LANGIT7.ID-, Jakarta- - Ketua Pelaksana Badan Wakaf Indonesia, Prof KH Mohammad Nuh mengungkapkan, konsep
wakaf dalam Islam memiliki keutamaan dan keistimewaan yang sangat agung. Selain menyejahterakan masyarakat, wakaf juga merupakan amal jariyah yang pahalanya tidak akan pernah terputus meski wakif (orang yang mewakafkan hartanya) sudah meninggal dunia.
Dalam Islam, kata dia, ada sistem keuangan sosial Islam (
social financial Islamic). Sistem keuangan sosial itu dibagi menjadi zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf). Ziswaf merupakan instrument distribusi kekayaan dalam sistem ekonomi Islam.
Lalu, apa beda zakat, infak, sedekah, dan wakaf? ZIS (zakat, infak, dan sedekah) dikategorikan sebagai biaya operasional keumatan atau bisa juga disebut Operational Expenditure (OpEx) yang habis setiap tahun.
Baca juga:
Gerakan Wakaf Indonesia akan Jadi Motor Penggerak Perekonomian“Di dalam Islam juga ada namanya Capital Expenditure (CapEx) yang di antaranya seperti belanja investasi dan belanja modal, itulah yang namanya wakaf. Yaitu ditahan induknya, yang bisa dimanfaatkan dan dibagi-bagikan adalah hasil dari induk itu,” kata Nuh saat menyampaikan kajian di Masjid Istiqlal, dikutip Jumat (28/4/2023).
Menurut Nuh, OpEx dan CapEx sama-sama penting. Dia mencontohkan, jika ada keluarga yang pendapatannya habis dipakai untuk operasional harian, maka keluarga itu tidak bisa tahan lama. Tetapi untuk berjalan, keluarga itu butuh pendapatan operasional.
“Dan akan menjadi sempurna jika umat Islam memunyai ragam belanja modal (CapEx) atau dalam hal ini ialah wakaf,” ujar Nuh.
Nuh mencontohkan Masjid Istiqlal yang sudah merintis sejak dua tahun lalu sebagai naddzir wakaf. Ini agar Istiqlal tidak tergantung biaya operasionalnya dari masyarakat saja, namun sudah ada unit usaha investasi-investasi yang telah dilakukan Masjid Istiqlal. Sehingga, operasional Istiqlal bisa dicover.
“Bahkan, kebaikan Masjid Istiqlal bukan hanya untuk jamaah Istiqlal, tetapi juga untuk masyarakat dunia secara keseluruhan,” tutur Nuh.
Berwakaf bukan hanya untuk akhirat saja. Hidup ini adalah perjalanan, diawali dengan alam ruh. Setelah itu, manusia masuk kea lam rahim selama sembilan bulan. Melalui proses kelahiran, manusia lalu hidup di dunia.
“Sehingga, saat ini kita masuk ke dalam fase ketiga. Fase di mana kita mendapatkan tugas yaitu sebagai hamba Allah dan
khalifatullah,” ujar Nuh.
Baca juga:
Bagaimana Mendudukkan Doa dan Ikhtiar?Di alam dunia, manusia menuiapkan segala sesuatu untuk masuk ke fase keempat, yakni barzah. Siapapun yang tidak punya bekal, akan jadi bodoh atau gelandangan di alam barzah. Maka itu, Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar memiliki minimal tiga bekal sebelum meninggal dunia.
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang shalih.” (HR Muslim no. 1631).
Nuh menjelaskan alasan Rasulullah menempatkan sedekah jariyah di urutan pertama, bukan doa anak shalih. Ada rahasia di balik itu. rahasianya adalah karena sedekah jarihyah merupakan amal perbuatan yang paling mudah, dibandingkan ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakan.
“Sehingga, marilah kita beramai-ramai untuk berwakaf melalui nadzir wakaf yang yang ada di Masjid Istiqlal, dan kalau kita berwakaf jangan untuk diri kita sendiri, tapi berwakaflah untuk ibu, bapak, suami atau istri kita, dan untuk anak-anak serta keluarga kita. Karena itu semua akan menjadi bekal dari beliau-beliau, khususnya yang telah mendahului kita semua,” ungkap Nuh.
(ori)