LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, mengapresiasi buku Alih Bahasa Kitab Salasilah Raja-Raja di Minangkabau, sebuah buku yang memuat silsilah, sistem politik, serta jejak migrasi dan ekspansi para raja Minangkabau. Hal ini disampaikan di depan para budayawan di sela kegiatan Peluncuran Buku Alih Bahasa Kitab Salasilah Raja-Raja di Minangkabau yang berlangsung di Arsari Function Hall, Yayasan Arsari Djojohadikusumo, Jakarta.
Menbud Fadli Zon menyampaikan bahwa peluncuran buku Alih Bahasa Kitab Salasilah Raja-Raja di Minangkabau bukan hanya menghadirkan sumber sejarah baru bagi kalangan akademisi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkaya literasi masyarakat mengenai sejarah bangsa.
“Narasi literasi Indonesia tentang sejarah masa lalu merupakan bagian identitas dan jati diri bangsa yang sangat potensial untuk diangkat. Dan tentu saja ini akan memberi pengetahuan tentang masa kini dan juga ke depan,” ujar Menbud Fadli Zon dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).
Ia juga mendorong pendokumentasian sejarah lokal melalui beragam literasi yang dapat menambah khazanah perbendaharaan serta memperkuat identitas, jati diri, serta pemahaman masyarakat terhadap perjalanan peradaban Indonesia.
“Saya mendorong untuk semakin banyak buku-buku literasi yang dapat diangkat dari sejarah lokal masing-masing yang menambah khazanah perbendaharaan dari kekayaan budaya Nusantara, sekaligus sebagai cara pandang melihat Indonesia sebagai
cultural megadiversity,” ucap Menbud.
Buku Alih Bahasa Salasilah Raja-Raja di Minangkabau merupakan manuskrip alih bahasa yang memperluas akses masyarakat dan kalangan akademik terhadap salah satu sumber sejarah lokal yang selama ini belum banyak dikenal, sekaligus mendorong lahirnya kajian-kajian ilmiah yang lebih komprehensif mengenai sejarah Minangkabau dan kawasan Melayu.
Turut hadir dalam agenda tersebut, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; serta Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, I Made Dharma Sutedja.
Kementerian Kebudayaan memandang bahwa manuskrip merupakan bagian penting dari Objek Pemajuan Kebudayaan yang menyimpan pengetahuan, nilai, serta memori kolektif bangsa. Melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat adat, dan berbagai pemangku kepentingan, akan semakin banyak manuskrip Nusantara yang dapat diteliti, dilestarikan, dan dimanfaatkan sebagai sumber ilmu pengetahuan.
(lam)