LANGIT7.ID-, - Penampilan aktris Hollywood
Anne Hathaway saat menikmati liburan di Saint-Tropez,
Prancis, belakangan menjadi sorotan. Bukan karena gaun rancangan desainer ternama, melainkan pilihan
busana renang yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Pemeran film "The Devil Wears Prada" itu terlihat mengenakan
pakaian renang tertutup dengan motif
tie-dye yang dirancang untuk memberikan perlindungan lebih dari paparan sinar matahari.
Penampilannya menuai banyak pujian di media sosial karena dianggap praktis sekaligus tetap bergaya.
Baca juga: Usai Viral Ucap Insya Allah, Anne Hathaway Dihadiahi Mushaf Qur'an dari FansNamun, di balik pujian tersebut, muncul perdebatan yang lebih luas mengenai standar ganda dalam penerapan aturan berpakaian di
Prancis.
Sejumlah aktivis, penulis, dan pengamat menilai pakaian yang dikenakan Hathaway sangat mirip
burkini, baju renang yang biasa dikenakan para Muslimah.
Bedanya, busana serupa kerap menjadi kontroversi saat dipakai oleh perempuan Muslim di sejumlah
ruang publik di Prancis.
Di media sosial, netizen mempertanyakan alasan pakaian renang tertutup dianggap pilihan mode yang sah saat dikenakan seorang artis, namun berubah menjadi penolakan ketika dipakai oleh perempuan Muslim.
Dilansir dari
The New Arab, Selasa (30/6/2026), penulis dan aktivis Boutina Azzabi, misalnya, mengungkapkan pengalamannya pernah ditolak masuk kolam renang umum karena mengenakan hijab dan pakaian renang tertutup.
Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata jenis pakaian, melainkan siapa yang mengenakannya.
"Prancis menyebutnya sekularisme. Namun, sekularisme yang diterapkan kepada perempuan Muslim bukanlah sikap netral terhadap agama. Yang terjadi adalah ketidaknyamanan terhadap keberadaan simbol-simbol Islam yang terlihat jelas," kata Azzabi.
Baca juga: Viral Ucapan “Insya Allah” Anne Hathaway, Ini Makna Sebenarnya dalam IslamPandangan serupa juga disampaikan oleh peneliti Rayan Freschi. Menurutnya, larangan terhadap simbol-simbol keagamaan merupakan cerminan perang Prancis terhadap Islam dan umat Muslim.
"Islam dipandang sebagai ancaman internal terhadap peradaban, sehingga hampir seluruh spektrum politik di Prancis, dalam kadar yang berbeda-beda, mendukung kriminalisasi terhadap Islam,"
"Sejak dimulainya Perang Melawan Teror (War on Terror), telah muncul konsensus yang bersifat represif terkait praktik salat, penggunaan hijab, hingga aspirasi politik umat Muslim. Konsensus inilah yang menjelaskan mengapa kasus ini hampir tidak mendapat perhatian dari media dalam negeri," ujarnya.
Pendayung sekaligus politikus Prancis-Maroko, Sarah Fraincart, juga ikut menanggapi polemik tersebut.
"Tak seorang pun akan berpikir untuk mengusir Anne Hathaway dari pantai karena mengenakan pakaian renang tertutup seperti ini. Namun, jika seorang perempuan Muslim mengenakan busana yang sama, hal itu bisa menjadi kontroversi nasional. Bagi yang satu, itu dianggap sebagai pilihan yang bertanggung jawab dan bergaya. Bagi yang lain, justru dipandang sebagai bentuk penindasan," tulisnya dalam unggahan di Instagram.
Perdebatan ini kembali mengangkat isu lama mengenai konsep "laïcité" atau sekularisme di Prancis. Pemerintah Prancis menyatakan prinsip tersebut bertujuan menjaga netralitas negara terhadap agama.
Baca juga: Anne Hathaway Jadi Sorotan Usai Ucap Insya Allah dalam Wawancara Namun, sebagian besar organisasi HAM mengkritisi sejumlah kebijakan Prancis yang dinilai tidak berimbang terhadap perempuan Muslim, termasuk pembatasan penggunaan hijab di beberapa institusi publik serta larangan busana renang tertentu di sejumlah fasilitas umum.
Kasus Anne Hathaway memperlihatkan bagaimana sebuah pilihan busana dapat dimaknai secara berbeda bergantung pada siapa pemakainya.
Bagi sebagian orang, pakaian renang tertutup dipandang sebagai bentuk perlindungan dari sinar matahari atau preferensi pribadi. Namun bagi sebagian perempuan Muslim di Prancis, pilihan yang sama masih dapat memunculkan pembatasan maupun perdebatan di ruang publik.
(est)