Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 31 Mei 2026
home masjid detail berita

Al-Quran Ungkap Siasat Yahudi Mengubah Kalamullah Demi Syahwat Duniawi

miftah yusufpati Kamis, 09 April 2026 - 05:52 WIB
Al-Quran Ungkap Siasat Yahudi Mengubah Kalamullah Demi Syahwat Duniawi
Pelajaran penting dari interpretasi sejarah ini adalah kewaspadaan terhadap model-model pemikiran yang mencoba mendudukkan hawa nafsu di atas wahyu Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sejarah agama-agama samawi kerap kali diwarnai oleh ketegangan antara kesucian wahyu dan ambisi para penganutnya. Di antara sekian banyak catatan, perilaku kaum Yahudi terhadap teks suci menjadi salah satu yang paling krusial sekaligus tragis. Dalam panggung teologi, mereka dikenal memiliki kecenderungan unik sekaligus berbahaya: kemampuan untuk mengubah kalimat-kalimat Allah dari makna yang sebenarnya, sebuah tindakan yang dalam literatur Islam disebut sebagai tahrif.

Dalam kitab Al-Mujaz Fil Adyan Wal Madzahib Al-Muashirah, DR. Nashir bin Abdullah Al-Qifari dan DR. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql menguliti lapisan-lapisan karakter ini dengan saksama. Berdasarkan pemaparan Adi Abdul Jabbar, bangsa ini dipotret sebagai kelompok yang memiliki kerusakan moral sistemik, terutama dalam berinteraksi dengan syariat. Mereka bukan sekadar tidak tahu, melainkan dengan sadar melakukan rekayasa intelektual terhadap wahyu agar selaras dengan hawa nafsu dan tujuan-tujuan politis maupun materialistik yang rusak.

Al-Quran dalam berbagai surat memberikan konfirmasi atas praktik ini. Surah Al-Maidah ayat 13 dan An-Nisa ayat 46 secara eksplisit menyebutkan bahwa mereka suka mengubah perkataan Allah dari tempat-tempatnya. Ini adalah sebuah bentuk pengkhianatan intelektual di mana kata-kata Tuhan ditarik keluar dari konteks aslinya atau diubah maknanya demi keuntungan sesaat. Lebih jauh lagi, mereka sengaja melupakan sebagian peringatan yang seharusnya menjadi pedoman hidup, hanya karena peringatan tersebut mengusik zona nyaman mereka.

Fenomena memutar-mutar lidah saat membaca kitab adalah taktik lain yang diungkap dalam Surah Ali Imran ayat 78. Ada segolongan dari mereka yang menggunakan kecakapan linguistik untuk mengelabui pendengar. Mereka membaca sesuatu dengan gaya sedemikian rupa sehingga orang awam menyangka itu adalah bagian dari kitab suci, padahal itu hanyalah gubahan manusia yang disisipkan. Mereka berani mengklaim bahwa kebohongan itu datang dari sisi Allah, sebuah kedustaan yang dilakukan dengan kesadaran penuh demi melegitimasi kepentingan kelompok.

Kecerdikan yang melampaui batas ini juga terlihat dalam cara mereka menyikapi hukum-hukum praktis. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah memberikan peringatan keras melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Beliau menceritakan bagaimana Allah mengharamkan lemak atau gajih atas mereka. Bukannya patuh, mereka justru mencari celah hukum dengan cara menjual lemak tersebut dan memakan uang hasil penjualannya. Logika yang mereka bangun adalah bahwa mereka tidak memakan lemaknya, melainkan memakan uangnya. Sebuah akal-akalan hukum yang secara substansi tetap merupakan pelanggaran terhadap larangan Tuhan.

Kisah tentang hari Sabtu atau Ashabul Sabt juga menjadi bukti klasik bagaimana mereka berusaha mengakali batasan Allah. Ketika dilarang menangkap ikan pada hari Sabtu, mereka memasang jaring pada hari Jumat dan memanennya pada hari Minggu. Secara teknis mereka merasa tidak melanggar, namun secara hakikat mereka telah mengolok-olok hukum Allah demi memuaskan kerakusan materi.

Sifat ini menunjukkan bahwa agama bagi mereka hanyalah alat, bukan tujuan. Jika agama tidak mendukung agenda duniawi mereka, maka agama itulah yang harus diubah atau dicari-cari pintu belakangnya. Makar terhadap syariat ini menjadi pola permanen yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kesombongan intelektual mereka membuat mereka merasa mampu menipu Sang Pencipta, padahal tipu daya itu sebenarnya hanya menjerat diri mereka sendiri dalam kehinaan.

Pelajaran penting dari interpretasi sejarah ini adalah kewaspadaan terhadap model-model pemikiran yang mencoba mendudukkan hawa nafsu di atas wahyu. Apa yang dilakukan kaum Yahudi di masa lalu merupakan prototipe dari segala bentuk liberalisasi dan distorsi hukum yang mengatasnamakan Tuhan. Ketika kebenaran menjadi barang dagangan dan kitab suci dijadikan alat pembenar bagi syahwat kekuasaan, di situlah kehancuran sebuah bangsa bermula. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran, mereka mengetahui kebenaran itu, namun mereka memilih untuk menguburnya dalam tumpukan kedustaan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 31 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)