LANGIT7.ID, Jakarta - Sejak tahun 2015, setiap 22 Oktober di Indonesia diperingati sebagai hari santri nasional. Hal itu tidak bisa terlepas dari jasa kaum santri dalam upaya mempertahankan kemerdekan Republik Indonesia setelah KH Hasyim Asy’ari mendeklarasikan Resolusi Jihad di tanggal yang sama pada tahun 1945. Santri dan Pesantren, sejak sebelum Indonesia merdeka telah menjadi bagian tak terpisahkan dari republik ini sehingga perannya tak dapat diragukan lagi.
Hari ini, jumlah pesantren dan santri terus bertambah. Ada lebih dari 27 ribu pesantren dengan lebih dari 4 juta santri di Indonesia. Pesantren dan para santri ini dikelola dan terus ditingkatkan kapasitas dan kualitasnya oleh berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Indonesia. Salah satu ormas yang punya perhatian besar terhadap pengembangan pesantren adalah Hidayatullah. Pesantren yang dikelola oleh Hidayatullah tersebar di seluruh nusantara hingga daerah pedalaman.
Hidayatullah awalnya hanya sebuah pondok pesantren yang didirikan pada tahun 1973 oleh KH Abdullah Said. Pesantren Hidayatullah berdiri di atas lahan wakaf seluas 120 hektar di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur. Mulanya lokasi Gunung Tembak adalah hutan belantara dan rawa-rawa. Memulai dari nol dengan modal seadanya dan santri beberapa orang. Tapi keyakinan, kesabaran dengan kerja keras dan ibadah ikhlas menjadikan Hidayatullah seperti magnet membuat banyak santri dan jamaah berdatangan.
Dalam perkembangannya, KH Abdullah Said mengirimkan santri-santrinya untuk berdakwah ke berbagai daerah di seluruh Indonesia. Di tempat tugas yang baru, para santri Hidayatullah tak sekadar berdakwah, tetapi juga membangun cabang pondok pesantren Hidayatullah yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan.
Pada Musyawarah Nasional (Munas) Pertama Hidayatullah, 9-13 tahun 2000 di Balikpapan. Hidayatullah mengembangkan manajemennya menjadi organisasi kemasyarakatan (ormas) dan menyatakan diri sebagai gerakan dakwah dan perjuangan Islam. Kini Hidayatullah telah mengelola pesantren di 620 titik.
Dalam rangka hari santri nasional 2021, Wartawan LANGIT7.ID Muhajir berkesempatan berbincang dengan Ketua Departemen Kepesantrenan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah sekaligus Mudir Pesantren Hidayatullah Yogyakarta K.H. Syakir Syafi’i. Berikut kutipan wawancaranya:
Bagaimana Hidayatullah memaknai hari santri?Secara historis, Hari Santri tidak bisa dipisahkan dari sejarah dikeluarkannya Resolusi Jihad oleh KH. Hasyim Asyari pada tanggal 22 Oktober 1945. Resolusi tersebut dikeluarkan untuk mengusir tentara kolonial Belanda yang bermaksud untuk menjajah kembali Indonesia dengan cara membonceng tentara sekutu. Maka, hal terpenting dari peringatan Hari Santri di Pesantren Hidayatullah adalah, bagaimana peringatan Hari Santri tersebut dijadikan momentum untuk memupuk semangat jihad para santri dalam membela agama, bangsa dan Negara. Dalam pandangan Hidayatullah, tidak ada dikotomi antara agama dan tanah air, karena Islam mengajarkan bahwa cinta tanah air merupakan bagian yang otentik dari ajaran agama.
Baca Juga: Paparkan Sejarah Hari Santri, Ketua DDII: Pesantren Didirikan untuk Lahirkan Pejuang
Tema peringatan Hari Santri tahun 2021 yang ditetapkan oleh pemerintah adalah "Santri Siaga Jiwa Raga". Tema ini sangat tepat, bukan hanya dalam konteks bahwa santri harus waspada penuh atas terjadinya penularan covid-19, sebagaimana menjadi konsen pemerintah dan kita semua saat ini. Namun, yang lebih jauh adalah, bagaimana para santri senantiasa bersiap-siaga dan turut terlibat dalam upaya mengantisipasi segala bentuk bahaya yang mengancam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.
Bagaimana perkembangan pengelolaan pesantren di Hidayatullah? lalu ada berapa pesantren yang dikelola?Hidayatullah sebagai organisasi perkumpulan memberikan perhatian besar pada peningkatan kualitas pengelolaan Pesantren Hidayatullah yang tersebar di seluruh Indonesia. Di antara bentuk perhatiannya ialah adanya kebijakan standarisasi Pesantren Hidayatullah yang diatur dalam sebuah Peraturan Organisasi (PO). Dalam struktur Organisasi juga ada Departemen Kepesantrenan (Deptren) yang memiliki tupoksi langsung ke jaringan Pesantren Hidayatullah se-Indonesia. Departemen Kepesantrenan ini, bersinergi dengan Departemen Dikdasmen, Departemen Litbang-Dikti dan lain-lain, melakukan pendekatan kebijakan dan program-program yang mengarah pada suksesnya standarisasi Pesantren Hidayatullah secara nasional.
Saat ini, jaringan Pesantren Hidayatullah sudah ada di sekitar 620 titik. Dari jumlah tersebut, yang sudah ditetapkan statusnya (yang dalam istilah kami disebut 'Kampus', yaitu dengan kategori kampus induk, utama, madya dan pratama, jumlahnya sekitar 320 Pesantren. Yang lainnya masih berstatus perintisan.
