LANGIT7.ID-Sejarah sering kali mencatat kekuasaan sebagai candu yang mematikan nalar. Di istana megah Memphis, ribuan tahun silam, seorang penguasa yang memproklamirkan dirinya sebagai tuhan tertinggi, Fir’aun, harus berhadapan dengan "hantu" dari masa lalunya. Musa Alaihissalam, pria yang dahulu dibesarkan di istana yang sama namun melarikan diri karena sebuah insiden maut, kembali membawa pesan yang menggetarkan singgasana: seruan tauhid dan tuntutan pembebasan Bani Israil.
Dalam naskah klasik Asy-Syu'ara, kita melihat sebuah fragmen diplomasi yang sarat ketegangan. Musa datang bukan dengan pasukan, melainkan dengan kerendahan hati yang didukung oleh kekuatan transenden. Strategi Fir’aun untuk meruntuhkan mental Musa cukup klise namun tajam: ia menyerang sisi personal. "Bukankah kami telah mengasuhmu di antara keluarga kami saat kamu masih kanak-kanak?" tanya Fir’aun, sebuah retorika yang mencoba mengikat Musa dengan utang budi masa lalu.
Namun, Musa, yang kini telah dibekali hikmah oleh Rabbnya, menjawab dengan logika yang menjungkirbalikkan keadaan. Ia mengakui kekhilafannya di masa lalu, namun ia menegaskan bahwa status "budi" yang diklaim Fir’aun adalah konsekuensi dari perbudakan sistematis terhadap kaumnya sendiri. Sebagaimana tercermin dalam Asy-Syu'ara ayat 22:
وَتِلْكَ نِعْمَةٌ تَمُنُّهَا عَلَيَّ أَنْ عَبَّدْتَ بَنِي إِسْرَائِيلَBudi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil.Perdebatan ini dengan cepat bergeser dari urusan domestik ke ranah ontologis. Fir’aun, dengan nada mengejek, mempertanyakan identitas Tuhan semesta alam. Musa menjawab dengan argumen maknawi yang kuat, merujuk pada Pencipta langit, bumi, dan segala isinya. Ketika Fir’aun mencoba memprovokasi para pembesarnya dengan menyebut Musa gila, sang nabi justru semakin tajam memberikan argumentasi tentang hukum alam—tentang Timur dan Barat yang beredar dalam keteraturan.
Ibnu Katsir dalam
Tafsir al-Quran al-Azhim menjelaskan bahwa ketika argumentasi maknawi Musa telah mematahkan segala syubhat (keraguan), Fir’aun mulai menggunakan kartu terakhir para tiran: ancaman penjara dan kekerasan fisik. Di sinilah intervensi hissi (yang dapat diindra) muncul. Tongkat yang berubah menjadi ular raksasa dan tangan yang bersinar laksana bulan menjadi bukti empiris yang melumpuhkan kesombongan sang raja.
Menariknya, respon Fir’aun adalah pola standar penguasa absolut yang terdesak. Ia menuduh mukjizat Musa sebagai "sihir" dan memobilisasi para penyihir kerajaan untuk melakukan tanding terbuka pada hari raya. Namun, seperti yang dicatat dalam surah Thaha, kebenaran tidak bisa dikalahkan oleh manipulasi visual. Para penyihir yang jujur justru bersujud dan beriman setelah melihat mukjizat Musa, yang memicu kemurkaan Fir’aun hingga ia memerintahkan eksekusi keji dengan memotong tangan dan kaki mereka secara bersilang.
Kezaliman Fir’aun mencapai puncaknya saat ia merasa kekuasaannya terancam oleh eksistensi Bani Israil. Ia memerintahkan pembunuhan bayi laki-laki untuk memutus mata rantai generasi. Musa, dalam posisinya sebagai pemimpin spiritual, hanya memberikan satu resep bagi kaumnya: istianah (memohon pertolongan kepada Allah) dan sabar.
Musa berdiri sebagai antitesis dari kekuasaan yang korup. Ia membuktikan bahwa ilmu dan kebenaran adalah otoritas yang lebih tinggi daripada takhta yang dibangun di atas darah perbudakan. Pada akhirnya, doa Musa dalam surah Yunus ayat 88 menjadi penutup dari babak panjang penindasan ini—sebuah permohonan agar harta dan hati para penindas dibinasakan karena mereka telah menyesatkan manusia dari jalan yang lurus.
Kisah ini bukan sekadar nostalgia teologis, melainkan sebuah analisis tajam tentang bagaimana kebenaran akan selalu menemukan jalannya untuk merobek tirai kesombongan, bahkan di hadapan penguasa yang merasa dirinya paling tinggi.
(mif)