LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Film animasi "Merah Putih: One for All" masih menjadi sorotan utama publik. Setelah sutradara
film "Jumbo", Ryan Adriandhy, memberi kritik keras pada karya rumah produk Perfiki Kreasindo, kini sineas Hanung Bramantyo ikut buka suara terkait polemik film tersebut.
Lewat media sosial miliknya, Hanung menyentil biaya pembuatan
film animasi yang disebut menelan bujet hingga Rp6,7 miliar.
Baca juga: Kritik Keras Sutradara Jumbo ke Film Animasi Merah Putih One for AllMenurut Hanung, anggaran yang diberikan untuk pembuatan film yang akan tayang pada 14 Agustus 2025 itu tidak cukup untuk membuat animasi yang baik.
Bahkan, sutradara "Ayat-Ayat Cinta" ini blak-blakan menyebut hasil film tersebut buruk.
"Budget 7M untuk
Film Animasi, potong pajak 13 persen kisaran 6M, sekalipun tidak dikorupsi, hasilnya tetap JELEK!!!" kata Hanung unggahannya, dilihat Senin (11/8/2025).
Hanung menyebut angka Rp30 miliar hingga Rp40 miliar sebagai bujet yang ideal untuk pembuatan film animasi. Suami artis
Zaskia Adya Mecca ini juga menekankan bahwa film animasi yag baik membutuhkan durasi pengerjaan bertahun-tahun.
Sementara, kata Hanung, biaya Rp6 miliar yang dihabiskan oleh
film "Merah Putih" idealnya baru sampai tahap
storyboard bergerak.
Baca juga: Jumbo Jadi Film Animasi Terlaris Se-Asia Tenggara Usai Pecahkan Rekor Box Office Lokal"FYI, budget pembuatan film animasi minimal di 30-40M di luar promosi. Dan dikerjakan dalam jangka waktu 4-5 tahun. Budget 6M hanya sampai tingkat previs (kumpulan storyboard berwarna yang digerakkan sebagai panduan animator)," tambah Hanung.
"Kalau itu yang dutayangkan, sudah pasti penonton akan resisten. Ibarat membangun rumah, belom dipelur semen dan lantainya masih cor-coran kasar," jelasnya.
Sebagai informasi,
film animasi "Merah Putih: One for All" menjadi sorotan publik usai trailernya muncul di khalayak. Film bertema nasionalisme ini pun mendulang kritikan dari masyarakat.
Warganet menilai kualitas animasi film tersebut sangat buruk. Bahkan, karakternya dinilai masih kasar juga kaku. Apalagi waktu pengerjaannya yang memakan waktu kurang dari satu bulan yang membuatnya terkesan terburu-buru.
Baca juga: Dua Alumni PCU Surabaya Punya Andil di Balik Film Animasi Indonesia Jumbo(est)