LANGIT7.ID-, Jakarta - - Dikenal sebagai
komedian dengan gaya satir dan celetukan khas Madura,
Tretan Muslim mengaku menghadapi tantangan berbeda saat membintangi
film layar lebar pertamanya, Foufo.
Di film garapan Bayu Skak dan Skak Studios ini, Muslim dituntut menampilkan sisi emosional melalui sejumlah adegan drama yang intens.
Ia mengaku tidak menyangka karakter yang diperankannya hampir tidak memberi ruang untuk melontarkan komedi. Sebaliknya, ia harus mendalami peran sebagai Muslim, seorang pengepul
barang bekas asal
Madura yang berjuang keras demi memberangkatkan ibunya menunaikan
ibadah haji.
Baca juga: Tretan Muslim Ejek Rocket Rockers, Eks Vokalis Jawab tak Terduga"Saya enggak menyangka kalau perannya itu bahkan saya enggak dikasih komedi di sini. Nah, itu menarik. Malah justru banyak suruh drama," kata Muslim seperti dikutip dari Antara, Kamis (18/6/2026).
Selain itu, peran tersebut menuntutnya untuk beradegan menangis. Demi membangun suasana batin, ia menggunakan pengalaman pribadinya sebagai sumber penghayatan.
Menurut Muslim, cara paling efektif untuk memunculkan emosi adalah dengan membayangkan kondisi sang ibu di kehidupan nyata.
Ia mengaku menyimpan kesedihan karena belum bisa memberangkatkan ibu kandungnya ke Tanah Suci akibat kondisi kesehatan yang sudah tidak lagi prima.
"Di film ini, saya menghajikan ibu saya, di film ini yang jadi ibu saya, Ibu Siti Kam. Tapi di 'real life', saya enggak bisa menghajikan, karena kondisi ibu saya udah kurang fit fisiknya, gitu," kata Muslim.
Perasaan tersebut menjadi titik masuk bagi Tretan untuk memahami pergulatan batin karakter yang diperankannya. Keinginan seorang anak untuk membahagiakan orang tua melalui ibadah haji, menurut dia, merupakan emosi yang dekat dengan banyak keluarga Indonesia.
Baca juga: Unik dan Laris, Sarung Motif Luar Angkasa ala Komika Tretan MuslimNamun, proses pendalaman peran itu tidak berhenti pada pengalaman pribadi. Muslim kemudian mengaitkannya dengan persoalan korupsi kuota haji yang membuat banyak orang tertunda berangkat ke Tanah Suci.
Ia menilai praktik korupsi yang berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah haji menyisakan dampak besar bagi masyarakat. Fakta tersebut, kata dia, turut memperkuat emosi yang dibutuhkan dalam beberapa adegan film.
“Dan juga kuota haji kan dikorupsi juga. Ini sedih juga, banyak orang yang tidak haji-haji,” ujarnya.
(est)