LANGIT7.ID, Jakarta - Pemerintah melalui Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga membantah jika ada utang tersembunyi terkait proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.
Bantahan tersebut dilakukan usai AidData, lembaga riset asal AS dalam publikasi mereka berjudul
“Banking on the Belt and Road: Insights from a new global dataset of 13,427 Chinese development projects” menyebutkan jika Indonesia memiliki utang tersembunyi
(hidden trap) sebesar RpUS$17,28 miliar atau setara Rp245,37 triliun kepada pemerintah Cina.
"Tidak ada sama sekali utang tersembunyi dari China untuk proyek kereta cepat karena semua tercatat di Pinjaman Komersial Luar Negeri (PKLN) Bank Indonesia," kata Arya dalam keterangannya, Sabtu (16/10).
Menurutnya laporan tersebut hoaks dan tendesius. Indonesia, jelasnya tidak memiliki utang tersembunyi meski saat ini sedang ramai inveasti proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung membengkak.
Berasarkan laporan AidData pada akhir September 2021 lalu utang Indonesia kebanyakan muncul akibat pendanaan berbagai proyek terkait strategi
Belt and Road Initiative (BRI) yang digagas Cina.
Belt and Road Initiative, atau sering disebut proyek jalur sutra Cina, adalah ambisi Cina untuk menghubungkan Cina dengan 70 negara, melalui pembangunan infrastruktur berupa pelabuhan, rel kereta api, jalan tol dan sebagainya.
Cina mendanai berbagai proyek infrastruktur di negara-negara tersebut, dengan skema utang.
Memang dalam laporan tersebut tidak hanya menyebut Indonesia. Laporan tersebut menganalisis data sebanyak 13.427 proyek di 165 negara senilai 843 miliar dolar AS. Berbagai proyek itu dibiayai lebih dari 300 lembaga pemerintah dan badan-badan milik negara China.
(sof)