Pesantren Hidayatullah menyelenggarakan berbagai jenis lembaga pendidikan: formal, non formal dan informal. Yang formal dimulai dari jenjang PAUD sampai PT. Saat ini juga tengah dipersiapkan pendirian universitas. Yang terpenting di semua jenjang tersebut adalah keberadaan asrama sebagai basis utama dalam pembentukan kepribadian santri yang kuat.
Bagaimana output pendidikan pesantren tersebut? seperti apa karakter santri yang diharapkan?Output pendidikan Pesantren Hidayatullah mengacu kepada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) di setiap jenjangnya, sebagaimana ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan, meliputi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Istilah umumnya: bertakwa, cerdas dan mandiri. Pesantren Hidayatullah memberikan muatan-muatan yang menjadi kekhasan dan sekaligus memberikan muatan keunggulan yang mungkin tidak didapatkan di lembaga lainnya.
Namun demikian, lulusan Pesantren Hidayatullah di berbagai jenjangnya, bila tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan dalam jaringan Pesantren Hidayatullah yang ada, insyaAllah juga bisa melanjutkan ke sekolah atau lembaga pendidikan mana saja yang diinginkan.
Alhamdulillah, lulusan Pesantren Hidayatullah banyak yang melanjutkan studi ke berbagai perguruan tinggi umum atau agama, baik di dalam maupun di luar negeri. Sebagian dari mereka sudah menyelesaikan studinya dan ikut berkiprah, memperkuat dan mengembangkan jaringan organisasi dan Pesantren Hidayatullah di seluruh nusantara.
Baca Juga: Terinspirasi Ki Hajar Dewantara, Pesantren Harus Jadi Sistem Pendidikan Nasional
Bagaimana karakter ideal santri menurut anda? siapa figur yang bisa dijadikan teladan?Karakter ideal santri secara umum dapat dirumuskan dengan dua istilah, yaitu
shalih (secara individual) dan
mushlih (juga shalih secara sosial). Secara individual, santri berakidah lurus sesuai dengan pemahaman
Ahlus Sunnah wal Jamaah, berakhlak qurani, serta beribadah dan beramal dengan tekun dan produktif. Kemudian, secara sosial, santri harus memiliki kepedulian dan tanggung jawab sosial yang baik juga, di mana hal itu ditunjukkan dengan tumbuhnya semangat berdakwah, kuatnya komitmen menegakkan yang ma'ruf dan menghentikan segala yang munkar. Dalam konteks keindonesiaan, karakteristik atau sifat-sifat ini sangat dibutuhkan dalam rangka menjaga dan membangun NKRI yang maju dan bermartabat.
Siapa figur yang bisa dijadikan teladan? Bagi umat Islam figurnya jelas, yaitu Rasulullah SAW. Sebagian umat yang biasa memperingati Maulid Nabi, tujuannya adalah bagaimana menjadikan beliau sebagai teladan yang paling ideal (uswatun hasanah). Setelah beliau, ada generasi sahabat, tabi'in dan tabiut tabi'in, di mana mereka ini merupakan generasi terbaik. Dalam konteks keindonesian, kita mengenal para ulama nusantara, dan sebagian dari mereka telah berjasa besar dalam perjuangan kemerdekaan, sehingga dianugerahi sebagai pahlawan nasional.
Namun, figur yang masih hidup dan sudah selayaknya menjadi teladan bagi santri adalah para kyai maupun ustadz yang menjadi pengasuh/guru/murabbi bagi para santri di pesantren. Dengan demikian, maka pendidikan di pesantren akan efektif, karena santri tidak hanya mendapatkan ilmu secara teoritis, tapi sekaligus mendapatkan contoh bagaimana ilmu itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari selama 24 jam.
Bagaimana cara santri berkontribusi untuk NKRI hari ini? Kira-kira persoalan bangsa apa saja yang bisa dijawab oleh santriDalam kedudukannya sebagai pelajar, kontribusi terpenting yang dapat diberikan oleh santri bagi NKRI adalah bagaimana ia belajar dengan sungguh-sungguh, menempa dan membiasakan diri dengan akhlak yang mulia, serta mengasah dan mengembangkan kompetensi kepemimpinan yang ada dalam dirinya. Karena, setiap santri yang saat ini sedang menempuh pendidikan di setiap jenjangnya, kelak ia akan menjadi pemimpin-pemimpin yang akan menentukan nasib bangsa di masa yang akan datang. Artinya, yang dibutuhkan oleh bangsa ini sejatinya bukan hanya generasi muda yang pintar dan terampil, tapi yang terpenting adalah sosok generasi muda yang berkarakter kuat: jujur, peduli dan bertanggung jawab.
Baca Juga: Agar Pesantren Tetap Optimal di Masa Pandemi, Gus Yahya Minta 4 Hal ke Pemerintah
Saat ini bangsa Indonesia menghadapi persoalan kehidupan kebangsaan yang berat. Di kalangan pelajar atau mahasiswa, banyak dari kalangan mereka ini yang terjebak pada pemikiran menyimpang, misalnya sekularisme, pluralisme dan liberalisme. Padahal MUI sudah dengan tegas mengharamkannya. Begitu juga dengan munculnya gerakan kiri (neo-PKI) yang ditengarai oleh banyak ahli telah bergerak dengan masif. Selain itu, di kalangan usia mereka ini juga banyak yang terjerat narkoba, terpapar pornografi dan pornoaksi, bahkan ada juga yang terperangkap pada gerakan LGBT. Karena itu, ketika para santri atau pelajar pada umumnya bisa terbebas dan terjauhkan dari berbagai bahaya tersebut, hal itu sudah merupakan jawaban kontributif santri bagi bangsa ini.
Wallahu A'lam bish-shawab.
(jqf)