Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home masjid detail berita

Misteri Qu'ash Kambing: Jejak Sejarah Tha'un di Masa Umar bin al-Khaththab

miftah yusufpati Kamis, 29 Januari 2026 - 16:32 WIB
Misteri Qu'ash Kambing: Jejak Sejarah Tha'un di Masa Umar bin al-Khaththab
Setiap wabah besar yang melanda umat manusia seharusnya menjadi momentum untuk membaca kembali jam eskatologis yang terus berdetak. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Dalam kronik sejarah Islam, tahun 18 Hijriyah tercatat bukan karena ekspansi militer yang gemilang, melainkan karena sebuah sunyi yang mencekam di negeri Syam.

Awadh bin Ali bin Abdullah dalam Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menyoroti sebuah peristiwa medis yang mengerikan sebagai salah satu fragmen akhir zaman: wabah Tha’un Amwas. Peristiwa ini bukan sekadar catatan duka, melainkan manifestasi dari nubuat yang telah diucapkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertahun-tahun sebelumnya.

Pintu masuk untuk memahami fenomena ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Auf bin Malik radhiyallahu anhu dalam Shahih Al-Bukhari. Nabi shallallahu alaihi wa sallam meminta umatnya untuk menghitung enam tanda menjelang kiamat, yang salah satunya berbunyi:

ثُمَّ مُوتَانٌ يأخذ فيكم كَقُعَاصِ الغنم

Artinya, kemudian banyaknya kematian yang menimpa kalian bagaikan penyakit qu’ash kambing.

Istilah qu’ash dalam literatur kedokteran klasik merujuk pada penyakit yang menyerang hewan ternak secara mendadak, menginfeksi paru-paru, dan menyebabkan kematian seketika dengan keluarnya cairan dari hidung. Penggunaan analogi ini oleh Nabi memberikan gambaran betapa cepat dan masifnya kematian yang akan terjadi.

Interpretasi Awadh bin Ali membawa kita pada komentar Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab monumental Fathul Bari. Ibnu Hajar menyinyalir bahwa tanda ini telah muncul secara nyata dalam peristiwa Tha’un Amwas.

Penyakit ini muncul tepat setelah penaklukan Baitul Maqdis, seolah-olah menjadi ujian berat bagi kestabilan khilafah yang baru saja mengecap kemenangan di Palestina. Amwas sendiri adalah sebuah distrik kecil yang terletak di antara Ramlah dan Baitul Maqdis, yang menjadi titik nol penyebaran wabah mematikan tersebut.

Dampak dari wabah ini sangat luar biasa secara demografis dan politis. Mayoritas ulama sepakat bahwa sekitar 25.000 jiwa kaum muslimin gugur dalam waktu singkat. Angka ini merupakan jumlah yang sangat besar bagi populasi umat Islam pada abad pertama Hijriyah. Yang membuat peristiwa ini semakin getir adalah gugurnya tokoh-tokoh besar yang menjadi pilar negara. Salah satunya adalah Abu Ubaidah Amir bin al-Jarrah, sosok yang oleh Nabi dijuluki sebagai kepercayaan umat ini (Amin hadzihi al-Ummah).

Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu sendiri sempat merasakan dilema kepemimpinan yang luar biasa saat wabah ini meletus. Diskusi panjang mengenai apakah seseorang boleh masuk atau keluar dari daerah wabah menjadi landasan awal bagi konsep karantina dalam hukum Islam.

Namun, di balik perdebatan hukum dan medis tersebut, para sahabat melihat peristiwa ini dengan kacamata eskatologi. Mereka menyadari bahwa kematian massal yang begitu mendadak dan tak terduga adalah bagian dari skenario besar menuju titik akhir dunia.

Secara interpretatif, Tha’un Amwas memberikan pesan bahwa tanda-tanda kiamat tidak selalu berupa fenomena langit yang spektakuler, tetapi bisa berupa krisis kemanusiaan yang sunyi namun mematikan. Penyakit yang menyambar nyawa bagaikan wabah ternak ini menegaskan kerapuhan hidup manusia di hadapan kehendak ilahi.

Awadh bin Ali, melalui Maktab Dakwah Rabwah, mengingatkan bahwa setiap wabah besar yang melanda umat manusia seharusnya menjadi momentum untuk membaca kembali jam eskatologis yang terus berdetak.

Hingga kini, narasi Tha’un Amwas tetap relevan sebagai pengingat bahwa penaklukan tanah-tanah besar sering kali diikuti oleh ujian-ujian yang menguji ketangguhan iman. Kiamat kecil dalam bentuk kematian massal ini telah terjadi, membuktikan kebenaran isyarat kenabian, dan meninggalkan jejak duka di tanah Syam yang diberkati.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)