Cerita Hanung Bramantyo Beri Jam Kerja Sehat untuk Aktor Anak di Children of Heaven
esti setiyowatiSenin, 18 Mei 2026 - 19:04 WIB
Cerita Hanung Bramantyo Beri Jam Kerja Sehat untuk Aktor Anak di Children of Heaven. Foto: Instagram/mdentertainment.
LANGIT7.ID, Jakarta,- - Sutradara Hanung Bramantyo mengaku memiliki pengalaman yang penuh tantangan sekaligus emosional saat menggarap film remake Children of Heaven. Film produksi MD Pictures itu menjadi salah satu proyek yang cukup personal bagi Hanung, terutama karena kembali melibatkan banyak aktor anak-anak.
Melalui unggahan di media sosialnya, Hanung membagikan momen kebersamaan bersama keluarganya saat menghadiri gala premiere film tersebut. Ia mengaku akhirnya bisa membawa seluruh anak-anaknya ke acara premiere, sesuatu yang jarang terjadi dalam perjalanan kariernya.
“Akhirnya bisa ngajak anak-anak lengkap ke Gala Premiere. Biasanya premiere cuma dihadiri thole Barmastya Bhumi. Itupun karena dia udah merangkap crew,” tulis Hanung di laman Instagramnya pada Senin (18/5/2026).
Hanung juga bercerita bahwa keputusan untuk kembali membuat film anak-anak bukan perkara mudah. Menurutnya, proses produksi film yang melibatkan anak membutuhkan perhatian ekstra, terutama terkait jam kerja yang harus tetap ramah dan sehat bagi para pemain cilik.
Ia menyebut sistem kerja dalam industri film kerap cukup berat bagi anak-anak. Karena itu, dirinya berupaya keras menciptakan pola produksi yang lebih manusiawi selama proses syuting berlangsung.
“Awalnya berat kembali membuat film anak-anak karena jam kerja yang kejam buat anak-anak. Menerapkan jam kerja sehat memang butuh perjuangan. Alhamdulillah di film kali ini berhasil,” ungkapnya.
Hanung berharap hasil kerja keras seluruh tim dapat dirasakan penonton ketika film tersebut tayang di bioskop mulai 27 Mei 2026 mendatang.
Film Children of Heaven sendiri merupakan adaptasi dari film legendaris asal Iran karya Majid Majidi yang pernah masuk nominasi Academy Awards. Versi Indonesia menghadirkan kisah hangat tentang perjuangan kakak beradik dalam menghadapi keterbatasan hidup, dengan latar Kota Semarang tahun 1988.