LANGIT7.ID - Indonesia tanah airku, ini bukan sekadar lagu, tapi juga ikrar yang harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Hal terpenting untuk menimbulkan rasa memiliki Indonesia sebagai tanah air.
Demikian disampaikan oleh Habib Luthfi bin Yahya pada Hari Kesaktian Pancasila, Pekalongan, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.
Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya atau yang lebih sering disapa Habib Luthfi bin Yahya, adalah seorang Ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang konsisten dalam ceramahnya selalu menggaungkan soal persatuan dan kesatuan NKRI.
Sebuah gagasan dakwah yang sejalan dengan konsep “Agama tidak mungkin tegak tanpa negara.” Di mana nilai keagamaan dan sifat yang ada dalam nasionalisme dapat terwujud lewat negara atau pemerintahan.
Materi dakwah yang
up to date seiring permasalahan yang ada dengan urusan kenegaraan, membuat pria yang juga mencintai musik klasik ini mampu memberikan jawaban dari setiap urusan di tanah air.
Saking konsistennya berdakwah dalam urusan persatuan dan kesatuan NKRI, ulama kharismatik yang pembawaannya tenang dalam setiap ceramah ini, mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada akhir tahun lalu.
Negara dalam pandangan Islam yang merupakan perwujudan dari moral, etika, keadilan dan kesejahteraan, membuat perkawinan antara Islam dan negara tidak bisa dipisahkan. Keterkaitan keduanya menjadikan Islam yang memiliki tujuan mengatur kehidupan sosial masyarakat dan negara membutuhkan Islam sebagai panduan moral.
Habib Luthfi yang juga merupakan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) periode 2019-2024, selalu berpesan akan pentingnya persatuan antar umat beragama. Untuk mencintai sebuah bangsa, maka diperlukan kecintaan terhadap sejarah.
“Kalau bangsa ini, generasi muda ini tahu bagaimana susahnya perjuangan, pastilah tidak akan mudah diprovokasi. Minimal tidak mudah menyalahkan sana-sini,” katanya.
Seorang panutan yang menjadi contoh bagaimana membuktikan kecintaannya kepada bangsa. Ia mendirikan organisasi kemasyarakatan (Ormas) Pecinta Tanah Air Indonesia (Petanesia), di dalamnya ia tanamkan pula pentingnya
Hubbul Wathan Minal Iman. Sebuah ajaran khas NU, yang kalimat itu memiliki arti cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Hal ini merupakan sebuah bentuk menjaga bangsa dari perpecahan dalam perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan.
Habib Luthfi menjadi sosok yang jelas sekali menjadi jembatan antar perbedaan kelompok yang menekankan pentingnya ke-Indonesia-an dan ke-Islam-an. Dua hal yang sensitif untuk dibahas, meski dalam bisikan. Namun, Habib Luthfi menjadi orang yang berpengaruh dalam mempersatukan perbedaan.
Pengaruh InternasionalUlama kelahiran Pekalongan 10 November 1946 ini banyak mengisi dakwah di daerah kelahirannya. Namanya juga dikenal sebagai Ra’is ‘Am
Jam'iyah Ahlu Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyyah (Jatman).
Jatman merupakan organisasi dibawah NU yang mewadahi tarekat dalam dakwah terkait nasionalisme. Selain itu, ia juga menjabat sebagai sebagai anggota dewan pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2016-2021.
Pengabdiannya dalam Islam dan Indonesia membuat namanya dikenal dunia Islam Internasional. Ia dinobatkan sebagai Ketua Forum Sufi Internasional secara aklamasi pada 2019. Selain itu, lembaga riset independen, The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Jordania, juga memasukkan nama Habib Luthfi ke dalam daftar 50 tokoh Islam paling berpengaruh pada 2019 lalu, bersanding dengan tokoh lain dari Indonesia, yakni Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj.
(jqf)