LANGIT7.ID-Jakarta; Sektor perbankan syariah di Indonesia mencatatkan total aset sebesar Rp1.067,73 triliun pada Desember 2025. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 8,92% secara tahunan (yoy).
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, memaparkan bahwa penyaluran pembiayaan juga mengalami kenaikan 9,58% yoy menjadi Rp705,22 triliun. “Sisi pembiayaan juga menunjukkan kinerja apik dengan nilai Rp705,22 triliun, tumbuh 9,58% yoy. Momentum ini menjadi modal penting untuk membangun industri yang semakin resilient di 2026,” jelas Dian dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (18/2/2026).
Di sisi lain, sektor Halal Value Chain (HVC) tumbuh sebesar 6,2% yoy pada 2025, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11%. Pertumbuhan HVC ini didorong oleh sektor makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, serta modest fashion.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mencatat bahwa kontribusi HVC terhadap PDB meningkat menjadi 27% pada 2025 dari posisi 25,45% pada tahun sebelumnya. “Kontribusi HVC terhadap PDB meningkat dari 25,45% pada 2024 menjadi 27% pada 2025. Ini menunjukkan daya tahan nyata sektor syariah terhadap dinamika global,” kata Destry.
Pada sektor keuangan sosial, BAZNAS menyalurkan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) senilai Rp52,5 triliun hingga Triwulan II-2025, atau meningkat 43% dibandingkan capaian sepanjang 2024. Selain itu, tingkat literasi ekonomi syariah masyarakat tercatat berada di angka 50,18%.
Sebagai langkah lanjutan di tahun 2026, Bank Indonesia telah meluncurkan Blueprint Eksyar 2030 dan memulai Kick-Off Bulan Pembiayaan Syariah (BPS) 2026. Program ini melibatkan sinergi 10 kementerian dan lembaga untuk memperluas akses pembiayaan bagi UMKM, start-up, dan industri halal dalam rangka memperkuat posisi Indonesia di sektor ekonomi syariah global.
