LANGIT7.ID-Jakarta; Pangsa pasar ekonomi syariah di Indonesia menunjukkan taringnya melalui pencapaian signifikan Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank Jago Tbk atau Jago Syariah sepanjang 2025. Pertumbuhan basis pengguna yang mencapai 16,5 persen secara tahunan menjadi bukti nyata akselerasi layanan keuangan digital berbasis syariah di tanah air.
Hingga tutup tahun pada Desember 2025, Jago Syariah tercatat telah melayani 2,4 juta nasabah. Head of Sharia Business Bank Jago Waasi Sumintardja menilai capaian ini tidak lepas dari meningkatnya kepercayaan publik dalam mengelola finansial melalui prinsip syariah yang didukung oleh ekosistem ekonomi halal yang kian matang.
“Pencapaian ini mencerminkan semakin tinggi kepercayaan masyarakat terhadap solusi keuangan digital berbasis syariah yang mudah, inovatif, dan kolaboratif,” ujar Waasi dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (6/3/2026).
Kenaikan jumlah pengguna ini selaras dengan performa makro industri halal nasional. Berdasarkan data kuartal III-2025, sektor halal value chain (HVC) menyumbang 27,34 persen atau sekitar Rp 4.832 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut meroket dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang hanya sebesar 26,53 persen atau Rp 4.368 triliun.
Direktur Infrastruktur Ekonomi Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sutan Emir Hidayat menjelaskan bahwa Indonesia memiliki fundamental yang solid sebagai pusat ekonomi syariah dunia. Hal ini terlihat dari laporan State of the Global Islamic Economy Report 2024/2025 yang menempatkan Indonesia di posisi tiga besar global, khususnya pada sektor farmasi, kosmetik, dan modest fashion halal.
“Hal ini mencerminkan pertumbuhan sektor-sektor pembentuk HVC seperti pertanian, makanan dan minuman halal, fashion, dan pariwisata yang lebih cepat dibandingkan sektor lain dalam komponen pendapatan nasional,” ujar Emir.
Seiring dengan penguatan ekonomi tersebut, sertifikasi halal juga mengalami lonjakan. Total sertifikat yang terbit hingga Desember 2025 menembus 3,32 juta, atau naik sekitar satu juta sertifikat dari posisi tahun 2024, sehingga total akumulasi mencapai 10,99 juta produk.
Meskipun literasi keuangan syariah menunjukkan tren positif ke angka 43,42 persen dari sebelumnya 39,11 persen, tantangan besar masih membayangi pada sisi inklusi yang baru menyentuh 13,41 persen. Berdasarkan data Bank Indonesia, indeks ekonomi syariah nasional sendiri berada pada angka 50,18 persen di tahun 2025.
Menanggapi ketimpangan tersebut, Emir melihat adanya celah besar yang bisa dioptimalkan oleh perbankan digital. “Ini menunjukkan adanya literacy–inclusion gap yang signifikan. Ini sekaligus menjadi tantangan dan peluang, terutama bagi bank digital seperti Jago Syariah. Digitalisasi membuat layanan keuangan syariah lebih mudah diakses, efisien, dan relevan bagi generasi muda, tentunya tetap sesuai prinsip syariah,” kata Emir.
Optimalisasi teknologi ini juga terlihat dari fitur manajemen keuangan yang digunakan nasabah. Di Jago Syariah, tercatat lebih dari 40.000 orang telah menggunakan Kantong Haji dan Kantong Umrah untuk merencanakan ibadah mereka secara terukur.
“Ini memperlihatkan bagaimana perencanaan perjalanan ibadah juga bisa dilakukan dengan mudah, transparan, dan terukur melalui fitur dalam aplikasi digital,” tutur Waasi.
Fenomena menarik juga muncul dari perilaku transaksi selama Ramadan 2025. Data menunjukkan sebanyak 68 persen nasabah melakukan zakat serta sedekah pada waktu subuh hingga dhuha, dengan 53 persen di antaranya menyalurkan dana untuk anak yatim piatu melalui fitur Jago Amal.
