LANGIT7.ID-Iraq; Pemerintah Iraq kini benar benar sedang bersih bersih untuk menumpas para koruptor. Dari perang melawan korupsi ini, Peradilan Irak mengumumkan pada Senin (7/7) bahwa otoritas telah menyita tambahan 25 miliar dinar Irak (setara Rp326 miliar), uang tunai 1 juta dolar AS (sekitar Rp16,3 miliar), serta lima kilogram perhiasan emas sebagai bagian dari penyelidikan korupsi yang melibatkan seorang menteri yang ditahan.
Dewan Peradilan Tertinggi Irak menyatakan bahwa uang tersebut ditemukan disembunyikan di dalam botol-botol air mineral plastik di kediaman Adnan Al-Jumaili, Wakil Menteri Minyak Urusan Penyulingan, di Tikrit. Dalam pernyataan yang dimuat oleh Iraq News Agency, disebutkan bahwa penggerebekan tersebut merupakan bagian dari penyelidikan atas dana yang diduga diperoleh melalui penyimpangan dalam proyek-proyek pemerintah.
Diaa Jaafar, hakim penyidik di Pengadilan Pidana Khusus Anti-Korupsi Pusat Irak, mengatakan dalam pernyataannya bahwa total aset yang disita hingga saat ini mencapai 127 miliar dinar Irak dan 24 juta dolar AS (sekitar Rp393 miliar), selain properti, kendaraan, dan perhiasan emas yang disita selama penyelidikan.
Ia menyatakan bahwa pemeriksaan dan upaya pelacakan terhadap tersangka lainnya masih terus berlanjut hingga seluruh prosedur hukum selesai dilaksanakan.
Sumber dari Komisi Integritas Irak mengatakan kepada Asharq Al-Awsat bahwa total nilai aset yang disita dari Al-Jumaili sejauh ini—termasuk uang tunai dan 70 properti—melebihi 250 miliar dinar Irak (sekitar Rp4,1 triliun).
Kementerian Dalam Negeri juga mengumumkan pada Senin penangkapan tersangka lain yang terkait dengan jaringan korupsi Al-Jumaili di Provinsi Salahuddin. Menurut kementerian tersebut, petugas intelijen menyita lebih dari 3 juta dolar AS (sekitar Rp49 miliar), lebih dari 750 juta dinar Irak, sejumlah senjata ringan, kendaraan modern, dan kontrak-kontrak pemerintah dari kediaman tersangka.
Pekan lalu, otoritas Irak menangkap 15 orang, termasuk anggota parlemen, ketua-ketua blok politik, dan mantan gubernur, atas tuduhan korupsi berdasarkan pengakuan yang diduga dibuat oleh Al-Jumaili. Sumber-sumber keamanan mengatakan bahwa tahanan terbaru menjabat sebagai direktur kontrak di Kilang Baiji, di mana otoritas menemukan uang tunai tersebut saat penggerebekan di rumahnya.
Meskipun mendapat dukungan luas dari publik terhadap kampanye pemberantasan korupsi pemerintah, masih ada skeptisisme mengenai apakah pemerintahan Perdana Menteri Ali Al-Zaidi akan mempertahankan langkah ini, atau sekadar membatasinya pada satu gelombang penangkapan saja. Keraguan publik semakin dipicu oleh pernyataan Al-Zaidi sebelumnya yang mengisyaratkan kemungkinan adanya penyelesaian di mana para tersangka bisa mendapatkan kembali kebebasannya setelah mengembalikan uang negara yang dikorupsi.
Sumber-sumber yang mengetahui jalannya perundingan di dalam Koalisi Kerangka Kerja Syiah yang berkuasa mengatakan kepada Asharq Al-Awsat bahwa sejumlah pemimpin koalisi semakin tidak puas dengan tindakan tegas terbaru ini, dan beberapa di antaranya mendesak perdana menteri untuk menghentikan kampanye tersebut karena khawatir penangkapan bisa menjangkau tokoh-tokoh yang berafiliasi dengan faksi mereka. Meskipun sebagian besar partai dalam Kerangka Kerja tersebut secara publik mendukung kampanye antikorupsi, sumber mengatakan bahwa sikap pribadi mereka berbeda dengan pernyataan publik mereka.
Ghalib Al-Daami dari Akademi Irak untuk Pemberantasan Korupsi mengatakan bahwa penyelidikan berjalan pada jalur domestik dan internasional yang paralel, menargetkan tersangka di dalam Irak maupun buronan di luar negeri. Ia menambahkan bahwa otoritas sedang mempersiapkan tindakan terhadap pengusaha yang dituduh gagal membayar pinjaman senilai miliaran dolar dari bank-bank Irak.
Al-Daami menepis kemungkinan pembebasan tahanan saat ini melalui penyelesaian keuangan dan mengatakan bahwa otoritas peradilan dan pengawasan sedang menangani 954 kasus yang melibatkan pemulihan aset yang diselundupkan ke luar negeri, selain 262 permintaan hukum terkait pemulihan dana yang ditransfer ke luar negeri oleh tersangka korupsi yang dipenjara.(*/saf/rnglish.aawsat.com)
(lam)