Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 01 Juni 2026
home masjid detail berita

Kemungkaran Hari Raya: Mengapa Praktik Taruhan Meningkat di Tengah Perayaan Idul Fitri?

miftah yusufpati Selasa, 17 Maret 2026 - 04:00 WIB
Kemungkaran Hari Raya: Mengapa Praktik Taruhan Meningkat di Tengah Perayaan Idul Fitri?
Menjaga kesucian Idul Fitri berarti menjaga setiap jengkal aktivitas kita agar tetap selaras dengan bimbingan kenabian. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di balik keriuhan takbir yang membahana dan deretan baju baru yang mencolok mata, sebuah anomali sosial sering kali menyelinap di sela-sela perayaan Idul Fitri. Di beberapa sudut pemukiman, dari gang-gang sempit hingga lapangan terbuka di sebagian negara, hari kemenangan yang seharusnya menjadi panggung kesalehan justru berubah menjadi arena pertaruhan. Fenomena judi dan berbagai bentuk permainan spekulatif menjamur, seolah menjadi pelengkap hiburan yang lazim. Namun, dalam kacamata syariat yang jernih, aktivitas ini bukanlah sekadar permainan pengisi waktu, melainkan sebuah kemungkaran sistematis yang merusak fondasi ketakwaan yang baru saja dibangun selama sebulan penuh.

Dalam risalah bertajuk Idul Fithri Ahkamuhu wa Adabuhu yang disusun oleh DR. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti, isu perjudian pada hari raya ditempatkan sebagai catatan merah yang sangat serius. Dr. Ashim menyoroti betapa memprihatinkannya fenomena ini, terutama ketika ia mulai merambah dan menyasar dunia anak-anak. Idul Fitri yang semestinya menjadi ajang edukasi nilai-nilai moral, justru dikotori oleh pengenalan terhadap mentalitas instan dan adiksi taruhan. Praktik ini, menurut risalah yang diterbitkan oleh IslamHouse tersebut, masuk dalam kategori dosa-dosa besar yang melanggar batas-batas kesucian bulan Syawal.

Landasan yuridis pelarangan judi dalam Islam bersifat absolut dan mutlak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Ma’idah ayat 90:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Secara interpretatif, penyandingan judi (al-maysir) dengan khamar dan penyembahan berhala menunjukkan betapa destruktifnya dampak perbuatan ini terhadap jiwa dan tatanan sosial. Dr. Ashim menjelaskan bahwa hari raya adalah waktu untuk mensyukuri nikmat Tuhan, bukan untuk menantang takdir melalui meja taruhan. Judi di hari raya adalah bentuk pengkhianatan terhadap semangat puasa yang mengajarkan pengendalian diri. Jika selama Ramadhan seorang Muslim mampu menahan diri dari yang halal (makan dan minum), sungguh ironis jika pada hari Idul Fitri ia justru terjerembap dalam perkara yang diharamkan.

Ulama dunia seperti Imam adz-Dzahabi dalam kitab Al-Kaba’ir mengklasifikasikan judi sebagai salah satu dosa besar karena ia mengandung unsur memakan harta orang lain secara batil (akalul amwal bil bathil). Di hari raya, di mana semangat kedermawanan dan zakat fitrah sedang berada di puncaknya, praktik judi justru mengajarkan cara mengambil hak orang lain melalui keberuntungan semu. Ini adalah antitesis dari nilai-nilai Idul Fitri yang mengedepankan kerja keras, kejujuran, dan empati sosial.

Lebih jauh, DR. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti memberikan peringatan keras kepada para orang tua. Anak-anak yang mendapatkan uang lebaran (angpao) sering kali menjadi target empuk bagi penyelenggara permainan ketangkasan yang sebenarnya adalah bentuk judi terselubung. Dr. Ashim menekankan pentingnya pengawasan ketat dari orang tua untuk mengedukasi anak-anak mereka agar menjauhi perbuatan tersebut. Membiarkan anak-anak mengenal judi sejak dini sama saja dengan menanam benih kerusakan moral yang sulit dicabut di masa depan.

Interpretasi sosiologis atas fenomena ini menunjukkan adanya degradasi makna hari raya. Idul Fitri tidak boleh direduksi menjadi sekadar pesta pora yang menghalalkan segala cara untuk mencari kesenangan. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Ighatsatul Lahfan mengingatkan bahwa setan selalu mencari celah untuk merusak ibadah manusia justru pada saat manusia merasa telah menang. Perjudian di hari raya adalah salah satu jebakan tersebut, yang menggiring manusia dari rasa syukur menuju keserakahan dan permusuhan.

Sebagai simpulan, menjaga kesucian Idul Fitri berarti menjaga setiap jengkal aktivitas kita agar tetap selaras dengan bimbingan kenabian. Dengan merujuk pada peringatan DR. Ashim Al Qaryuti, umat Islam diajak untuk kembali pada hakikat hari raya yang bersih dari noda maksiat. Idul Fitri adalah perayaan iman, di mana kebahagiaan dirayakan melalui zikir, doa, dan berbagi kepada sesama. Menghilangkan judi dari tradisi lebaran adalah langkah nyata untuk memastikan bahwa setiap amal yang kita lakukan selama Ramadhan benar-benar diterima oleh Sang Pencipta.

Taqabbalallahu minni wa minkum. Semoga Allah menerima amal kami dan kalian.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 01 Juni 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)