Langit7, Jakarta - Dalam rangka penguatan produk wisata Danau Toba agar bertaraf internasional, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggelar
International Conference Heritage of Toba: Natural & Cultural Diversity di
TB Silalahi Center.
Konferensi internasional yang merupakan kolaborasi antara Kemenparekraf dengan Kompas ini, bertujuan agar Danau Toba sebagai destinasi super prioritas dan juga bagian dari UNESCO Geopark Global dapat semakin mendunia.
“Untuk menjaga keberlanjutan dan melestarikan aset dunia, Toba perlu menyatukan visi, berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan. Sehingga dapat memberikan dampak positif ekonomi, lingkungan, dan kesejahteraan bagi masyarakat dengan program yang tepat manfaat, tepat sasaran, dan tepat waktu,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, saat membuka konferensi internasional
Heritage of Toba, secara daring, Rabu (13/10).
Baca juga: Sandiaga Ajak Anggota Uni Eropa Bersinergi Geliatkan Sektor ParekrafDengan begitu, lanjut Sandi, diharapkan kegiatan ini dapat menciptakan inovasi dan terobosan baru dalam pengembangan destinasi super prioritas Danau Toba. Sehingga, dapat menjadi salah satu destinasi pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan lingkungan.
Dalam kesempatan itu, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf, Rizki Handayani menjelaskan, konferensi internasional ini dilakukan sebagai sarana diskusi. Selain itu, juga mencari berbagai solusi kedepan untuk mempertahankan dan menguatkan produk wisata yang ada di Toba.
Hal itu dilakukan dengan mengedepankan kearifan lokal dan pelestarian lingkungan. Sehingga wisatawan tidak hanya datang untuk berwisata tapi juga memberikan kontribusi dalam pemanfaatan lingkungan, pengembangan, dan konservasi budaya.
“Kami sudah membuat
travel pattern atau jalur wisata tematik, supaya segmentasinya lebih jelas. Mungkin ada yang datang ke sini karena hanya ingin melihat Danau Toba saja, dan
length of stay-nya hanya sehari atau dua hari. Tapi ketika kita membuat ini menjadi tematik, lebih bisa menarik minat masyarakat sehingga
length of staynya juga akan jauh lebih lama,” katanya.
Baca juga: Desa Wisata Cikakak Berpotensi Jadi Destinasi Berkelas DuniaJalur wisata tematik atau
travel pattern Kaldera Toba sendiri telah dirampungkan pada tahun 2020 oleh Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events), dengan mengusung tiga tema, yakni
eco culture, eco nature, dan eco science.
Jalur
eco nature melingkupi Air Terjun Sipiso Piso,
Lisa Andi Leo’s Organic Coffee, Pusuk Buhit Mountain, Taman Wisata Kera Sibaganding, dan Taman Eden 100 Tobasa.
Sementara untuk jalur
eco culture meliputi Lumban Suhi Suhi Toruan, Istana Makam Raja Sisingamangaraja, Sentra Ulos Desa Meat, Museum Batak TB Silalahi, Makam Tua Raja Sidabutar, dan Museum Huta Bolon Simanindo.
Baca juga: Sandiaga Dorong Penggunaan Konten Digital di Desa Wisata PandanrejoUntuk jalur
eco science terbagi empat subjalur yang masing-masing memiliki jalurnya sendiri. Subjalur itu adalah Kaldera Porsea, Kaldera Haranggaol, Kaldera Sibandang, dan Pulau Samosir. Dan pada 2022 akan dilanjutkan dengan pembuatan
storytelling, interpretasi, serta pelaksanaan uji trail pada tiga tema tersebut.
“Wisatawan saat ini membutuhkan
experience ketika berkunjung. Untuk itu, diharapkan biro perjalanan juga dapat membuat paket-paket wisata tematik ini,” tambah Rizki.
(zul)