LANGIT7.ID-Jakarta; PP Muhammadiyah terus memperkuat fondasi bisnis kesehatan dari sisi hulu dengan mengembangkan pasar internal cairan infus melalui PT Suryavena Farma Indonesia. Dalam dua tahun terakhir, distribusi produk ini sudah berjalan dan mulai membentuk pola penyerapan di jaringan layanan kesehatan milik Muhammadiyah.
Direktur Utama Suryavena Farma Indonesia sekaligus Wakil Ketua Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah, Tatat Rahmita Utami, mengungkapkan bahwa kebutuhan cairan infus di lingkungan Muhammadiyah sangat besar dan selama ini masih bergantung pada pasokan dari luar.
Dengan jaringan sekitar 130 rumah sakit dan lebih dari 300 klinik, kebutuhan cairan infus terus meningkat setiap tahun. Namun, hingga saat ini, pasokan produk tersebut belum berasal dari ekosistem internal Muhammadiyah.
“Jadi, dari sejak dua tahun yang lalu, pasar cairan infus untuk internal Muhammadiyah itu sudah berjalan,” ujar dia usai Launching PT Suryavena Farma Indonesia, di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Senin (13/4/2026).
Baca juga: PP Muhammadiyah Bangun Pabrik Cairan Infus Rp800 Miliar di Malang, Target Produksi 2028Melalui Suryavena, PP Muhammadiyah mulai mengisi kebutuhan tersebut meskipun produksi masih dilakukan dengan skema maklun atau bekerja sama dengan pabrik pihak lain. Kondisi ini membuat suplai masih bergantung pada kapasitas dan kebijakan mitra produksi.
Meski begitu, pasar internal yang terbentuk dinilai cukup kuat. Bahkan, permintaan tidak hanya datang dari jaringan Muhammadiyah, tetapi juga mulai muncul dari pihak luar karena harga yang lebih kompetitif dengan kualitas yang tetap terjaga.
“Sekarang ini pun karena harga Suryavena itu rata-rata dengan kualitas yang bagus tapi harganya di bawah harga pasar yang lain, banyak yang non Rumah Sakit Muhammadiyah pengen beli," ujar dia.
Ke depan, Muhammadiyah memperkirakan total kebutuhan cairan infus di seluruh jaringan rumah sakitnya bisa mencapai sekitar 13 juta botol per tahun. Angka ini menjadi dasar perencanaan kapasitas produksi sekaligus memperlihatkan besarnya potensi pasar internal yang bisa dioptimalkan.
Saat ini, pemenuhan kebutuhan tersebut masih dilakukan secara bertahap. Sebagian besar suplai masih berasal dari luar, sementara kontribusi Suryavena baru mencakup sebagian dari total kebutuhan.
Langkah penguatan pasar internal ini menjadi bagian penting dari strategi Muhammadiyah untuk membangun kemandirian di sektor kesehatan, sekaligus membuka peluang ekspansi ke pasar yang lebih luas di luar jaringan organisasi.
(lam)