LANGIT7.ID - Akhlak Rasulullah SAW kepada keluarga, tetangga, hingga para sahabat tak perlu diragukan lagi. Beliau merupakan teladan paripurna. Tidak ada manusia yang mampu menyaingi beliau dalam hal teladan akhlak.
Namun di sisi lain, sikap Rasulullah kepada musuh beliau patut dikaji dan dijadikan pelajaran. Ada banyak peristiwa yang dapat memberikan gambaran tentang cara beliau bersikap kepada para musuh. Bagi beliau, musuh adalah orang-orang yang menjadi objek dakwah.
Baca Juga: Teladan Rasulullah Hadapi Menantu Non Muslim Hingga Mendapat Hidayah Masuk Islam
“Mereka sama pada dasarnya, orang-orang yang membutuhkan belaian kasih sayang, tapi tentu saja tidak sama dengan orang-orang yang beriman,” kata Pakar Sirah Nabawiyah, Ustadz Asep Sobari, melalui kanal youtube Sirah Community, dikutip Rabu (13/10/2021).
Atas dasar itu Rasulullah menimbang permusuhan sebagai bagian dari tantangan dakwah. Beliau selalu berusaha menarik lawan menjadi kawan. Ia melakukan berbagai hal untuk mencapai tujuan mulia itu.
Suatu ketika Rasulullah bersama para sahabat berhasil menangkap seorang musuh kaum muslimin kala itu, yakni Tsumamah bin Utsal. Dia berasal dari Najd, kabilah yang cukup jauh dari Madinah. Dia terkenal memusuhi baginda nabi dan bahkan ingin membunuh beliau.
“Ketika tokoh dari Najd ini ditangkap dan diserahkan kepada Rasulullah. Rasulullah mengikatnya dengan bahasa kita memenjarakannya tetapi dengan cara mengikat. Dia tidak dikurung, tetapi diikat di salah satu tiang di belakang Masjid Nabawi,” ucap Ustadz Asep Sobari.
Rasulullah tidak bermaksud menyakiti Tsumamah. Ia sengaja mempertontonkan kehidupan kaum muslimin setiap hari, agar dia tidak punya alasan untuk memusuhi baginda Nabi dan Islam.
Hari pertama diikat, ia diberi makan dengan makanan enak dan lezat. Rasulullah datang dan bertanya, “Apa yang engkau dapati dari dirimu hari ini wahai Tsumamah?”
“Muhammad, jika engkau mau membunuhku, maka bunuhlah. Tapi aku orang kuat. Banyak orang yang akan membalas kematianku. Jika engkau ingin tebusan, sebutkan berapa yang engkau inginkan. Aku orang kaya. Dan jika engkau bersedia membebaskanku, maka lepaskanlah. Aku orang yang tahu membalas budi.” Jawab Tsumamah.
Hari kedua, Rasulullah datang lagi dan bertanya lagi. Namun jawab Tsumamah berbeda. Dia mengatakan, “Muhammad, jika engkau bersedia membebaskanku, maka engkau akan mendapatiku sebagai orang yang tahu membalas budi. Jika ingin tebusan, sebutkanlah. Jika engkau ingin membunuhku, maka sesungguhnya aku orang kuat dan banyak yang membela.”
Hari ketiga Rasulullah datang lagi. Jawaban Tsumamah masih sama. Itu artinya ada perubahan dari Tsumamah. Pada hari pertama, Tsumamah masih yakin baginda Nabi membencinya. Namun hari kedua dan ketiga, dia yakin itu tidak mungkin dilakukan oleh orang sebaik Rasulullah. Dia yakin kemerdekaan dan kebebasan yang akan didapat. Itu pun akhirnya dipenuhi oleh Rasulullah.
Akhlak Rasulullah kepada para musuh juga terlihat saat dalam peperangan. Salah satu pesan penting dalam peperangan yang hendak disampaikan Rasulullah adalah umat Islam tidak boleh memusuhi lawannya, kecuali dalam batas yang sepadan.
Ada etika-etika yang harus diperhatikan terkait hak-hak manusia. Hak-hak itu harus dihormati dalam batas kemanusiaan. Di antaranya adalah musuh yang tewas di tempat harus dikebumikan.
Dalam perang Badar, Rasulullah menguburkan jasad orang-orang kafir yang merupakan musuh-musuh beliau. Dalam lubang atau sumur Badar, Rasulullah sangat melarang umat Islam memutilasi fisik lawannya yang tewas dalam medan perang.
Baca Juga: Nabi Muhammad SAW, Tokoh Pertama di Dunia yang Perjuangkan Hak Kaum Disabilitas
“Almushlah (mutilasi) adalah bagian dari larangan yang sangat keras, karena Rasulullah merasa bahwa itu tindakan yang sangat tidak mengenakkan. Rasulullah bersedih ketika melihat jasad pamannya dimutilasi di perang Uhud,” ucap Ustadz Asep.
(jqf)