LANGIT7.ID-, Jakarta - - Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Berdasarkan data dari
Charity Aid Foundation (CAF), Indonesia dinobatkan sebagai
negara paling dermawan di dunia selama tujuh tahun berturut-turut melalui penilaian
World Giving Index (WGI).
Kendati kedermawanan masyarakat sangat tinggi, potensi
zakat nasional yang mencapai Rp 327 triliun dinilai belum terealisasi secara maksimal. Banyak
umat Islam yang dinilai belum sepenuhnya sadar untuk menunaikan kewajiban berzakat.
Baca juga: Menjelang Wafat, Nabi Muhammad Perintahkan Sedekah Seluruh Sisa Harta Tujuh Dinar
Bendahara Jurnalis Filantropi Indonesia, Ahmad Zuhdi, mengungkapkan bahwa setidaknya ada dua faktor utama mengapa sebagian umat Muslim masih berat mengeluarkan zakat.
"Pertama, ada ego yang merasa bahwa harta melimpah itu murni hasil kerja keras dan jerih payah sendiri. Kedua, masih banyak yang menganggap bahwa memberi atau membantu
fakir miskin itu adalah kegiatan 'mengurangi kesenangan', bukan investasi atau menabung untuk akhirat," ujar Zuhdi dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026).
Lebih lanjut, dia menekankan, secara etimologi, zakat (zaka) bermakna tumbuh dan berkembang (nama yanmu). Hal ini dikuatkan oleh hadis riwayat Imam Muslim bahwa sedekah tidak akan pernah mengurangi harta.
Untuk menjelaskan konsep ini secara logis, ia memberikan beberapa analogi menarik. Ibarat kakek penjual balon, ketika ia meniupkan napasnya ke dalam balon, udara di dalam paru-parunya tidak habis, justru balonnya mengembang dan memberi kebahagiaan.
"Begitu pula ilmu yang diajarkan guru atau air zamzam yang terus dikuras; ia tidak pernah berkurang, justru semakin jernih dan berkah," tuturnya.
Merujuk pandangan para ulama termasuk Imam Ash-Shan'ani, kalimat "tidak mengurangi harta" memiliki tiga tafsiran kuat. Pertama, Allah SWT akan melimpahkan keberkahan pada sisa harta yang disimpan.
Baca juga: Begini Status Hukum Sampainya Pahala Sedekah Kurban ke Alam Kubur
Kedua, pelaku sedekah mendapatkan ganjaran pahala yang abadi. Ketiga, Allah SWT berjanji akan menggantikan kembali harta yang telah dikeluarkan, sebagaimana termaktub dalam Surah Saba' ayat 39 dan hadis tentang malaikat yang selalu berdoa agar Allah memberikan ganti bagi orang yang berinfak.
Ia mengingatkan bahwa setiap Muslim dituntut melakukan Ibadah Maliyah (ibadah harta). Bahkan, Rasulullah SAW memerintahkan orang miskin sekalipun untuk bersedekah demi menjaga diri dari api neraka, walau hanya dengan sebiji kurma.
(est)