LANGIT7.ID-Pasar Madinah baru saja meredup ketika Abu Hurairah radhiyallahu anhu memulai tugasnya. Bukan sembarang tugas, ia diamanahi langsung oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam untuk menjaga tumpukan hasil zakat fitrah. Namun, di antara bayang-bayang malam, seorang penyusup datang. Tangannya cekatan meraup gandum, mencoba mencuri di tengah kesunyian. Inilah fragmen pembuka dari salah satu hadis paling menarik dalam Sahih Bukhari yang menggambarkan pertemuan fisik antara sahabat Nabi dan sosok dari dimensi lain.
Sang pencuri, saat tertangkap, tidak menunjukkan taring atau rupa yang menyeramkan. Ia justru menggunakan senjata paling purba dalam sejarah penipuan: rasa iba. "Saya sangat membutuhkan, saya memiliki keluarga dan kesulitan besar," rintihnya. Abu Hurairah, yang dikenal memiliki hati lembut, luluh. Ia melepaskan sang pencuri hanya untuk mendapati kejutan di pagi hari saat Rasulullah bertanya, "Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu semalam?"
Dialog ini menarik secara interpretatif. Rasulullah, melalui wahyu, sudah mengetahui kejadian tersebut. Beliau memberikan peringatan yang presisi: "Dia itu dusta, dan akan kembali lagi." Benar saja, tiga malam berturut-turut sang pencuri datang dengan skenario yang sama. Pada malam ketiga, Abu Hurairah tidak lagi memberi ruang bagi negosiasi emosional. Ketegasan sang penjaga zakat ini memaksa sang pencuri mengeluarkan kartu terakhirnya—bukan lagi uang atau makanan, melainkan ilmu.
"Lepaskan aku, aku akan mengajarkanmu bacaan yang akan Allah jadikan bermanfaat bagimu," ujar sang pencuri. Ia kemudian membisikkan rahasia tentang Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255). Ia mengeklaim bahwa siapa pun yang membacanya sebelum tidur akan selalu dijaga oleh Allah dan tidak akan didekati setan hingga pagi hari.
اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُAllah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.Pagi harinya, Rasulullah memberikan konfirmasi yang sangat monumental bagi diskursus fikih dan akidah Islam: "Kali ini dia benar kepadamu, tapi asalnya dia adalah pendusta." Beliau kemudian mengungkap identitas asli sang tawanan: "Itu adalah setan."
Secara interpretatif, kisah ini memberikan pelajaran penting tentang "kebenaran yang datang dari sumber yang salah." Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam
Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadis ini membuktikan setan bisa menampakkan diri dalam wujud manusia dan ia bisa berkata benar jika terjepit, meskipun tabiat aslinya adalah pembohong. Namun, kebenaran tersebut baru bisa dijadikan sandaran hukum setelah mendapatkan konfirmasi (verifikasi) dari Rasulullah.
Lebih jauh, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam
Fathul Bari menyoroti kegemaran para sahabat terhadap kebaikan (
حرص على الخير). Abu Hurairah bersedia melepaskan pencuri bukan karena ia lemah dalam menjalankan tugas, melainkan karena besarnya kecintaannya pada ilmu yang bermanfaat. Fenomena ini adalah pengingat akan pentingnya tabayun dan validasi informasi, bahkan ketika informasi itu terdengar sangat religius atau bermanfaat.
Keagungan Ayat Kursi sebagai pelindung tidur kini menjadi amalan massal umat Islam, bermula dari sebuah insiden di gudang zakat Madinah. Kisah ini menegaskan bahwa penjagaan Allah terhadap hamba-Nya bisa turun melalui jalan yang tak terduga, bahkan melalui lisan musuh bebuyutan manusia itu sendiri. Abu Hurairah tidak hanya menjaga gandum malam itu; ia tanpa sengaja telah menjaga warisan spiritual bagi seluruh umat hingga akhir zaman.
(mif)