LANGIT7.ID - Dalam perjalanan dakwah, Rasulullah SAW bertemu dengan orang-orang Nasrani. Di antaranya Adi bin Hatim, seorang tokoh besar dari At-Tha’I (kabilah terkenal di Arab). Adi bin Hatim mengira baginda nabi dalam berdakwah bermotif kekuasaan dan politik semata.
“Maka dalam sikapnya kepada Rasulullah SAW, Adi bin Hatim penuh dengan curiga, ketika dia harus kabur dan melarikan diri ke Syam, dan kemudian tinggal beberapa lama di sana. Akhirnya Adi bin Hatim kembali ke Madinah untuk membaca situasi Rasulullah di Madinah dalam arti yang sesungguhnya,” kata pakar Sirah Nabawiyah, Ustadz Asep Sobari, melalui kanal youtube Sirah Community, dikutip Jumat (15/10/2021).
Namun saat berada di Makkah, Adi bin Hatim justru mendapati kebalikan dari semua yang dibayangkan itu. Rasulullah SAW menyambutnya dengan begitu luar biasa. Beliau sendiri yang menarik tangan Adi bin Hatim dan menyiapkan tempat tidur, serta menghidangkan jamuan.
Adi bin Hatim melihat saat itu bahwa Rasulullah sama sekali tidak seperti yang dia duga. Dia berkata dalam hati, “ini bukan perilaku seorang penguasa dan raja, kalau Muhammad ingin kekuasaan tentu dia tidak memperlakukanku seperti ini.”
Rasulullah lalu mulai berdialog dengan Adi bin Hatim. Beliau bertanya tentang hal-hal mendasar. Ia memulai dengan dakwah, bukan memulai dengan meminta kekuasaan yang selama ini menjadi momok dalam pikiran Adi bin Hatim.
Baca Juga: Teladan Rasulullah Hadapi Menantu Non Muslim Hingga Mendapat Hidayah Masuk Islam
Rasulullah berkata, “bukankah selama ini engkau menyembah pendeta-pendeta kalian?”
“Kami tidak pernah menyembah mereka.” jawab Adi bin Hatim.
“Bukankah kalian mengharamkan apa yang mereka haramkan dan menghalalkan apa yang mereka halalkan. Itu artinya kalian menyembah mereka.” tutur Rasulullah.
Adi bin Hatim tidak percaya dengan kata-kata itu, dalam artian, jika Rasulullah ingin berkuasa, dia pasti tidak bertanya demikian.
Rasulullah lalu berkata, “Adi, apabila engkau selama ini bertahan untuk masuk Islam karena faktor engkau melihat kami lemah, sesungguhnya dalam waktu yang dekat Romawi dan Persia akan berada di tangan kami.”
Baca Juga: Rasulullah Tak Pernah Marah karena Urusan Pribadi, Tapi Marah Saat Ajaran Islam Dicederai
Rasulullah Fasilitasi Kaum Nasrani Jalankan IbadahPendiri Pusat Studi Qur’an (PSQ), Prof M Quraish Shihab, menyebut ada satu kisah yang sangat jarang diketahui oleh orang-orang. Pernah suatu ketika, Rasulullah mengadakan diskusi dengan rombongan Nasrani dari Najran (perbatasan Saudi dengan Yaman). Saat tiba waktu kebaktian, nabi mempersilahkan masjidnya untuk dipakai pada hari kebaktian.
Allah berfirman dalam surah Al-Hajj ayat 40:
“(Yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.”
Ketika rombongan nasrani itu pulang, diskusi terkait akidah tidak membuahkan hasil. Namun kepercayaan umat kristiani berbeda, itu tidak menghalangi Rasulullah untuk menulis sebuah perjanjian yang dikenal dengan perjanjian Najran.
“Menjanjikan bahwa kalian akan saya bela sebagaimana saya membela keluarga dekat saya. Nabi berpesan bahwa ini berlaku pada rombongan nasrani dan semua orang nasrani sampai akhir zaman,” kata Quraish Shihab dalam video bertema Keragaman Kehendak Tuhan melalui kanal youtube Najwa Shihab.
Mengutip laman resmi Quraish Shihab, isi perjanjian itu antara lain:
Buat para penganut agama nasrani, bila mereka memerlukan sesuatu untuk perbaikan tempat ibadah mereka, atau satu kepentingan mereka dan agama mereka, bila mereka membutuhkan bantuan dari kaum muslim, maka hendaklah mereka dibantu dan bantuan itu bukan merupakan utang yang dibebankan kepada mereka, tetapi dukungan buat mereka demi kemaslahatan agama mereka serta pemenuhan janji rasul (Muhammad SAW) kepada mereka dan anugerah dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya buat mereka.
Tidak boleh seorang nasrani dipaksa untuk memeluk agama Islam, “janganlah mendebat orang-orang yahudi dan nasrani yang berselisih pendapat denganmu, kecuali dengan cara yang paling baik. Kecuali dengan orang-orang yang melampaui batas. Mereka hendaknya diberi perlindungan berdasar kasih sayang dan dicegah segala yang buruk yang dapat menimpa mereka kapan dan di mana pun.
Perjanjian tersebut diriwayatkan antara lain Abu DAwud dan dikutip dengan berbagai riwayat oleh Abi Yusuf dalam bukunya Al-Kharaj, Ibnu Al-Qayyim dalam Zad Al-Ma’ad, dan lain-lain.
(jqf)