing-masing. Abu Ubaidah yang menolak tawaran Umar, serta Abu Bakr yang baru bersedia maju setelah didesak oleh keadaan darurat, menjadi standar moral bagi politik Islam di masa-masa awal. Perjalanan ketiga sahabat ini menuju Saqifah Banu Sa'idah bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan diplomasi yang akhirnya menentukan nasib dunia Islam selama berabad-abad kemudian.
Haekal melalui karyanya yang diterbitkan P.T. Pustaka Litera AntarNusa ini mengajak kita melihat bahwa di balik keriuhan Saqifah, ada kerendahan hati yang bekerja. Abu Ubaidah, dengan penolakannya terhadap tawaran Umar, secara tidak langsung telah mengarahkan biduk sejarah kepada Abu Bakr, orang yang dianggap paling pantas untuk memimpin umat setelah Rasulullah wafat.
(mif)