LANGIT7.ID - Rasulullah SAW menyebarkan Islam dengan penuh kedamaian. Oleh sebab itu ia disebut sebagai rahmatan lil ‘alamin atau rahmat bagi alam semesta. Hal itu termaktub dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Founder Al-Fahmu Institute, Ustadz Fahmi Salim, mengatakan, rahmatan lil alamin dalam ayat di atas memiliki dua arti yakni risalah karena terdapat kata risalah dan dhomir ‘ka’ yang berarti ‘engkau Muhammad’. Ini menunjukkan risalah dan Nabi Muhammad adalah rahmat untuk semua alam semesta.
Islam sebagai rahmat bagi alam semesta diakui oleh ilmuwan barat. Misalnya Thomas Carlyle, sejarawan Inggris peraih hadiah nobel. Carlyle memberikan pujian kepada Nabi Muhammad sebagai sosok yang membawa kebenaran.
“Sungguh menjadi sangat aib bagi siapapun yang berbicara pada masa ini mengeluarkan ungkapan bahwa agama Islam adalah kedustaan dan bawah Muhammad adalah penipu. Kita harus memerangi kata-kata yang absurd dan memalukan ini.Sesungguhnya risalah yang ditunaikan utusan (rasul) tersebut masih menjadi pelita yang bercahaya selama 12 abad lamanya,” kata Carlyle dalam bukunya yang berjudul
‘On Heroes, Hero-Worship, and The Heroic in History’.
Baca Juga: Sejarawan Inggris Thomas Carlyle Akui Rasulullah sebagai Pahlawan Terhebat Sepanjang Sejarah
Dari situ, Ustadz Fahmi Salim menegaskan, Islam bukan arabisme. Islam bukan agama Arab. Islam memberikan kesempatan kepada semua bangsa untuk tampil sebagai pemimpin peradaban. Itu terbukti dalam sejarah. Pemimpin Islam silih berganti. Misalnya bangsa Turki dan Mongol, mereka memimpin dunia sehingga Islam bisa tersebar ke India hingga ke China.
“Kita kan menghadapi islamophobia. Jejak orang-orang yang anti-Islam di Barat itu ingin menghalangi manusia dari jalan Allah, mereka selalu menggambarkan Muhammad sebagai sosok yang jahat, jelek, pembunuh, suka perang, artinya tidak manusiawi dengan berbagai macam alasan,” kata Ustadz Fahmi Salim melalui kanal youtube MIUMI, dikutip Selasa (19/10/2021).
Pernyataan Islam tersebar dengan kekerasan tidak bisa dibenarkan. Ustadz Fahmi Salim menyebut, pada zaman Rasulullah terjadi 82 kali peperangan. Namun 60 tidak terjadi kontak fisik sama sekali atau tidak ada pertumpahan darah. 5 kali tidak ada satu pun korban dari kalangan musyrikin. 17 peperangan menelan korban hingga 1004 orang, 252 dari kalangan muslim dan 752 dari kalangan musyrik.
“Artinya apa? Selama 23 tahun Rasulullah berdakwah sedikit sekali jumlah orang orang yang mati dalam medan pertempuran. Jadi tidak bisa dijadikan landasan Islam tersebar karena kekerasan,” ucap Ustadz Fahmi Salim.
Islam berkembang dengan kedamaian. Pada abad pertama hijriyah, umat Islam yang masuk ke Persia, Irak, Mesir hingga Andalusia masih sangat minoritas. Jumlah mereka hanya 5 persen di Persia, di Suriah bekas Romawi Timur hanya 2 persen, di Andalusia 1 persen. Jumlah Islam berkembang hingga 50 persen pada abad ke 3 hijriah.
“Islam membebaskan sebuah negeri dengan damai, meskipun ditaklukkan dengan peperangan, tetapi tidak memaksa penduduk lokal itu untuk masuk Islam. Itu fakta-fakta yang ada. Tidak ada umat Islam masuk menyebarkan, tidak ada pemusnahan, atau pembantaian suatu bangsa, tidak ada pembersihan satu etnis, atau menjadikan warga lokal sebagai hamba sahaya. Bahkan banyak kaum minoritas mendapatkan kedudukan terhormat dalam pemerintahan Islam,” ucap beliau.
(jqf)