LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Agama, Nasaruddin Umar dan Wakil Ketua Umum Ikatan Alumni Eknomi Syariah Indonesia (IAEI), Irfan Syauqi Beik, menekankan pentingnya pendidikan ekonomi syariah dalam menghadapi tantangan global dan perkembangan ekonomi di Indonesia yang terus berlanjut. Hal itu disampaikannya dalam acara
Top Economic Special Islamic Economic yang digelar di salah satu media nasional.
Menag mengungkapkan optimismenya terhadap potensi Indonesia untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia di masa depan. "Indonesia memiliki potensi besar karena kita adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Meski saat ini masih ada keterbatasan dalam pengembangan SDM ekonomi syariah,” ujarnya.
Menurut Menag yang juga Ketua IAEI, menegaskan, penguatan kurikulum pendidikan ekonomi syariah harus mengintegrasikan
fikih muamalah dengan pengetahuan tentang ekonomi konvensional.
"Penting bagi sarjana ekonomi syariah untuk memahami istilah-istilah keuangan modern tanpa meninggalkan nilai-nilai syariah," ujar dia dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Ia juga menekankan pentingnya sintesa antara keilmuan yang ada di Fakultas Syariah dengan Fakultas Ekonomi Umum, agar para lulusan ekonomi syariah mampu berkembang dan mampu berkontribusi di dunia industri ekonomi modern.
Menag juga mengingatkan bahwa ekonomi syariah berfokus pada keberlanjutan dan moralitas ekonomi, yang relevan dengan perkembangan global. "Ekonomi syariah adalah model perekonomian yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi krisis ekonomi global," katanya, merujuk pada pernyataan Paus Benedict yang menganggap sistem ekonomi syariah sebagai solusi.
Di sisi lain, Wakil Ketua Umum IAEI Irfan Syauqi Beik menyoroti tiga sektor utama yang membutuhkan perhatian serius dalam pengembangan SDM ekonomi syariah: sektor industri halal, sektor keuangan syariah, dan sektor sosial seperti zakat dan wakaf. Ia menekankan pentingnya pendidikan yang tidak hanya terfokus pada sektor keuangan, tetapi juga pada pengembangan industri halal yang dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi syariah.
"Sumber daya manusia yang terampil dan berkompeten dibutuhkan untuk mengembangkan industri halal, seperti makanan dan minuman halal, pariwisata ramah Muslim, serta fashion Islami," jelas Irfan.
Irfan juga menyoroti adanya gap kompetensi antara lulusan ekonomi syariah dan ekonomi konvensional, terutama di sektor keuangan syariah. "Kualitas SDM kita perlu diperkuat agar bisa bersaing dan memainkan peran penting di industri ini," tegasnya. Selain itu, ia juga menggarisbawahi pentingnya riset-riset yang aplikatif dan berdampak dalam mengoptimalkan potensi ekonomi syariah.
Pendidikan ekonomi syariah di Indonesia, menurut mereka, memiliki peran krusial dalam memperkuat daya saing global dan mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan. Pemerintah, kampus, dan dunia industri yang disebut
Triple Helix perlu bekerja sama dalam menciptakan ekosistem yang mendukung perkembangan ekonomi syariah.
Kedua tokoh ini juga memuji langkah pemerintah dalam mendukung sektor ini melalui regulasi yang mengakomodir ekonomi syariah, serta mengharapkan sektor pendidikan untuk terus berperan dalam mencetak SDM yang siap menghadapi tantangan dan peluang ekonomi syariah global.
(lam)